Senin, 05 Desember 2016

Menikmati Lezatnya Ayam Goreng Kampung dan Jerohan Sapi di Kebon Ndelik

Hai moms..

Mau cerita tentang ragam kuliner yang ada di Jogja lagi nih... Kali ini saya mau berbagi pengalaman mengenai tempat makan yang punya hidangan spesial ayam goreng kampung dan jerohan sapi. Tempat makan ini bernama rumah makan Kebon Ndelik. Unik kan namanya? Kebon artinya kebun, sedangkan ndelik artinya sembunyi. Jadi kebon ndelik itu kalau dalam bahasa Indonesia artinya kebun yang tersembunyi.

Sesuai namanya, resto ini memang tersembunyi. Letaknya berada di balik sebuah bangunan besar yang berada di jalan Bausasran 52 Yogyakarta. Saya dan keluarga sampai di lokasi sekitar pukul 15.30, suasana resto tampak sepi, maklum hujan baru saja reda. Resto ini cukup nyaman, tempat parkirnya juga luas. Bangunan utama merupakan sebuah joglo dengan sejumlah meja dan kursi yang ditata sebagai tempat makan.
Joglo Kebon Ndelik

Interior dalam Joglo Kebon Ndelik
Di Kebon Ndelik, kita bisa memilih mau makan di kursi atau di lesehan. Kalau menghendaki lebih privacy, di bagian belakang terdapat bangunan yang di tata seperti suasana warung kopi. Ada pula bangunan berbentuk rumah panggung yang bisa dipakai kalau kita datang berombongan dan ingin menikmati suasana yang beda dari atas.

Lesehan
Karena ingin lebih menikmati suasana, akhirnya kami mengambil tempat di bangunan sederhana yang ditata ala warung kopi. Sebuah meja berbentuk segi empat dengan 6 buah kursi yang ditata berkeliling terdapat di bangunan tersebut. Di bagian depannya diletakkan sebuah kursi panjang, untuk duduk-duduk menikmati suasana sambil menunggu hidangan datang. Di sisi kiri dari bangunan terhampar sebuah taman berumput hijau yang asri. Cocok untuk sekedar berfoto untuk kenang-kenangan.

Berikut gambaran suasana di Kebon Ndelik :
Gazebo berbentuk warung kopi

Serambi depan
Taman
Taman
Seperti tadi sudah saya sampaikan, Kebon Ndelik menawarkan menu ayam goreng kampung dan aneka jerohan sapi, mulai dari paru, iso, babat, limpo, dan lidah. Balungan sapi juga ada. Dan kali ini menu yang saya pilih adalah paha atas goreng, iso goreng, nasi putih, sambal bawang beserta lalapan.

Sebagai pelengkap saya memesan terong krispi, tahu dan tempe, serta jeruk nipis anget sebagai minumnya. Cukup cepat juga penyajiannya. Tidak lebih dari 15 menit semua hidangan telah tersaji, dan siap dinikmati..


Berikut reviewnya..
# Paha atas atau gendhing gorengnya lumayan besar. Tersaji di atas piring berwarna hijau. Tampilannya sederhana, tapi rasanya istimewa. Bumbunya meresap dengan sempurna, dagingnya empuk dan mois, tidak kering. Sangat cocok dimakan dengan nasi putih anget dicocol sambal bawang yang pedas.

#Nasi putihnya lumayan pulen, dengan porsi sedang yang mengenyangkan.

# iso gorengnya sedap sekali, empuk dan gurih. Tidak alot dan sudah terpotong kecil-kecil sehingga mudah menikmatinya.

# Untuk tahu dan tempe gorengnya matang sempurna. Berwarna kuning keemasan, dengan aroma bawang yang menggoda.

# Untuk terong krispinya tidak kalah lezatnya. Satu porsi cukup untuk 2 orang. Kriuk dan gurihnya pas. Ada sedikit rasa manis disetiap gigitannya. 

Secara keseluruhan hidangan di Kebon ndelik memuaskan, apalagi harganya juga bersahabat. Tempat makannya juga bersih dan nyaman. Harga ayam goreng per potong hanya 14rban, aneka jerohan mulai 9rban, menu pelengkap seperti tahu, tempe, aneka sayur dihargai 5rban per porsi, sambal bawang atau sambal trasi mentah cuma 3rban. Untuk minuman harga mulai 2rban. Lumayan murah dan meriah kan?
Menu warung Kebon Ndelik

Ingin ke sini juga? Ini saya berikan petunjuk arahnya.

Dari jembatan layang Lempuyangan lurus ke arah selatan sampai ketemu lampu merah perempatan Gayam. Kemudian belok ke arah barat kurang lebih 100 meter kiri jalan, ada spanduk bertuliskan kebon ndelik, masuk saja, karena anda sudah sampai di tujuan. Dan selamat menikmati hidangan lezat nan murah di sana..

Baca juga :
Menikmati Menu Tradisional dalam Suasana Kolonial

Jumat, 25 November 2016

Honje Resto

Hai moms..

Rabu sore kemarin, cuaca Jogja lumayan cerah, tidak diguyur hujan seperti biasanya. Sepertinya semesta ikut mendukung rencana pertemuan saya dengan seorang kawan SMA yang kebetulan baru ada tugas di Jogja dan ingin kumpul-kumpul dengan kami-kami yang masih stay di Jogja. Pertemuan seharusnya dilaksanakan hari Selasa tetapi tertunda karena cuaca.

Bagi saya, kopdar ini semacam hadiah kecil yang diberikan Tuhan kepada saya karena beberapa hal bisa selesai sekaligus. Nengokin teman yang baru punya baby, kumpul nyambung silaturahmi dan yang pasti mencicipi hidangan kegemaran, yakni aneka olahan dari bunga kecombrang aka honje di tempat yang lumayan kece yakni Honje Resto.

Sudah lama saya ingin mencicipi hidangan kecombrang ala Honje Resto setelah sebelumnya sudah pernah mencoba nikmatnya olahan kecombrang di Mak Combrang. Sayangnya suami tidak terlalu suka dengan aroma kecombrang. Sehingga keinginan untuk ke Honje resto ditunda untuk waktu yang tidak ditentukan, he..he..he....

Restoran bernuansa putih ini hadir di kota Jogja sekitar tahun 2015 dan menjadi satu dengan showroom tas merk Dowa. Menempati bangunan tempo dulu, restoran ini menawarkan suasana makan yang asyik, perpaduan antara menu makanan yang unik dan tempat makan dengan desain interior yang apik yang cocok untuk berfoto. Terletak di sebelah barat selatan tugu Jogja, tepatnya di Jalan Margo Utomo 125, restoran ini juga menawarkan view berlatar belakang tugu Jogja yang menawan.
Latar belakang tugu jogja yang menawan

Sekitar pukul 19.30 WIB saya sampai di sana. Menapaki tangga menuju ke restonya. Yang menonjol dari interior bagian dalam resto adalah ubin lantai yang warna-warni dan hiasan bunga kecombrang yang terdapat di setiap meja. Bunga kecombrang yang punya nama ilmiah Etlingera elatior adalah sejenis tumbuhan rempah dan merupakan tumbuhan tahunan berbentuk terna yang bunga, buah, serta bijinya dimanfaatkan sebagai bahan sayuran. Nama lainnya adalah kincung (Medan), kincuang dan sambuang (Minangkabau) serta siantan (Malaya). Orang Thai menyebutnya daalaa. Di Bali disebut kecicang sedangkan batang mudanya disebut bongkot dan keduanya bisa dipakai sambal matah (wikipedia). Ketertarikan dan kecintaan saya terhadap kecombrang sudah pernah saya ceritakan di sini. Di Jogja bunga ini susah sekali ditemui.

