Minggu, 31 Maret 2019

Mari Berbagi, Karena Berbagi Tidak Akan Membuat Kita Rugi


Suatu pagi, saya baru saja selesai memasak ketika tetiba gawai saya berbunyi. Adik saya menghubungi, intinya dia minta tolong saya untuk membantu mendampingi anaknya (yang berarti keponakan saya) belajar matematika. Sebentar lagi keponakan saya akan menempuh ujian akhir tingkat SD. Dan karena kesibukannya, adik saya tidak bisa mendampingi anaknya belajar secara intensif. Saya pun menyanggupi. Pikir saya, ah cuma pelajaran SD pasti mudah saja. Terlebih saya dulu lama bekerja di sebuah bimbingan belajar di kota Jogja, bahkan dipercaya sebagai pengelolanya. Jadi masalah kurikulum dan bedah kisi dulu menjadi keseharian saya. Tapi, itu terjadi sudah cukup lama, sekitar 5 tahun yang lalu...😀

Di hari yang disepakati berangkatlah saya ke rumah keponakan untuk mendampinginya belajar sekaligus silaturahmi. Dan setelah basa-basi, pelajaranpun dimulai. Awalnya semua lancar saja, soal-soal bisa saya jelaskan cara penyelesaiannya dengan mudah. Hingga kemudian sampailah kami ke soal yang membahas tentang perbandingan bertingkat. Dalam soal diketahui perbandingan umur bapak dengan ibu, dan perbandingan umur bapak dengan anak. Kemudian diketahui jumlah umur ketiganya, maka selisih usia ibu dan anak adalah berapa.

Agak lama saya berhenti di soal ini. Meskipun akhirnya saya bisa menyelesaikan, tetapi saya sempat deg-degan juga. Khawatir tidak bisa menyelesaikan, karena pasti saya akan malu sekali, seorang sarjana eksakta dari universitas negeri di Jogja tidak bisa mengerjakan soal matematika untuk kelas 6 SD. Apa kata dunia...😅 hihi.  

Cerita di atas sekedar sharing pengalaman saja. Betapa ilmu yang kita miliki jika tidak kita gunakan salah satunya dengan cara diajarkan kepada orang lain bisa hilang. Membagi ilmu yang kita miliki adalah salah satu cara paling mudah untuk meningkatkan kemampuan diri sekaligus menabung kebaikan dengan cara yang gampang. Karena sebaik-baiknya ilmu adalah yang diamalkan, dan sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Dan tidak jarang berbagi itu dapat membuka peluang.

Seperti cerita saya di atas. Niat awal saya adalah mendampingi belajar ponakan, tetapi akhirnya banyak orang tua dari teman-teman keponakan yang meminta saya untuk mendampingi anak-anaknya belajar. Dan untuk itu mereka mau memberikan imbalan. Lumayan kan? Itung-itung untuk mengisi waktu luang dan menyalurkan hobi mengajar yang lama saya tinggalkan. Itulah salah satu contoh kecil hikmah atau kebaikan berbagi yang saya alami.

Berbagi Ala Ibu Rumah Tangga
Sering kita merasa kecil hati, menjadi ibu rumah tangga akan mengurangi kesempatan kita untuk berbagi. Apalagi bagi ibu rumah tangga full time yang tidak punya penghasilan. Padahal sebenarnya berbagi tidak harus berupa materi. Berbagi pengetahuan dan keterampilan juga merupakan salah satu cara berbagi.

Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti kita tidak bisa berbagi. Dengan keahlian yang kita punya, kita tetap bisa menebar kebaikan. Berikut 3 contoh berbagi ala ibu rumah tangga yang bisa kita lakukan :

1. Berbagi makanan
Umumnya ibu-ibu, memasak adalah salah satu  keahlian kita. Nah, berbagi makanan dalam hal ini adalah nasi bungkus adalah salah satu kebiasaan yang bisa dilakukan. Menunya sama saja dengan hidangan yang dimakan keluarga. Jumlah porsi yang dibagi disesuaikan dengan kemampuan.

