Jumat, 30 September 2016

Jogja Heritage : Melihat Lebih Dekat Situs Warungboto

Jogja itu unik, Jogja itu asyik..saya rasa semua yang pernah merasakan atmosfir kehidupan kota Jogja pasti akan menyetujuinya.  Tempat di mana hal-hal modern bisa berdampingan dengan yang tradisional, teori dan praktik bermasyarakat bisa berbarengan dilakukan. Ya, itulah Jogja gambaran miniaturnya Indonesia, segala perbedaan dan keberagaman menyatu di dalamnya.

Mungkin belum banyak yang tahu, nama Yogyakarta berasal dari nama sebuah kerajaan yang ada dalam epos Ramayana yaitu Ayodya, sebuah kerajaan tempat tokoh Sri Rama dilahirkan. Nama itu dipilih karena Pangeran Mangkubumi sang pendiri Kesultanan Yogyakarta yang nantinya bergelar Hamengkubuwono I memiliki pembawaan yang tenang dan memiliki keahlian dalam berperang seperti Sri Rama yang sering disebut sebagai titisan Dewa Wisnu.

Karena dianggap memiliki kemiripan dengan Sri Rama, maka akkhirnya dipilihlah nama Ayodya sebagai nama kerajaan baru yang hendak didirikan oleh Pangeran Mangkubumi itu. Penambahan kata karta dibelakang nama Ayodya yang berarti baik mempunyai maksud agar negara Ayodya tersebut dibangun dengan tujuan membawa kebaikan untuk semua. Dan dalam perkembangannya, Ayodyakarta ini berubah menjadi Ngayogyakarta, dan saat ini dikenal sebagai Yogyakarta atau Jogjakarta yang sering disingkat dengan Jogja. 

Sebagai bekas sebuah kerajaan, sudah pasti banyak peninggalan baik berupa adat istiadat maupun bangunan yang ada di kota Jogja yang masih bisa dinikmati, dirasakan dan terjaga sampai sekarang. Semuanya merupakan satu kesatuan Jogja heritage yang terus dijaga kelestariannya dan menjadi salah satu alasan keistimewaan kota Jogja. 

Ya, wisata sejarah merupakan salah satu yang menjadi magnet daya tarik kota Jogja,  wisata murah namun penuh makna. 

Seperti hari ini, saya berencana mengunjungi salah satu peninggalan bersejarah yang berdasar informasi media, saat ini mulai banyak dilirik yakni petilasan Istana Air Warungboto.

Padahal  dulunya kondisi situs ini memprihatinkan dan hampir dilupakan. Apalagi posisinya yang berseberangan dengan pemakaman, semakin membuat situs tersebut tersisih dan jarang dikunjungi. Bangunan yang merupakan sebuah pesanggrahan atau tempat peristirahatan itu dibangun pada masa Sultan Hamengkubuwono II. Terletak di Jalan Veteran, Kelurahan Warungboto Kecamatan Umbul Harjo Jogjakarta. 

Sultan Hamengkubuwono II adalah raja di Kasultanan Yogyakarta yang memerintah antara tahun 1792 -1828, yang memiliki kebijakan antikolonial dan bertujuan untuk menjadikan kesultanan Yogyakarta sebagai suatu kerajaan yang besar, berwibawa dan disegani oleh pihak lain termasuk oleh bangsa Eropa. Pada awal pemerintahannya banyak didirikan bangunan dan infrastruktur untuk pertahanan dan pemerintahan. 

Kembali ke situs Warungboto, keberadaan pesanggrahan tersebut dijelaskan dalam sebuah tembang macapat atau serat rerenggan yang berkisah tentang Sultan Hamengkubuwono II yang banyak membangun tempat peristirahatan diantaranya adalah pesanggrahan Rejo Winangun, yang saat ini dikenal dengan nama situs Warungboto.

Berdasar sumber yang saya baca, fungsi utama dari pesanggrahan adalah untuk tempat peristirahatan keluarga kerajaan sehingga seperti umumnya pesanggrahan bangunan ini terdiri dari taman, segaran, kolam, dan kebun. 