Setelah ngobrol dan berbasa-basi sebentar, tiba saatnya kami memilih menu untuk bersantap. Saya sendiri memilih salad honje, nasi campur honje dan wedang sereh. Teman saya yang lain ada yang memilih nasi goreng honje, fish chip honje, salad tuna honje, sup iga dengan minuman ice coffee latte dan ice coffee hazelnut. Sedang untuk hidangan pembuka, kami memilih churos dan tahu cabai garam. Agak lama menunggu menu dihidangkan. Dan sebenarnya ini waktu yang cocok untuk eksplor ruangan di honje resto. Tetapi karena saya lagi malas gerak, saya hanya jepret-jepret sekenanya.

Suasana cozy honje resto (doc pri)
Bunga honje, menjadi pajangan di setiap meja (doc pri)

Setelah menunggu selama beberapa waktu, akhirnya pesananpun datang.
# Untuk wedang sereh, disajikan dalam teko dan cangkir kecil dilengkapi dengan gula batu dan irisan jeruk nipis. Rasa manisnya pas, tambahan perasan jeruk nipis di dalamnya memberikan efek rasa segar dan hangat. Sangat cocok diminum di malam yang dinginnya mulai terasa.
Wedang sereh (doc instagram @honjeresto)

# Setelah itu saya coba mencicipi salad honjenya.
Salad hinje (doc instagram @honjeresto)

Tadinya sempat mengira kalau isinya bunga honje yang diiris halus dan diberi dressing olive oil dan campuran kacang yang pernah saya nikmati rasanya di vietnam dulu. Tetapi ternyata yang ini berbeda. Salad honje ini isinya campuran buah dan sayur yang dipotong-potong dan diberi taburan kacang almond. Honjenya sendiri tidak menjadi bahan utama dari saladnya. Hanya dressingnya yang menggunakan campuran olive oil dan syrup honje berasa manis berwarna merah. Secara rasa menurut saya monoton. Hanya manis saja. Sensasinya berbeda jauh dengan salad honje yang pernah saya coba dulu yang ada cita rasa asam dari honje, dan gurih lezat dari kacang dan dressingnya.

# Untuk menu pembuka berupa tahu cabe garam, rasanya enak.
Tahu cabe garam (doc instagram @honjeresto)

Pedas dan gurih. Taburan irisan cabai hijau dan merah di atasnya sangat menggugah selera untuk dicoba. Serasa tidak bisa berhenti menikmatinya.

# Churosnya juga lumayan lezat. Tidak kemanisan dan empuk.
Churos (doc instagram @honjeresto)

Dihidangkan dengan taburan gula halus bersama saus coklat dan es krim vanila.

# Untuk nasi campur honje, dari penampilannya terlihat menggoda.
Nasi campur honje (doc instagram @honjeresto)

Banyak sekali lauknya. Ada sate lilit, oseng daging, ayam suwir honje, telur ceplok, kering teri, sambal, ca brokoli, dan kerupuk. Penuh sekali piringnya. Nasinya pulen dan wangi. Untuk ayam suwir honje,menurut saya kurang menonjol rasa dan aroma honjenya. Sate lilitnya empuk, lezat sekali. Apalagi dicocol saus tartar (saya nyolek punya teman yang order chip fish). Untuk dagingnya menurut saya rasanya terlalu manis. Demikian juga dengan kering terinya. Untuk penyuka cita rasa honje, unsur honje dalam hidangan ini kurang nendang. Mungkin sebaiknya menu yang dipilih nasi ayam honje saja. Sehingga rasa honje tidak bercampur dengan cita rasa hidangan lain. Secara keseluruhan nasi campur honje lezat, poin 7,5 lah..buktinya saya habis...hanya menyisakan sedikit remahan lauk dan sambal. Dan hasilnya saya pun kekenyangan..
Sisa-sisa hidangan yang tersaji (doc pri)

Obral-obrol (doc pri)

Demikian sekilas review saya tentang pengalaman makan malam di honje resto. Untuk kisaran harganya,ya lumayan.. Tetapi worth it lah untuk suasana makan yang ditawarkan.

Untuk menu pembuka sekitar 40rban
Aneka Minuman mulai 20rban
Menu utama mulai 50rban.

Penasaran juga? Yuk mampir...
* maaf untuk foto hidangan saya ambil dari instagram @honjeresto, soalnya kemarin karena keburu kalap, hidangan langsung diserbu.tanpa didokumentasikan dulu..he..he..he..

Baca juga :
Bakso Halal di Jogja

Sabtu, 12 November 2016

Menjelajahi Cita Rasa Olahan Tempe Modern melalui Acara "Tempe Dinner Experience"

Tanggal 9 November lalu, saya berkesempatan menjadi salah satu partisipan dalam kegiatan pengambilan data penelitian yang dilakukan Dwi Larasati Nur Fibri yang tengah menjalani studi S3 di University of Copenhagen Denmark jurusan Food Science.
Tempe dinner experience (doc pri)
Kegiatan pengambilan data penelitian yang diberi tajuk "Tempe dinner Experience" ini merupakan kerjasama UGM, Gadjah Wong resto, Nordic Food Lab, dan Copenhagen University yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara manusia dengan makanan dalam konteks gastronomi (warisan kuliner) dengan tempe sebagai bahan utamanya. Bertempat di Gadjah Wong Resto yang berlokasi di Jl Afandi Jogja.

Tempe dipilih karena sudah diakui dunia sebagai makanan khas Indonesia yang berasal dari Jawa, khususnya Jogja.

Dalam acara ini, para peserta diminta untuk menikmati aneka menu olahan tempe yang diolah.dan disajikan secara modern, dan memberikan evaluasinya dengan mengisi kuesioner yang diberikan. Berbagai hidangan berbahan baku tempe ini disajikan secara set menu, yang terdiri dari 2 hidangan pembuka, 2 hidangan utama, dan 2 hidangan penutup, yang disajikan satu persatu secara berurutan. Sehingga nanti total ada 6 hidangan yang dinilai.

Acara dimulai pukul 19.00 dan selesai pukul 22.00 WIB. Waktu 3 jam yang diberikan cukup memberikan waktu bagi para peserta Tempe Dinner Experience menikmati hidangan dengan leluasa sehingga bisa mengisi kuesioner dengan baik. Untuk setiap hidangan, kami harus memberikan penilaian yang terdiri dari uji sensoris yang meliputi rasa, tekstur dan aroma dari makanan, collative properties, dan emotion. Untuk 2 penilaian yang terakhir lebih kepada unsur perasaan dan emosi sehingga agak absurd untuk dijelaskan, jadi nanti saya cerita yang penilaian berdasar uji sensori saja.

Oh ya, dalam lembar evaluasi, kami juga diminta untuk memilih kisaran harga dari menu yang disajikan tersebut dan juga pendapat apakah hidangan tersebut layak disajikan di resto fine dining seperti Gadjah wong Resto atau tidak.