2. Ikut Bazar Barang Bekas
Beberapa komunitas sering mengadakan event ini. Kita bisa bergabung untuk turut berpartisipasi. Kegiatan ini bagus juga lho...untuk mengurangi barang-barang yang masih layak pakai menumpuk di lemari atau gudang kita.  Harga yang dibandrol yang murah meriah saja. Nanti uang terkumpul bisa kita donasikan ke yayasan atau panti asuhan.

3. Berbagi keahlian memasak
Nah, bagi yang pintar memasak, bisa lho berbagi resep masakan. Atau melakukan kegiatan memasak bersama. Siapa tahu keahlian yang kita tularkan bisa menjadi jalan orang lain dalam mencari rejeki.

Jadi memang sudah seharusnya kita tidak takut berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita rugi. Karena setiap kebaikan yang kita berikan, meskipun hanya sebesar biji sawi, tetap akan diperhitungkan oleh Allah S.W.T.
***
Berbagi Bersama Dompet Dhuafa
Masih kaitannya dengan semangat berbagi, belum lama ini tepatnya pada hari Senin, 25 Maret 2019 berlokasi di Mezzanine Yogyakarta saya mengikuti sebuah event menarik dan sangat menginspirasi yakni peluncuran program #jangantakutberbagi dari Dompet Dhuafa.

Doc.pri
Program ini dilatar belakangi adanya fakta bahwa belum semua potensi zakat yang ada di Indonesia dapat direalisasi. Sebagaimana paparan yang disampaikan oleh  Bapak Bambang Edi Prasetyo, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Yogyakarta dalam Laporan Tahunan Dompet Dhuafa tahun 2018 yang menyatakan bahwa jumlah potensi zakat masyarakat Indonesia di tahun 2018 adalah sebesar 17 trilliun per tahun, namun yang terealisasi melakukan zakat baru 6-8 trilliun per tahun.

Pak Edy menyampaikan paparannya (doc.pri)
Padahal kewajiban mengeluarkan zakat jelas ada dalam Al -Qur'an, sebagaimana dinyatakan dalam QS. Al-Baqarah: 43 yang artinya : "Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama dengan orang-orang yang ruku’.” 

Hal ini mengindikasikan bahwa masih ada keraguan di kalangan masyarakat untuk membayarkan zakatnya. Bisa jadi karena khawatir dananya disalahgunakan atau tidak sampai ke tangan yang berhak, bisa juga karena masih merasa harta yang dimilikinya belum cukup, sehingga belum mau mengeluarkannya. Padahal zakat itu selain mensucikan juga menumbuhkan.

Oleh karenanya jelang bulan ramadhan ini, Dompet Dhuafa bermaksud menebarkan virus kebaikan melalui program #jangantakutberbagi. Program ini bertujuan untuk memotivasi masyarakat agar lebih peduli dan mau berbagi sesuatu yang dimiliki.

Ibu Suci menjelaskan tentang program #jangantakutberbagi (doc.pri)
Dalam event ini sengaja dihadirkan pegiat media sosial yakni Hanggini,  Dhini Andromeda, dan Oghel Zulfianto yang berprofesi sebagai yutuber dan influencer. Mereka hadir untuk mengisahkan pengalaman-pengalaman mereka dalam berbagi dan menebar kebaikan melalui komunitas maupun media sosial.

Mas Oghel, tengah berbagi pengalaman (doc.pri)
Sedangkan untuk keraguan mengenai kredibilitas Dompet Dhuafa sebagai salah satu lembaga pengelola wakaf, zakat, infak, dan sedekah yang bisa dipercaya, Dompet Dhuafa punya jawabannya...penasaran seperti apa? Simak cerita saya..

Tentang Dompet Dhuafa
Dompet Dhuafa adalah lembaga filantropi Islam yang berkhidmad dalam pemberdayaan kaum dhuafa dengan pendekatan budaya melalui kegiatan filantropis dan wirausaha sosial profetik.

