Senin, 08 Agustus 2016

Antri Makan di Kopi Klotok

Bukan jogja namanya kalau ga penuh dengan sesuatu yang unik..
Minggu kemarin sengaja pengen sarapan (lagi) di kopi klotok, sebuah tempat makan yang menyajikan hidangan rumahan berupa aneka sayur lodeh, dan nasi megono. Lauk yang ditawarkan ada gudeg ceker, gudeg telur, dadar telur, pindang goreng, layur goreng, tempe garit goreng, dan tahu bacem.

Sekitar pukul 08.00 saya sudah sampai lokasi, dan Masya Allah..antrian parkir sudah mengular. Setelah menunggu sekitar 10 menitan, kami baru bisa masuk ke halaman parkir.
Dan ternyata hari itu kegiatan makan selalu diawali dengan kata "antri". Antri tempat duduk,antri ambil nasi, antri ambil lauk, antri order pisang dan jadah goreng. untung untuk minumnya kita bisa order langsung ke pramu saji.
Harus lincah juga ternyata makan di kopi klotok, sambil antri pisang dan jadah goreng, mata musti jeli ketika ada pramu saji yang baru keluar dari dapur sambil membawa aneka lauk. Dan tangan harus cekatan untuk memindahkan lauk dari piring yang dibawa pramusaji ke piring kita. Itu sangat efektif meminimkan waktu tunggu sehingga kita bisa segera mencicipi menu yang ada.
Dapur kopi klotok
Hampir 1 jam saya antri untuk mendapat hidangan lengkap, nasi putih, nasi megono, sayur lodeh, dan aneka lauk, beserta kudapan pisang dan jadah goreng.
Rasa sayur lodeh yang gurih pedas, ditemani nasi putih dan pindang serta telor dengan cepat pindah ke mulut. Sambil sesekali diselingi minum jeruk anget yang segar. Selesai mengeksekusi nasi, giliran menikmati kudapan. Jadah dan pisang goreng yang memperolehnya penuh perjuangan. Karena harus antri di dapur yang lumayan panas karena 3 kompor dan 1 tunggu kayu yang menyala bersama. Jadi lumayan berkeringat dan lapaar..
Antrian pisang dan jadah goreng
Ketika makan, ga sengaja mendengar obrolan beberapa tamu yang datang. Ada yang menganggap suasana antri itu menjadi sensasinya, sehingga menambah kepuasan ketika menikmati makanan, namun ada juga yang bilang antrinya bikin bete. Karena makannya menjadi tidak bisa santai. Makan belum selesai, sudah ada yang antri menunggu meja kita. Jadi kurang leluasa menikmati hidangan.
Yang antri sambil makan juga ada 

Kalau pendapat saya pribadi,semua tergantung mood, dan dengan siapa kita makan. Karena kopi klotok memang lebih pas dinikmati berbanyak, dan ga bawa anak yang terlalu kecil, karena bisa jadi mereka kurang nyaman dengan suasana yang terlalu crowded. Kalau pengen leluasa memakai meja kita, cukup pasang tampang cuek, dan jangan sesekali membiarkan meja kita kosong meskipun sekedar untuk foto-foto. Harus ada yang ditinggal termasuk hidangan yang di meja harus ada yang masih tersisa, jangan ludes semua.

Selain itu, jika tidak ingin merasakan antrian yang luar biasa, jangan datang di hari sabtu dan minggu. Karena di waktu2 itu, dapat dipastikan kopi klotok penuh dan crowded sekali..

Untuk view di rumah klotok sebenarnya lumayan, khas pedesaan. Dengan udara yang sejuk dan segar cukup nyaman untuk bersantai bercengkrama bersama keluarga. Cuma kalau kemarin, karena penuh,jadi ga mood untuk berfoto-foto juga. Cuma sempat ambil foto bagian dapur dari rumah klotok yang lumayan eksotis dan kekunoan..^_*

======================
Info menu :
# Makan sepuasnya nasi dan aneka sayur lodeh per orang Rp. 11.500,-
# Nasi Megono : Rp. 6500,-
# Aneka lauk : harga mulai Rp.1500,-
# minum : harga mulai Rp. 3000,-
# jadah goreng : perporsi isi 3 Rp. 6500,-
# pisang goreng : per porsi isi 2 Tp. 6500,-
Alamat kopi klotok : Jalan Kaliurang km 16 Sleman Yogyakarta

Rabu, 03 Agustus 2016

Mencoba Lezatnya Malon

Puyuh malon, sumber : google
Pernah suatu saat membaca iklan sebuah rumah makan yang menjadikan menu "malon" alias manuk londo sebagai hidangan unggulannya. Bahkan menu itu menjadi trade mark di restoran tersebut. Iklan yang dilakukan lumayan masif, banner dipasang di beberapa jalan utama, dan itu menjadikan malon alias manuk londo lumayan tenar.