Sedikit informasi mengenai restoran tempat diselenggarakannya kegiatan. Gadjah Wong resto adalah restoran mewah yang menggabungkan unsur tradisional dan modern dalam desain tata ruangnya.

Memiliki 3 ruang  yang ditawarkan untuk bersantap, yakni ruang bebek, ruang gajah dan ruang kura-kura. Setiap ruang memiliki perbedaan dari sisi hiburan yang ditampilkan. Ruang bebek menyajikan hiburan musik jazz dan klasik, ruang gajah, menampilkan musik latin dan suasana kolonial Belanda, sedangkan ruang kura- kura menampilkan nuansa tradisional Jawa dengan dekorasi etnik dan iringan gamelan sebagai hiburannya.

Sebenarnya banyak yang bisa dieksplorasi dari Gadjah Wong Resto dari sisi desain interior dan penataan tamannya. Sayangnya saat itu hujan turun dengan deras, jadi saya tidak bisa berkeliling melihat-lihat suasana.

Kegiatan tempe dinner experience kemarin digelar di ruang kura-kura. Sekitar 50an orang mungkin yang hadir dalam acara tersebut. Seluruh meja yang disediakan tampak penuh. Sambil menunggu acara dimulai, saya duduk di meja yang disediakan sambil menikmati welcome drink berupa cold lemongrass and ginger fussion (minuman dingin dari sari jahe dan daun sereh). Rasanya manis, hangat, dan segar. Cocok sekali dengan cuaca malam itu yang dingin karena guyuran hujan.


Sekitar pukul.19.00 WIB acara dimulai, diawali dengan pengenalan dari si empunya acara dan dilanjutkan penjelasan mengenai tata cara pengisian kuesioner. Setelah itu hidangan mulai disajikan satu-persatu, berikut berbagai sajian yang saya nikmati...

* Menu pembuka, sebagai appetizer disediakan 2 macam hidangan pembuka,  yaitu :
1. Spring roll filled with local soybeans tempe ( lumpia isi tempe lokal).
Spring roll filled local soybean tempe (doc pri)
Hidangan ini berupa lumpia yang diberi isian tempe yang dipotong kecil-kecil dan disajikan bersama saus sambal. Ketika digigit, renyahnya kulit lumpianya terasa krezz, cruncy sekali. Rasa khas dari tempe langsung terasa oleh saya, rasa gurih khas kedelai. Aroma tempe juga tercium. Dari sisi cita rasa menurut saya tidak banyak berbeda, rasa tempenya dengan cepat saya kenali. Tetapi dari sisi tampilan lumayan mengundang selera untuk dicoba.
Jika harus memberi nilai dari skala 1-10, hidangan ini saya beri nilai 7. Dengan kisaran harga yang saya sarankan 11rb -15rb rupiah.

2. Imported soybean tempeto on root and leaf (Tempeto kedelai import di daun dan akar)
Unik sekali bukan namanya? seunik rasa dan penampilannya.
Imported soybean tempeto on leaf and root (doc pri)
Hidangan ini bernama tempeto kedelai, yang disajikan seperti sate lilit dengan menggunakan tusuk dari batang sereh, dengan taburan biji-bijian seperti petai yang dipotong kecil-kecil dan dilengkapi saus yang berasa manis. Dalam penyajiannya dilengkapi dengan daun basil yang diatasnya potongan kolang-kaling yang diasamkan dan diberi bunga telang yang dikukus dan dihiasi  potongan kedelai. Tempeto adalah semacam tempe semangit (tempe setengah busuk) yang proses fermentasi atau pembusukannya tidak terjadi secara alami tetapi dikondisikan di dalam laboratorium dengan pemeraman di suhu 50 derajad celcius.

Dari sisi cita rasa, benar-benar mengejutkan, perpaduan rasa pahit, gurih, manis, dan asam. Semula saya merasa aneh..namun kemudian saya menikmati sekali rasanya. Dan ini adalah kali pertama saya mencicipi daun basil dan bunga telang.
Nilai untuk hidangan ini adalah 8,5. Kisaran harga yang saya berikan 11 - 15rb. Hidangan ini termasuk.favorit saya.

* Menu utama, hidangan yang disajikan untuk menu utama adalah :
1. Imported soybean tempe sate with lontong atau hidangan sate tempe yang berasal dari kedelai import dan lontong.
Imported soybean tempe sate with lontong (doc pri)
Sekilas hidangan ini tampak menarik, potongan tempe yang ditusuk berselang-seling dengan sayuran paprika, dengan saus manis yang diberi wijen dan potongan bawang bombay, dihidangkan bersama sambel goreng tempe, kering tempe, sambal, acar, dan lontong.
Cita rasa manis mendominasi hidangan ini, meskipun ada rasa pedas dari sambel goreng tempe, tapi tidak mengurangi rasa "neg" yang timbul dari rasa manis yang ada. Sekilas hampir mirip dengan makan bacem tempe yang tidak digoreng, ditambah saus yang manis. Kurang cocok untuk lidah saya. Jadi untuk hidangan ini saya memberikan nilai 6.
Tetapi ini penilaian pribadi saya lho...karena teman semeja saya ternyata bisa menghabiskan hidangan ini dengan cepat, padahal porsi hidangan lumayan banyak. Jadi balik lagi ke masalah selera..

2. Rice, ginger leaves and tempeto sauce from velvet bean ( nasi, daun ginseng dan saos tempeto dari tempe benguk).
Rice, ginger leave and tempeto sauce from velvet bean (doc pri)
Nah...untuk hidangan ini saya suka sekali..favorit malah..sempat underestimate dengan tampilannya yang sederhana..namun ternyata rasanya juara. Ini adalah olahan nasi yang dibentuk bulat gepeng seperti beef untuk isian burger, yang digoreng dengan sedikit minyak, yang diatasnya diolesi saus tempeto dari tempe benguk dan dihiasi daun ginseng yang diatasnya diberi saus kuning berasa asam. Suapan pertama memberikan rasa aneh, sensasinya hampir mirip ketika saya mencicipi hidangan tempeto di menu pembuka. Tekstur nasinya empuk sedikit kenyal, dengan saus tempeto yang lembut dan berasa gurih manis dan asam. Saya merasa hidangan ini sangat enak. Sehingga hanya butuh waktu sekejap untuk menghabiskannya. Nilai yang saya berikan untuk hidangan ini adalah 9, dan dengan senang hati saya akan mencobanya lagi jika menu ini dihidangkan lagi. Kisaran harga yang saya berikan.untuk hidangan ini adalah 26-30rb .

* Hidangan penutup
Hidangan penutup yang disajikan adalah
1. onde-onde es campur with velvet bean tempe. Yakni onde-onde yang diberi isian velvet bean tempe atau tempe benguk yang ditumbuk dan es campur yang berisi aneka buah dan puding tempe.
onde-onde es campur with velvet bean tempe (doc pri)

Untuk onde-ondenya ketika digigit terasa renyah dan gurih. Hanya saja ada rasa pahit manis dari isian yang berasal dari tempe benguk. Untuk onde-ondenya saya tidak terlalu suka. Untuk es campur, rasanya segar dan manis. Puding tempenya juga terasa lembut, ada sensasi gurih dan manis. Lezat sekali. Secara keseluruhan saya berikan nilai 7 untuk hidangan ini.
Untuk kisaran harga 20-25rb rupiah sepertinya pas untuk menu ini.