Lembaga ini mengelola wakaf, zakat, infak, dan sedekah. Dalam memberi bantuan kepada penerima manfaat, Dompet Dhuafa tidak hanya memberi bantuan berupa modal tapi juga pendampingan teknis sesuai kebutuhan penerimanya.

Kinerja dompet duafa (sumber : swara cinta edisi 96, Februari-Maret 2019)
Program pemberdayaan ekonomi yang dimiliki Dompet Dhuafa terbukti mampu mengangkat derajad dari para penerima manfaat. Karena Dompet Dhuafa memiliki program unggulan Muztahik Move to Muzaki (MMM), dimana diharapkan penerima manfaat (muztahik) bisa menjadi pemberi zakat (muzaki).

Penghimpunan dan penyaluran dana Dompet Dhuafa (sumber : Swara Cinta, edisi 96 Februari-Maret 2019) 

Sebaran Sektor penerima manfaat (sumber : Swara Cinta, edisi 96 Februari-Maret 2019)
Dalam event launching program #jangantakutberbagi bersama bloger dan media yang diselenggarakan Dompet Dhuafa ini, hadir pula salah seorang penerima manfaat Program Pemberdayaan Ekonomi Dompet Dhuafa, yakni Mas Alan Efendi. 

Mas Alan menyampaikan kisahnya (doc.pri)
Mas Alan adalah seorang tokoh pemuda Gunung Kidul yang berhasil memberdayakan masyarakat di desanya dengan mengembangkan pengolahan Aloe Vera menjadi berbagai macam produk seperti dodol, minuman, dan kripik di  bawah naungan UD Mount Vera Sejati. Dari usaha ini Mas Alan berhasil mengubah posisi dari penerima manfaat, menjadi wajib zakat.

Produk dari UD Mount Vera Sejati (sumber : ig rv_aloeindustries)
Cerita sukses dari Mas Alan ini salah satu contoh saja. Masih banyak cerita-cerita sukses yang bermula dari pendampingan ekonomi yang dilakukan Dompet Dhuafa. Termasuk juga cerita dari Dusun Plosorejo, Umbul Harjo, Cangkringan, Sleman yang berlokasi di lereng Merapi yang kemarin juga sempat kami kunjungi.

Mendengar cerita Mas Dani pendamping desa binaan Dompet Dhuafa di Dusun Plosorejo (doc.pri)
Dusun ini pada tahun 2010 terkena dampak erupsi Merapi dan masuk zona kuning. Meskipun bangunan secara fisik utuh, namun kegiatan ekonomi masyarakatnya lumpuh. Sehingga berdasar survey yang dilakukan Dompet Dhuafa menjadikan desa ini sebagai desa binaan program pemberdayaan ekonomi masyarakat, yakni melalui usaha pemeliharaan sapi perah di tahun 2012. 

Awalnya diberikan bantuan 10 ekor sapi perah. Memang bukan sesuatu yang mudah untuk meyakinkan masyarakat dusun Plosorejo untuk mau memeliharanya. Terlebih awalnya mereka lebih familiar memelihara sapi potong. Sehingga tadinya mereka hanya mau memberi makan, tetapi tidak mau memerah susunya. Bahkan dari 10 ekor yang diberikan 1 ekor mati.  Namun dengan kerja keras dari Mas Dani, pendamping dari Dompet Dhuafa akhirnya masyarakat menerima dan bersemangat memelihara sapi perah, sehingga progres produksi susu dari tahun ke tahun meningkat.

Mencicipi susu segar dan camilan di dusun Plosorejo (doc.pri)
Akhirnya ditahun 2015 jumlah sapi perah di dusun ini mencapai 30 ekor, dan berdasar evaluasi dari Dompet Dhuafa, dusun ini kemudian diberi program MMM (Muztahik Move to Muzaki) dengan diberi tambahan bantuan 70 ekor sapi. Dan saat ini jumlah sapi perah di desa ini mencapai lebih dari 200 ekor, dengan rata-rata 1 orang dalam kelompok binaan tersebut mememelihara 13 ekor sapi. Dampak positif perubahan ekonomi  warga dusun ini jelas kentara. Desa yang masyarakatnya semula kehilangan mata pencahariannya kita bangkit dan menjelma menjadi sebuah desa mandiri dan menjadi desa wisata edukasi sapi perah yang banyak memperoleh kunjungan dari luar daerah.