Sebenarnya sudah lama kenal dengan nama malon, tapi baru tahu kalau kepanjangannya manuk londo setelah membaca iklan tersebut. Pertama kali mengenal menu ini di sebuah tempat makan,kalau tidak salah bernama Depot Jogja yang ada di Galeri Mall. Yang dulu sekali menjadi tempat langganan untuk menikmati sup seafood yang pedasnya nampol. Cuma waktu itu belum kepikiran untuk mencoba malon. Dan sampai Depot Jogja ga ada lagi (tutup) tetap belum pernah mencoba hidangan itu. 

Kembali ke malon. Kalau yang namanya jodoh memang ga ke mana. Ternyata saya berjodoh dengan menu ini. Minggu kemarin bersama keluarga kecil berencana jalan-jalan ke Desa Ketingan lagi. Suami kangen dengan suara burung kuntul yang ada di sana. Rencana setelah puas menikmati tingkah polah burung kuntul kami akan mampir ke Omah Kecebong untuk mencoba nasi bakarnya. Tapi ternyata pas sampai di Desa Ketingan, suasana sepi...suara burung kuntul yang biasanya menyambut dengan riuh, tidak terdengar. Nggak tahu kenapa. Mungkin mereka baru bermigrasi,,atau kalau tidak kami datang terlalu siang, sehingga para kuntul lagi keluar mencari nafkah, dan keluarga yang ditinggal di rumah baru bobok siang. Pokoknya sepii sekali waktu itu. Halaman rumah warga yang biasa kami jadikan tempat nongkrong sambil menikmati tingkah polah burung kuntul yang biasanya sepi, saat itu malah ramai. Banyak kendaraan terparkir di sana. Rupanya yang empunya halaman baru punya hajat. Akhirnya mau ga mau kami meninggalkan lokasi dan langsung menuju Omah Kecebong. Dalam perjalanan ke Omah Kecebong, kami bertemu iring2an pedati yang membawa rombongan tamu, yang ketika kami cermati adalah tamu dari Omah Kecebong. Halaman parkir home stay dan resto itu juga tampak penuh dengan mobil dan motor. Omah kecebong full booked untuk acara family gathering. 

Kamipun harus berbalik arah lagi. Bingung mau ke mana.
Untungnya suami ingat ada lesehan yang baru dibuka di daerah sleman, cabang dari lesehan Sayidan. Meluncurlah kami ke sana. Kebetulan sudah lama pengen nyoba lesehan Sayidan, cuma males dengan parkir dan antriannya yang panjang. 15 menit kemudian kita sampai di lesehan Sayidan yang ada di desa Warak Sleman. Tempatnya lumayan luas, dan lumayan nyaman juga. Yang pasti pengunjungnya ga sepenuh yang di pusat. Sewaktu lihat daftar menu, lha kok ndilalah ada menu malonnya. Jadilah kita nyoba malon bakar. 

Tidak berapa lama malon pun datang. Lumayan besar juga ternyata. Lebih besar dari burung puyuh. Rasanya lezat, empuk, tidak kering (juicy) dan berlemak. Warna dagingnya agak kemerahan. Bumbunya meresap sampai ke dagingnya. Rasanya manis gurih. Dagingnya juga banyak. Kalau buat sendiri pasti kebanyakan. Enak pokoknya.. sayangnya karena hp baru lowbat, ga sempat foto si malon. Fotonya next ditambahin kalau ke sana lagi. 
Harga malon utuh ini di bandrol Rp. 23.000,- harga yang cukup terjangkau dan yang pasti menu ini recommended. Apalagi ternyata malon mempunyai kandungan kolesterol yang tergolong rendah. Jadi aman dan bisa jadi pilihan hidangan sehat. Rasanya lebih lezat dari ayam, itu menurut saya...penasaran?silakan coba sendiri..
==========================
Fakta tentang malon :
Merupakan persilangan antara burung puyuh (gemak) lokal yang merupakan jenis petelur dengan puyuh perancis yang merupakan jenis pedaging. Mempunyai bulu yang tebal, dengan ukuran yang lebih besar dari puyuh lokal. 

Dinamakan malon atau manuk londo untuk memberi ciri khas kalau dia varietas baru dan merupakan burung indo karena merupakan hasil persilangan dengan puyuh perancis (harusnya namanya mando, manuk indo, he3).

Burung ini memiliki keunggulan diantaranya dagingnya lembut,empuk, dan gurih. Kandungan kolesterol rendah, dan memiliki kandungan vitamin dan mineral yang dipercaya sangat bermanfaat untuk kesehatan. Diantaranya melancarkan peredaran darah, menyembuhkan asma, dan memperkuat tulang belakang.