2. Snake fruit juice, fem leaves and local soybean tempeto atau Jus salak, daun pakis, dan tempeto dari kedelai lokal. Jujur ketika hidangan ini keluar, saya bingung gimana mencicipinya. Secara tampilan tidak terlalu menarik bagi saya..hihi..dan ketika saya mencobanya, rasa yang ada didominasi dengan rasa asam dan pahit dari tempetonya.
Snake fruit juice, fem leafes and local soybean tempeto (doc pri)

Dan terus terang, lidah saya belum mampu beradaptasi dengan rasa tersebut. Meskipun ketika pulang saya masih penasaran, apakah saya keliru dalam tata cara mencicipinya sehingga tidak bisa merasakan keunikan dan kelezatan dari hidangan tersebut.

Demikian cerita saya tentang pengalaman saya menjelajahi rasa tempe yang diolah ala Eropa. Beberapa dari hidangan yang disajikan saya suka dan cocok dengan rasanya, beberapa lagi masih butuh adaptasi. Namun yang pasti even ini memberi bukti bahwa olahan tempe bisa naik kelas menjadi hidangan restoran tergantung bagaimana cara kita mengolahnya. Bagaimana menarik bukan?

#tempe dinner
# Gadjahwonggardenresto
# UGM
#NordicFoodLab
#CopenhagenUniversity

Jumat, 04 November 2016

Nikmatnya Suwir Tongkol Rica-Rica, Olahan Sederhana Penggugah Selera

postimage

Negara kita adalah negara bahari, tetapi sayangnya tingkat konsumsi ikan di masyarakat masih tergolong rendah. Padahal ikan memiliki kandungan gizi yang tinggi, dan harganya pun lebih murah dibandingkan harga daging merah. 

Alasan kenapa masyarakat Indonesia tidak terlalu gemar makan ikan memang belum ada penelitian pasti, tetapi berdasar pengalaman saya sewaktu kecil, saya dulu kurang suka makan ikan karena cara memasaknya yang monoton, cuma digoreng atau dibakar saja. Baunya juga amis, belum lagi adanya duri di sela-sela daging ikan yang membuat sedikit repot ketika memakannya. Selain itu, saya pernah alergi ketika mengkonsumsi sejenis ikan kecil-kecil yang kalau tidak salah namanya impun. 

Tetapi setelah saya dewasa, pandangan saya terhadap ikan menjadi berbeda. Apalagi setelah saya menghadiri pameran produk hasil olahan ikan yang pernah digelar di kota Jogja beberapa bulan yang lalu. Banyak sekali produk yang bisa dibuat dari ikan dan produk laut lainnya. Salah satunya tahu bakso tuna yang sangat disukai anak saya. Saya menjadi sangat mencintai berbagai olahan ikan. Bahkan lebih memilih ikan dibanding ayam atau daging merah, salah satunya karena pertimbangan kesehatan, yang berdasar penelitian diperoleh kesimpulan ikan lebih aman bagi kesehatan tubuh, terutama untuk organ jantung. 

Ikan akan menjadi hidangan yang istimewa jika kita tahu cara mengolahnya. Dan ikan ini bisa diolah menjadi aneka masakan baik kering, maupun berkuah, atau dibuat menjadi produk frozen food, seperti bakso, nugget, kaki naga, dan lain-lain. Bau amis dari ikan, bisa dinetralisir dengan pemberian jeruk nipis sebelum proses pengolahan dilakukan. Selain itu, bumbu-bumbu untuk membuat hidangan dari ikan, hendaknya menggunakan berbagai jenis rempah yang dapat menghilangkan bau amisnya. 

Salah satu resep olahan ikan yang saya sangat suka karena praktis dan sedap adalah suwir tongkol rica-rica. Ada juga yang menyebutnya tongkol mercon. Mungkin disebut mercon karena penambahan cabai yang super banyak, sehingga rasanya nampol di mulut, serasa seperti ledakan mercon. Sumpah...rasanya sedap banget, apalagi dinikmati bersama nasi panas, bakal nambah terus pokoknya. Dijadikan teman untuk makan roti tawar juga enak..dijodohin sama ubi rebus juga yummy...

Resep ini saya dapat dari cookpad, olahan dari Mbak Nisa Annisa Nurfairuza yang bisa di cek di sini. Saya googling karena penasaran dengan rasa ikan tongkol mercon yang pernah berseliweran di beranda facebook, dan ingin mencoba bikin sendiri. Penasaran juga? Berikut saya tuliskan resepnya..

Resep suwir tongkol rica-rica

Bahan yang dibutuhkan :
250 gram pindang tongkol
4 siung bawang putih
6 butir bawang merah
10 buah cabe merah keriting
6 buah cabe rawit merah pedas, boleh ditambah tergantung selera
10 lembar daun jeruk purut
3 batang serai
1 sdt garam
1 sdt gula
royco ayam secukupnya (saya skip)
minyak untuk menggoreng

Cara membuat :
  1. Ikan tongkol dicuci dan dihilangkan duri-durinya, kemudian dagingnya disuwir-suwir dan dimasukkan ke minyak dingin, baru dimasak menggunakan api sedang. Goreng ikan sampai kering, kemudian tiriskan.
  2. Iris tipis semua bumbu(bawang merah, bawang putih, cabe, batang.serai, daun jeruk).
  3. Masukkan semua bumbu ke dalam minyak dan aduk sampai matang. Setelah bumbu matang, masukkan tongkolnya. Tambahkan gula, garam, dan royco. Test rasa, diamkan sebentar biar bumbu meresap dan wangi.
  4. Siap disajikan dan dinikmati bersama nasi panas.
Suwir tongkol rica-rica ala saya (dok.pri)

Gampang kan?? Anak saya juga suka lho..cuma kalau buat anak, biasanya cabenya 1, itu juga isinya saya buang, pedasnya sekedar untuk rasa-rasa saja. Biasanya anak saya memakannya bersama nasi yang dikepal-kepal dan Suwir tongkolnya tersembunyi di dalam nasinya...jadi semacam onigiri KW. Kandungan protein dari ikan tongkol juga tinggi, sehingga bagus untuk anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Setiap 100 gram ikan tongkol, memiliki kandungan energi 117 kkal, protein 23,2 gr, dan lemak 2,7 gr.

Saya memang selalu mengupayakan minimal seminggu 2 kali memasukkan masakan olahan laut ke dalam menu makan keluarga, ceritanya saya ingin ikut mendukung Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) yang dicanangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi ikan.

Oh ya, bicara tentang produk olahan laut saya jadi ingat, beberapa waktu yang lalu saya mendapat kiriman sambal roa dari teman. Ada 3 level pedas yang dikirim, dari yang tidak pedas, sampai sangat pedas. Dan menurut saya, semakin pedas rasanya semakin nikmat.

Roa adalah nama sejenis ikan terbang yang banyak ditemui di perairan laut Utara Pulau Sulawesi. Salah satu olahan yang terkenal dari ikan roa adalah sambal roa, yang merupakan salah satu oleh-oleh khas Manado yang banyak digemari. Sayapun jatuh cinta dengan cita rasanya. Tekstur ikan roa asap yang dihaluskan,bercampur dengan cabe, dan bumbu rempah lain yang digiling halus,  menimbulkan sensasi rasa gurih lezat yang khas. Jadi ingin mencicipi ikan roa langsung di daerah asalnya...