Melihat salah satu kandang sapi di dusun Plosorejo (doc.pri)
Dua cerita sukses dari para penerima manfaat dari Dompet Dhuafa ini mudah-mudahan menginspirasi, dan semoga semakin banyak lagi masyarakat miskin berpotensi yang memperoleh manfaat melalui program pemberdayaan ekonomi dari Dompet Dhuafa ini, sehingga dapat meningkatkan derajad hidupnya.

Dan mari kita turut berperan serta mewujudkannya dengan menyalurkan donasi atau zakat kita ke Dompet Dhuafa. Karena Dompet Dhuafa menjadikan "berbagi" yang kita lakukan menjadi lebih mudah, bermanfaat, dan bermakna.

Jangan takut berbagi ya...(doc.pri)
Apalagi untuk berdonasi di Dompet Dhuafa sangat mudah, semudah menggerakkan jari. Karena bisa kita lakukan secara online dengan berbagai metode pilihan pembayaran dan kitapun bisa memilih jenis serta jumlah donasi yang akan kita lakukan.

Tampilan pembayaran via online


Ada berbagai pilihan cara pembayaran

Jadi #jangantakutberbagi bersama Dompet Dhuafa. Karena bersama Dompet Dhuafa, kita akan terlibat dalam mengentaskan kemiskinan dan upaya membangun bangsa Indonesia untuk lebih maju. Berbagi juga akan menjadi lebih bahagia, karena melihat banyak senyum dari para penerima manfaat yang menjadi lebih mandiri dan berdaya karena bantuan yang telah kita berikan. 

Selain itu, Dompet Dhuafa memberikan laporan rutin dan update informasi yang transparan yang memberikan kita keyakinan bahwa apa yang tah kita bagikan bukan hanya menuntaskan kewajiban tetapi benar-benar tepat sasaran. Jadi yuk, tunggu apa lagi, mulai hari ini dan seterusnya mari kita tularkan semangat #jangantakutberbagi di seluruh pelosok negeri.

Salam...

Catatan :
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa





Kamis, 14 Maret 2019

Berkenalan Dengan Menu Baru Di Ibar dan Ibis Kitchen Malioboro Yogyakarta

"I get way too much happiness from good food"
Aku mendapatkan terlalu banyak kebahagiaan dari makanan enak. (Elizabeth Olsen)

Saya sepakat dengan pendapat di atas. Tidak bisa dipungkiri makanan yang enak bisa menjadi sebab membaiknya mood kita. Bahkan saya pribadi meyakini hidangan lezat menjadi kunci berkesan tidaknya kenangan kita terhadap suatu tempat yang kita datangi. 

Sehingga tidak mengherankan untuk menarik dan mengikat agar pelanggan datang dan terkesan, sebuah hotel atau penginapan memberikan perhatian khusus terhadap hidangan yang disajikan. Terlebih untuk saat ini kebiasaan ngobrol dan kongkow bareng teman sambil makan sudah jamak dilakukan. 

Food blogger dan media gathering (doc : pak sukino)
Hal ini juga yang menjadi pertimbangan dari Ibis Kitchen dan Ibis Bar (Ibar) dengan melaunching menu baru untuk membidik trend pebisnis dan kawula muda untuk mengadakan pertemuan dengan santai namun serius di tempat yang cozy dan hits dengan berbagai spot yang instagramable dengan hashtag #ibismalioboro atau #ibisyogyakartamalioboro. 

Hal tersebut diungkapkan Bapak Nanang Sumardjono wakil dari Ibis Yogyakarta di acara media dan bloger gathering yang dilaksanakan pada hari Selasa, 12 Maret 2019 lalu dan kebetulan saya menjadi salah satu food bloger yang mengadirinya. 