Manado adalah ibu kota dari Sulawesi Utara. Terletak di Teluk Manado, dan merupakan kota pesisir yang berbukit. Taman laut Bunaken, merupakan pesona wisata terkenal yang ada di sana. Dari sisi kuliner, karena merupakan daerah pantai yang mata pencaharian masyarakatnya adalah nelayan, sudah pasti makanan di daerah Manado banyak yang berbahan baku ikan. Khas dari masakan Manado adalah pedas, dengan bumbu berempah yang kuat. Salah satu contohnya adalah woku ikan. Selain itu, makanan khas Manado yang terkenal lainnya adalah bubur tinotuan. Yakni bubur nasi yang diberi aneka sayuran seperti labu, bayam, kemangi, ubi jalar dan lain-lainnya. Sebagai pelengkap dihidangkan pula sambal dabu-dabu dan ikan asin sebagai taburan. Konon, masakan bubur tinotuan ini dulunya berawal karena kondisi susah dari masyarakat setempat akibat penjajahan Belanda. Sehingga untuk berhemat, mereka memasak nasi menjadi bubur agar bisa dikonsumsi untuk seluruh anggota keluarga.

Sepertinya unik sekali kota ini...selain bisa berwisata alam, wisata sejarah dan wisata kulinernyapun menarik untuk dinikmati. Apalagi saya termasuk tipe petualang rasa, asal hidangan itu halal dan tidak berbahaya untuk tubuh, dengan senang hati saya akan mencobanya. Saya berprinsip, belum lengkap kita berwisata ke suatu daerah sebelum mencicipi kuliner khasnya. Semoga suatu hari nanti keinginan berwisata sambil kulineran di kota Manado ini dapat terlaksana...

"Jelajah Gizi, Jelajah Gizi Minahasa, Sarihusada, Nutrisi Untuk Bangsa"





Minggu, 23 Oktober 2016

Wayang Jogja Night Carnival, Pawai Budaya Jogja 2016

Sebagai puncak rangkaian acara HUT Jogja ke-260, pada tanggal 7 Oktober 2016 lalu diselenggarakan Pawai Budaya Jogja yang bertema Wayang Jogja Night Carnival. Dalam event ini sekitar 1500an personil turut meramaikan acara, yang berasal dari 14 kecamatan. Rute pawai mengambil start dari Jl Jendral Sudirman dan berakhir di tugu Jogja yang sekaligus sebagai tempat puncak acara berlangsung.


Event ini menjadi teramat menarik bagi saya karena salah satu peserta yang akan turut meramaikan acara tersebut adalah warga RW 10 Suryodiningratan para tetangga saya..., jadi saya amat menunggu-nunggu datangnya hari H. Yup..warga RW 10 Suryodiningratan, memperoleh kehormatan terpilih sebagai wakil dari kecamatan Mantrijeron.

Saya tahu betul bagaimana effort dari para warga untuk mempersiapkannya. Satu bulan sebelum pelaksanaan dengan penuh semangat kebersamaan dan gotong royong mereka membuat konsep tarian yang akan dibuat berikut merancang kostum dan pernak-perniknya. Semua bahu-membahu menyumbangkan pikiran dan tenaga untuk ikut memperlancar acara.
Besar, kecil, tua, muda membaur jadi satu. Jumlah peserta yang berpartisipasi ikut menari sekitar 100 orang. Cukup banyak...

Persiapan pembuatan maskot "kupluk hanoman"

Yang sedang berlatih menari, semangat sekali..

Pada hari H, sesuai kesepakatan semua personil yang terlibat berkumpul di balai RW 10 lengkap dengan kostum yang mereka kenakan. Ada yang berpenampilan sebagai Dewi Shinta, kera-kera, hanoman, raksasa, dan tokoh-tokoh lainnya.

Hampir setiap malam mereka berlatih. Tokoh hanoman yang akhirnya dipilih sebagai tokoh sentral yang akan ditampilkan dalam pertunjukkan. Anoman dipilih karena merupakan gambaran tokoh yang memegang amanah dan melindungi yang lemah. 

Warga lain yang tidak ikut tampil turut mendukung dengan hadir berbondong-bondong di balai RW. Suasana jadi ramai dan meriah. Dua bus yang digunakan untuk membawa para peserta juga sudah siap. Akhirnya sekitar jam 16.00 mereka bergerak menuju titik kumpul yang berada di halaman restoran cepat saji Mc D berkumpul bersama peserta yang berasal dari kecamatan lainnya.

Foto-foto sebelum berangkat
Saya sendiri tidak terlibat secara langsung, maklum saya tidak bisa menari, dan suka grogi tampil di depan banyak orang, he..he..he.. namun saya bersemangat untuk melihat penampilan para wakil RW 10 ini.

Sekitar pukul 18.00 saya sekeluarga berangkat dari rumah, cuaca agak mendung. Tadinya agak ragu jadi berangkat atau tidak. Tapi akhirnya kami putuskan untuk berangkat. Kalaupun nanti ternyata turun hujan, kami akan langsung pulang.

Beberapa ruas jalan menuju tugu Jogja di tutup untuk pelaksanaan acara. Jadi dari rumah kami ambil jalur memutar lewat Jalan Magelang dan parkir di daerah pasar Kranggan. Sudah banyak ternyata yang datang. Dua layar besar disediakan bagi penonton yang hendak menyaksikan. Sewaktu sampai di sana, pas penampilan dari kecamatan Pathuk, daerah yang terkenal dengan bakpianya. Icon yang di bawa kecamatan pathuk adalah tokoh semar, yang diarak bersama gunungan bakpia dan naga liong, sebagai gambaran akulturasi yang terjadi antara masyarakat Jawa dan Tionghoa. Semarak sekali. Naga liong tampak meliuk-liuk apik diiringi para penari yang luwes sekali. Para penonton sangat terpesona. Tepuk tangan riuh terdengar membahana.

Penampilan dari kecamatan lain (foto : uun)
Penampilan dari kecamatan Mantrijeron tidak kalah serunya. Diawali dengan munculnya mobil pawai yang berhiaskan kupluk hanoman raksasa dan diikuti para penari yang berbaris rapi menuju panggung pertunjukkan. Musik dibunyikan, semua menari dengan apiknya. Penari edan-edanan, para kera, penari kipas, dan para raksasa serta tokoh Dewi Shinta, semua menari penuh totalitas sesuai dengan perannya. Tepuk tangan penonton tidak kalah riuhnya.

Penampilan Kecamatan Mantrijeron

Sungguh pekerjaan yang sulit bagi para juri untuk menentukan siapa yang akan jadi juaranya.  Tapi bagi kami warga RW 10 Suryodingratan,  Kecamatan Mantrijeronlah juaranya. Paling tidak juara di hati kami warganya yang telah diwakilinya.

Terima kasih dari kami untuk semua perjuangannya, semoga guyup senantiasa. Perayaan ulang tahun kota Jogja yang benar-benar istimewa..

Sabtu, 22 Oktober 2016

Sekapur Sirih

Assalamu`alaikum,

Perkenalkan nama saya Sapti Nurul Hidayati pemilik blog ini. Seorang ibu rumah tangga dengan 1 putra, yang tinggal di Jogja.
Memiliki kegemaran mengunjungi tempat-tempat wisata alam yang unik serta memiliki nilai histori, dan suka mencoba makanan baru lewat hobi kulineran.

"Jika kau bukan anak seorang raja, atau anak seorang ulama besar maka menulislah" (Imam Ghozali)
"Semua penulis akan meninggal hanya karyanyalah yang abadi sepanjang masa. Maka tulislah yang akan membahagiakanmu nanti di akhirat" (Ali Bin Abi Thalib)
"Menulislah, karena tanpa menulis engkau akan hilang dari pusaran sejarah" (Pramoedya Anantya Toer)

Kalimat-kalimat di atas adalah alasan kenapa blog ini dibuat..mungkin hanya cerita-cerita sederhana, tapi mudah-mudahan ada sedikit makna yang dipetik dari kisah yang ada...
Mencoba merangkum setiap peristiwa melalui cerita...

Silakan meninggalkan jejak di blog saya, nanti saya akan BW ke blog teman-teman semua.

Terima kasih
Sapti Nurul Hidayati
Saptinurul@gmail.com

Minggu, 16 Oktober 2016

Tebing Breksi Dulu dan Kini...

Selepas kesibukan selama seminggu ini, kami sekeluarga berencana jalan-jalan melepas penat. Nggak jauh -jauh sih tujuannya, hanya ke sebuah destinasi geowisata yang berlokasi di Desa Sambisari, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Lokasi tersebut berjarak kurang lebih 26 km dari rumah kami dan hanya membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam perjalanan dengan kendaraan pribadi. 

Karena lokasi yang dituju tidak terlalu jauh, tidak banyak persiapan yang kami lakukan.  Kami hanya perlu bangun lebih awal agar bisa sampai lokasi paling tidak pukul 07.00 pagi, sehingga kami tidak perlu berpanas-panas di sana nanti. Karena yang kami tuju adalah tebing terbuka, tentu lebih enak dinikmati di suasana yang tidak terlalu terik, sama halnya seperti kalau kita ingin menikmati suasana pantai. 

Oh ya, sedikit informasi mengenai destinasi yang akan kami kunjungi. Namanya adalah Tebing Breksi, sebuah areal bekas penambangan batu kapur yang telah diubah menjadi destinasi geowisata yang apik, unik, dan eksotis. 

Pada awalnya, Tebing Breksi adalah sebuah bukit batu kapur yang sudah sejak tahun 1980-an biasa ditambang oleh warga sekitar sebagai sumber mata pencaharian. Bekas tambang berupa tebing-tebing dengan sisa pahatan yang khas menyisakan pemandangan unik tersendiri. Bauran warna coklat, hitam, dan putih tampak artistik dan eksotis. 

Sebuah penelitian tentang struktur batuan yang ada di tambang tersebut memberikan hasil yang mengejutkan, ternyata bebatuan di tebing tersebut merupakan endapan sisa abu vulkanik dari gunung api purba Nglanggeran yang ada di Gunung Kidul. Sebuah nilai historis vulkanologis yang  yang harus dilestarikan dan dijaga keberadaannya karena merupakan bagian dari geo heritage. Karena alasan itulah, maka penambangan bebatuan di tebing yang kemudian terkenal dengan sebutan Tebing Breksi tersebut dihentikan. Pemberian nama breksi mengacu kepada jenis struktur batuan yang ada di tebing ini. 

Penghentian penambangan tersebut tentu saja menimbulkan dampak sosiologis dan ekonomis bagi masyarakat di sekitarnya. Dan itulah kemudian yang menimbulkan ide dari masyarakat sekitar dengan mendapat dukungan pemerintah setempat, untuk mengubah tebing bekas penambangan itu menjadi objek geowisata yang menarik dan unik yang  kemudian diberi nama Taman Tebing Breksi yang selanjutnya lebih dikenal dengan sebutan Tebing Breksi. 

Di lokasi tebing, dibangun pula sebuah panggung terbuka tempat diadakannya berbagai pertunjukan kesenian yang diadakan pada event-event tertentu. Panggung tersebut diberi nama Panggung Terbuka Tlatar Seneng yang peresmiannya dilakukan bersamaan dengan pembukaan Taman Tebing Breksi oleh Gubernur DIY Sultan Hamengkubuwono X pada bulan Mei 2015 lalu.
Prasasti peresmian Tebing Breksi (doc pribadi)
Pertama kali saya memperoleh informasi tentang keberadaan dan keindahan Tebing Breksi adalah dari foto-foto yang banyak diupload di instagram. Sehingga membuat saya penasaran dan berencana mengajak keluarga mengunjunginya. 

Semula kami berencana berangkat piknik pukul 06.00 WIB dari rumah, tapi karena tiba-tiba ada sesuatu yang harus dilakukan akhirnya baru pukul 09.00 kami bisa berangkat.
Kami sengaja memilih jalur yang tidak terlalu banyak lampu merahnya.

Kondisi jalan menuju Tebing Breksi lumayan bagus, meskipun jalannya menanjak, tetapi jalan yang ada halus dan masih baru. Rupanya keberadaan destinasi ini membawa dampak positif dengan diperbaikinya infra struktur yang ada. Apalagi Tebing Breksi ini satu jalur dengan objek wisata Candi Ijo, yang letaknya kurang lebih 1 km dari Tebing Breksi. Candi ijo merupakan candi tertinggi di Jogja, yang juga cukup menawan untuk dinikmati. Sayang karena letaknya yang terisolir membuat keberadaannya sering dilupakan...

Sekitar pukul 10.00 WIB kami sampai di pintu masuk Tebing Breksi. Ternyata belum ada tarif resmi untuk masuk kawasan ini. Kami hanya diminta membayar uang parkir sebesar Rp. 5000,- untuk mobil dan Rp. 2000,- untuk motor, serta sumbangan seikhlasnya untuk biaya perawatan tebing.

Eksotis dan indah, itulah kesan pertama yang muncul ketika saya melihat Taman Tebing Breksi ini. Meskipun jujur waktu kedatangan kami yang terlalu siang lumayan mengurangi kenyamanan karena udara terasa panas menyengat.
Panggung terbuka Tlatar Seneng dengan latar belakang Tebing Breksi  (doc pribadi)
Di hadapan kami, hamparan tebing tinggi menjulang, kelihatan gagah sekali. Di sebelah depannya, terlihat panggung terbuka Tlatar Seneng yang berbentuk lingkaran dengan dikelilingi kursi-kursi duduk panjang dari batu yang ditata berderet melingkar. Dapat dibayangkan seandainya ada tontonan digelar di panggung itu, pasti terlihat megah sekali. Apalagi kalau acara dilaksanakan di malam hari, dengan ditingkahi tata cahaya yang keren, pasti suasana pentas semakin terasa istimewa. Paling tidak suasana itu pernah tergambar pada pentas musik dalam rangka Festival Kesenian Yogya (FKY) 2016 yang baru lalu, yang saya sempat lihat fotonya.