Ibis Bar and Relationship terletak di lantai dua memiliki interior dengan konsep unik, yakni semi outdoor dan modern berpadu dengan sentuhan klasik sehingga memberikan atmosfer yang berbeda. Untuk menambah kenyamanan, pengunjung Ibar and Relationship dihibur dengan regular music dan DJ deep house music.

Ibis hotel memang sedang berbenah agar pelanggan semakin betah. Lokasinya yang strategis salah satunya dekat dengan pedestrian malioboro menjadi nilai tambah dari hotel ini. Dan saat ini Ibis berusaha untuk memberikan kemudahan kepada pelanggan dengan melakukan perubahan pada lobby hotel yang langsung terkoneksi dengan Mall Malioboro. 

Hidangan Baru di Ibar dan Ibis Kitchen
Lidah adalah indra yang bisa mengungkapkan aneka rasa. Puas tidak puas, enak tidak enak, semua bisa diungkapkan lewat lidah. Oleh karenanya urusan memanjakan lidah apalagi ketika kita sedang bepergian atau liburan adalah sangat penting untuk memperoleh perhatian.

Menu baru di Ibis Kitchen & Restaurant (doc.pri)
Berawal dari banyaknya tamu hotel yang mencari hidangan olahan bebek, akhirnya terciptalah menu baru di hotel ini, yakni bebek goreng manalagi resep racikan dari chef Eka Surjawigena yang dibandrol dengan harga Rp. 65.000,- lengkap dengan nasi, sambal, kremes dan lalapan, serta es teh. 

Bebek Manalagi (doc.pri)
Selain itu gaya anak muda sekarang yang senang makan sesuatu yang cepat dan praktis memberi ide untuk menyajikan menu yang lezat, murah, dan bisa kenyang tahan lama. Sehingga lahirlah sandwich favorito. Sandwich berukuran raksasa lengkap dengan isian yang menggugah selera. Masih ditambah dengan kentang goreng yang membuat kenyangnya awet. Cukup merogoh kocek Rp. 35.000,- saja, sandwich inipun bisa dinikmati berdua. 

Sandwich favorito (doc.pri)
Untuk minumnya, tersedia milky yuzu, minuman terbuat dari susu fermentasi ditambah sari buah jeruk dan sedikit soda yang sudah pasti sehat dan menyegarkan. Minuman ini dibandrol dengan harga Rp. 25.000,- saja. 

Milky yuzu (doc.pri)
Bagi yang ingin bersantai bareng teman-teman, menikmati datangnya senja, Ibar dan Ibis Kitchen Restaurant Ibis Malioboro Yogyakarta menyediakan paket special barbeque cukup dengan harga Rp. 89.999,- per porsi dengan minimal order 20 pax saja.

Kemarin saya juga berkesempatan mencicipi menu berbeque ini. Ditemani dengan nasi mentega dan jagung manis rebus dengan saus susu, sungguh yummy sekali.

Berbeque dan nasi mentega (doc.pri)
Hidangan pembuka berupa salad dan pizzanya juga lezat. Salad ala mediterania dengan potongan keju asin, buah zaitun, pickle, daging ikan tuna, dan sayuran lain sangat menyegarkan dan menggugah selera.

Pizza dan salad ala mediterania (doc.pri)

Pencuci mulut (doc.pri)
Selain itu bagi anda pecinta kopi, sajian dari "Molinari coffee" siap menemani. Dengan aneka sajian kopi mulai dari Rp 35.000,- nett per cup, teman-teman bisa menikmati kopi spesial dari Italia dengan biji kopi pilihan Arabica 35% dan robusta 70% serta paduan dari biji kopi Brazil & Jamaica. Semua bisa teman-teman nikmati di Ibar & Ibis Kitchen Restaurant yang buka setiap hari dari pukul 08.00-24.00. 

Jadi yuk tunggu apalagi, nikmati hari dan hilangkan penat diri bersama sajian istimewa dari Ibar & Ibis Kitchen Restaurant yang beralamat di Jalan Malioboro Suryatmajan Yogyakarta, persis di belakang Mall Malioboro.