Suasana Panggung Masa Depan FKY 28 di Tebing Breksi
Sumber : www.piknikdong.com
Tebing breksi yang menjadi sentra utama dari destinasi geowisata ini terlihat masih berbenah, masih terlihat beberapa pekerja sibuk menyelesaikan proyeknya. Ukiran dan pahatan tampak terlihat di beberapa bagian sisi tebing. Relief bertipe lukisan primitif dari beberapa hewan dan manusia tampak terlihat di dinding tebing sebelah depan. Di sisi tebing sebelah kanan, terdapat tangga yang dipahat sebagai jalan utama menuju ke puncak tebing. Pada dinding tebing , di bagian yang diberi pahatan tangga tampak relief sederhana dari 2 tokoh wayang. Sementara ketika kita menapaki tangga menuju puncak tebing, terlihat relief indah yang dipahat di dinding yang menggambarkan pertempuran antara Buto Cakil dengan tokoh Arjuna, yang dimenangkan oleh Arjuna, yang masih dalam tahap penyempurnaan. Relief itu menggambarkan bahwa setiap kejahatan pasti akan kalah melawan kebenaran.
Beberapa view di tebing Breksi (doc pribadi)
Banyak spot di Tebing Breksi yang bagus untuk berfoto, termasuk pahatan tangga yang menjadi jalan utama menuju puncak tebing breksi, yang diberi nama Eskalator Jawa. Dengan ketinggian tebing yang berukuran sekitar 30 meter, menapaki tangganya seperti kita sedang melakukan olah raga jalan sehat, sehingga  demi kenyamanan, sebaiknya ketika ke sana kita mengenakan sepatu yang nyaman, kuat, dan tidak licin.Karena yang kita lalui adalah bebatuan alam yang licin dengan jalur menanjak. Pemakaian alas kaki yang tepat membuat kita lebih fleksibel ketika harus naik-turun atau melompat di bebatuan.

Eskalator Jawa, tangga menuju puncak tebing (doc pribadi)
Setiap sudut di tebing breksi bagus untuk berfoto, sungguh destinasi ini cocok buat yang suka berselfie dan wefie.
Relief pertarungan Buto Cakil dan Janoko (doc pribadi)
Sampai di puncak tebing. Suasana di atas tebing juga nyaman dan luas. Seperti sebuah dataran yang terhampar apik di sebuah ketinggian. Banyak pepohonan yang di tanam membuat suasana menjadi sejuk, meskipun di beberapa tempat masih terasa panas karena pohon yang ditanam baru mulai tumbuh. Namun semilir angin yang sesekali menerpa lumayan mengurangi hawa panas akibat teriknya matahari.

Suasana di puncak tebing (doc pribadi)

Pemandangan dari puncak Breksi (doc pribadi)
Pemandangan di puncak tebing memang sangat indah, seperti melihat lukisan alam. Dari atas kita bisa melihat pepohonan dibukit-bukit sekitar yang kelihatan menghijau, Candi Barong, Candi Prambanan, sangat jelas terlihat. Candi boko juga terlihat meskipun samar, indah sekali... Posisi tebing yang tinggi memungkinkan juga bagi kita jika ingin menikmati sunset atau sunrise dari puncak tebing.

Dari sini candi Prambanan dan candi Barong terlihat jelas (doc pribadi)
Sebagai tempat wisata, Tebing Breksi tergolong lengkap fasilitasnya. Terdapat mushola untuk beribadah, toilet, maupun pusat jajan tempat pengunjung makan dan minum sambil melepas lelah. Halaman parkir yang dimiliki juga luas.  

Melihat dinamika yang ada di Tebing Breksi, dimana pembangunan dan pembenahan yang masih terus dilakukan, tidak berlebihan kalau ke depannya prospek Tebing Breksi sebagai tujuan wisata semakin cerah. Saat inipun pengunjung yang datang lumayan banyak, semakin sore pengunjung semakin ramai, banyak yang ingin menikmatk suasana sore di sana. Yang terpenting adalah kesadaran dari pengelola maupun pengunjung untuk terus menjaga keasrian dan kebersihan Tebing Breksi. Semoga tempat sampah yang disediakan dapat difungsikan dengan baik. Demikian pula fasilitas umum seperti toilet dan mushola juga terjaga kebersihannya. Karena hal ini yang kadang luput dari perhatian kita semua. Lupa menjaga dan menghargai sesuatu yang sudah kita punya..

Bagi teman-teman yang penasaran ingin berkunjung ke sini juga, saya berikan petunjuk arahnya. Rutenya kalau dari Jogja adalah ke arah Jalan Solo, sampai ketemu Pasar Prambanan, kemudian belok ke kanan. Ikuti terus jalan sampai ketemu petunjuk jalan menuju ke Candi Ijo. Nanti di sepanjang jalan akan dijumpai baliho penunjuk jalan menuju Tebing Breksi, ikuti saja terus sampai nanti terlihat gapura masuk menuju Tebing Breksi di sisi kiri jalan.
Selamat berpiknik....


Referensi :
  1. Sejarah, Penyelamat Tebing Breksi Prambanan" (18 September 2015), www.jalanjogja.com
  2. Mimin Piknik, "Menakjubkannya Panggung Masa Depan FKY 28 di Tebing Breksi" (September 2016) www.piknikdong.com

Selasa, 11 Oktober 2016

Ayo Gapai Sehatmu dengan Atur Pola Makanmu...

Menjadi tua itu pasti menjadi gemuk itu pilihan"

Yakin, pasti banyak yang baper kalau membaca kalimat itu...

Apalagi ibu-ibu, sebenarnya bapak-bapak mungkin juga begitu, hanya saja para bapak bisa menyembunyikan perasaan dan berkilah "subur itu tanda makmur"..gitu kan??

Masalah berat badan memang sering jadi topik pembicaraan baik di acara kumpul bareng teman, arisan, reuni, bahkan di grup-grup WA.

Gemuk itu berkaitan dengan penampilan  dan rasa percaya diri, namun yang paling utama kegemukan berhubungan dengan kesehatan. Poin ketiga ini yang perlu mendapat penekanan. Kalau untuk masalah penampilan, itu bisa disiasati dengan pilihan warna dan model pakaian. Tapi kalau untuk kesehatan, ini yang harus diupayakan. Karena Sehat itu ibarat investasi yang akan kita nikmati dikemudian hari.

Perlukah Kita Diet ?
Ada beberapa parameter untuk melihat perlukah kita berdiet, yakni :
Pertama yang paling gampang adalah dengan menimbang berat badan kita dan kita bandingkan dengan standard yang ada.
Kedua dengan mengukur lingkar perut kita. Lemak di perut adalah yang paling berbahaya. Standar ukuran lingkaran perut untuk pria adalah max 90 cm untuk perempuan max 80 cm. Lemak di perut dapat menyerang ke organ dalam, diantaranya dapat menyebabkan penimbunan lemak di hati yang menyebabkan pengerasan hati. Gejala yang timbul berupa nyeri hati yang nggak sembuh-sembuh meskipun diberi obat maag.

Ketiga dengan menghitung Indeks Massa Tubuh (BMI : Body Mass Index) yang mempunyai rumus :
berat badan (dalam kg) dibagi tinggi badan kita (dalam meter) dikuadratkan.

Berat badan (dlm kg)
----------------------------------------
(Tinggi badan (dalam m))2

Nilai BMI  normal adalah antara 18,5-22,9. Sedangkan parameter dari nilai BMI adalah sebagai berikut :

< 18,5       ====> Kurus
18,5-22,9 ====> Normal
 23-24,9   ====> Overweight
 25-29,9   ====> Obesitas Tk 2
 > 30       =====> Obesitas Tk 1

Bicara tentang usaha menurunkan berat badan, banyak metode diet yang ditawarkan. Semua berkaitan dengan pengaturan menu makanan. Berikut beberapa diet yang banyak dipraktikkan :

1. Diet mayo
diet ini sempat booming. Bahkan ada jasa catering yang menyediakan paket menu untuk diet mayo. Diet ini menitikberatkan pada pengaturan menu makanan yang seimbang antara sayuran, buah-buahan, protein, dan berbagai komponen lainnya. Yang perlu digaris bawahi, diet ini berpantang gula dan garam, dan dilakukan selama 13 hari berturut-turut. Kalau dalam 13 hari itu ada 1 hari saja kita mengkonsumsi gula dan garam, diet harus kita ulangi lagi dari awal. Selain itu es atau air es juga dilarang untuk dikonsumsi. Sebaliknya kita harus mengkonsumsi banyak air putih, minimal 8 gelas sehari. Diet ini pertama kali diperkenalkan oleh mayoclinic. Dalam diet ini, sebenarnya semua makanan boleh dimakan, tapi tanpa tambahan gula dan garam. Seorang kawan yang mempraktikkan diet ini berhasil menurunkan berat badan yang cukup signifikan.

Contoh penyusunan menu diet mayo adalah sbb :
Sumber : www.nonikhairani.com

2. Diet GM (General Motor)
Disebut diet General Motor karena pertama kali diujicobakan kepada karyawan General Motor. Diet ini dirancang selama satu minggu dengan target penurunan berat badan 5-8 kg, dengan tujuan detoksifikasi dan perbaikan emosi. Inti dari diet ini adalah tetap banyak mengkonsumsi air putih minimal 10 gelas, karena akan mempercepat proses detoksifikasi tubuh. Pengaturan menu untuk diet ini adalah sebagai berikut :

  1. Hari pertama, konsumsi aneka buah kecuali pisang sekenyangnya. Buah yang disarankan untuk banyak dikonsumsi adalah melon dan semangka.
  2. Hari kedua, konsumsi aneka sayuran, boleh dimasak dengan cara apapun. Boleh matang atau mentah. Tetap berpantang buah pisang.
  3. Hari ketiga, konsumsi buah kecuali pisang,  dan sayuran sepuasnya. Tidak dibatasi jumlahnya.
  4. Hari keempat, hanya mengkonsumsi 8 buah pisang, dan 3 gelas susu, tidak boleh ada menu lain.
  5. Hari ke lima, konsumsi 500 gram daging (boleh ayam, sapi, atau tempe bagi yang vegetarian) dan 8 buah tomat. Konsumsi air putih tetap diperbanyak dengan jumlah minimal 10 gelas.
  6. Hari keenam, kombinasi daging dan sayuran dengan jumlah yang tidak dibatasi.
  7. Hari ketujuh yang merupakan hari terakhir, dengan menu nasi merah, sayur, dan jus.

3. Diet karbo
Yakni cara diet dengan mengurangi atau menghilangkan asupan karbohidrat dalam menu sehari-hari dan menggantinya dengan makanan dengan asupan protein dan lemak yang tinggi.

Ada 2 macam tipe diet karbo, yang benar-benar menghilangkan asupan karbohidrat  dan yang hanya mengurangi karbohidrat dan gula utamanya yang berasal dari nasi putih dan gula pasir.

Karbohidrat yang berasal dari nasi putih, terigu putih,  dan gula tebu memiliki indeks glikemik yang tinggi, sehingga menyebabkan kenaikan gula darah yang tajam, yang bila tidak segera digunakan akan ditimbun menjadi lemak.

Tabel indeks glikemik berbagai makanan (sumber : grup katy `95)
Penurunan konsumsi karbohidrat dalam tubuh menyebabkan terjadinya proses ketosis, yakni pembakaran lemak oleh tubuh yang berakibat berkurangnya timbunan lemak dalam tubuh. Diet ini cocok dilakukan oleh orang dengan usia 30 tahun ke atas dimana kondisi metabolisme tubuh mulai menurun, dan ancaman penyakit degenatif seperti jantung, diabetes, dan kanker mulai mengancam.

4. Diet dengan jamu atau suplemen. Biasa dipilih bagi yang menghendaki penurunan badan yang cepat tanpa repot-repot diet ketat. Yang perlu digaris bawahi bila ingin menggunakan suplemen penurun berat badan adalah pilihlah yang alami dan aman, dengan dosis terukur dan telah terdaftar secara resmi di bpom. Mengenai review produk pelangsing yang sudah saya coba dan buktikan sendiri, bisa dibaca di sini.

Cara Langsing yang Ga Ribet...

Pengen langsing? Ya so shin...
Iklan banget ya? memang iya..tapi nyata lho...saya sudah mencobanya. Sebelum saya menceritakan pengalaman saya sewaktu memakai so shin, saya cerita dulu tentang so shin ya...

So shin adalah minuman pelangsing produksi dari MCI (Millionaire Club Indonesia). Bahan-bahan yang terkandung dalam so shin diantaranya teh hijau, green coffee, dan rumput laut yang dipercaya bisa menyerap lemak sehingga mengurangi asupan lemak ke dalam tubuh. Pemanis yang digunakan adalah stevia yang aman untuk penderita diabetes juga.

Manfaat dan legalitas So Shin, sumber : mci-world.com
Aturan pakai so shin sehari sekali, diminum minimal 1 jam sebelum makan. Rasanya enak, seperti lemon tea. Cara minumnya bisa dimasukkan langsung ke dalam mulut lalu minum segelas air atau diseduh dulu dengan setengah gelas air.
All about so shin, sumber : mci-world.com
Kembali ke pengalaman saya, saya nyoba so shin pertama karena pengen ngerasain rasanya dan membuktikan khasiatnya.
Berat badan awal saat itu 48 kg, dengan tinggi badan 150cm. Saya pikir berkurang 1 atau 2 kg nggak masalah.

Saya minum sesuai anjuran sebelum sarapan, dan  karena saya punya maag, sebelumnya saya makan pisang dulu. Sehabis makan saya sarapan seperti biasa. Tapi siangnya saya tidak makan nasi, cuma ngemil buah dan sayur dan banyak minum. Malam saya makan seperti biasa sehabis magrib. Setelah itu nyemil buah kalau lapar. Baru sekitar 4 hari saya konsumsi so shin, sampai suatu ketika seorang kawan komentar kok saya kelihatan kurus...kagetlah saya, masa prosesnya secepat itu..secepat kilat saya ambil timbangan, dan ya Allah kaget saya, saya turun 4 kg dalam waktu 4 hari... berat saya sewaktu saya timbang adalah 43 kg, dari yang semula 47 kg. Akhirnya saya stop nggak konsumsi so shin lagi..

Pengalaman saya itu kemudian saya ceritakan ke kawan lainnya. Dan ternyata tidak cuma saya yang mengalami hal itu. Beberapa kawan juga mengalami penurunan berat badan dalam waktu kurang 1 bulan. Dan itu dipengaruhi oleh kondisi metabolisme tubuh. Jadi hasil untuk setiap orang berbeda-beda. Satu lagi resep kalau ingin hasil cepat kelihatan, adalah dengan mengatur pola makan kita, meskipun nggak terlalu ketat.

Misalnya dengan mengatur jam makan malam tidak terlalu larut, mengganti nasi putih dengan sumber karbohidrat lain secara selang-seling, banyak mengkonsumsi buah dan sayur, cukup minum serta olah raga yang cukup. Jadikan so shin sebagai awal hidup sehat anda. Setelah anda berhasil mencapai berat ideal, ubah gaya hidup