Berbeda dengan Tamansari yang lebih terawat dan lebih banyak pengunjung, situs Warungboto memang lama terbengkalai dan kurang populer. Padahal dari sisi usia, keberadaan Tamansari dan pesanggrahan Warungboto ini hampir bersamaan, malah Tamansari umurnya lebih tua dibandingkan pesanggrahan Rejo Winangun karena dibangun pada masa Sultan Hamengkubuwono I. Hal ini mungkin disebabkan karena berbagai faktor, diantaranya karena posisi situs Warungboto yang letaknya jauh dari pusat kerajaan atau keraton serta saking banyaknya jumlah situs yang ditemukan sementara anggaran untuk mengelolanya terbatas. Sehingga tidak semua situs bisa tertangani dengan baik. 

Beruntung mulai bulan Mei 2016 lalu, dengan memanfaatkan Danais (Dana Keistimewaan), mulai dilakukan renovasi terhadap situs Warungboto oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY.  Renovasi diharapkan selesai bulan Desember 2016.
Penampilan situs Warungboto pasca renovasi
Saat mengunjungi situs Warungboto, sengaja saya mengajak keluarga, sekalian mengenalkan sejarah dengan cara yang berbeda kepada junior saya. Sering terdapat anggapan kalau mempelajari sejarah itu membosankan. Padahal sejarah itu bisa menjadi sesuatu yang mengasyikkan, tergantung bagaimana cara penyampaiannya. Salah satu cara yang mudah dan murah adalah dengan mengajak anak ke objek wisata sejarah. 

Menanamkan kecintaan untuk belajar sejarah menurut saya perlu dilakukan mengingat sejarah itu sangat penting, melalui sejarahlah kita bisa belajar banyak hal, menanamkan sikap menghargai para pejuang atau pendahulu kita, menumbuhkan nasionalisme dan rasa dan bangga sebagai orang Indonesia.

Jam 15.30 wib saya sampai di situs Warungboto. Saya memilih waktu sore hari, agar tidak terlalu panas dan mencari waktu di mana situs tersebut sepi, sehingga lebih leluasa menikmati dan mengamati suasana yang ada. Berdasar informasi, situs tersebut memang belum resmi dibuka. Sehingga pengunjung bebas keluar masuk tanpa dipungut biaya. 

Sampai di lokasi, kendaraan kami parkir di pinggir jalan, bersebelahan dengan penjual angkringan yang kebetulan buka. Sempat kebingungan karena tidak tahu jalan masuk menuju lokasi. Pintu gerbang yang ada di bagian depan bangunan situs tampak terkunci. Dan sekeliling bangunan diberi pagar berduri. Kami mencoba melihat berkeliling. Dari balik pagar kawat berduri, tampak beberapa anak muda dengan membawa kamera sudah ada di dalam bangunan. Kerumunan cewek berjilbab yang sepertinya anak-anak kuliahan juga terlihat sedang asyik berwefie di salah satu bagian situs. Tapi kami tidak tahu dari mana mereka masuk. 

Akhirnya kami putuskan untuk mampir ke angkringan sekedar minum dan mencari informasi. Dari penjual angkringan kami dapatkan keterangan bahwa bangunan yang tampak dari pinggir jalan itu, justru merupakan bagian belakang situs. Gerbang depan dari situs justru berada di sebaliknya. Kalau mau memasuki situs bangunan, kami harus memutar melalui jalan kecil di sebelah utara makam yang bersebelahan dengan situs. Dari jalan kecil tersebut di sebelah sisi kanan  jalan terlihat semacam pintu masuk ke dalam ruangan yang menjadi tempat penyimpanan kayu bakar yang di sampingnya terdapat pintu keluar yang merupakan jalan pintas menuju ke dalam situs Warungboto. 

Ternyata lumayan luas juga situs ini. Ada 2 bangunan di bekas istana Warungboto itu. Yakni bangunan di sisi barat dan bangunan di sisi timur.

Untuk bangunan di sisi barat, terdapat pintu gerbang berupa undak-undakan besar yang menghubungkan ke dalam sebuah ruangan besar di lantai 1. Ruangan tersebut tampaknya merupakan bagian paling bagus dari bangunan sebelah barat ini,  dan menjadi spot favorit dari para pengunjung. Hampir semua pengunjung antre untuk dapat mengambil gambar di sana.
Bagian utama dari bangunan sisi barat situs Warungboto
Di dalam ruangan tersebut terdapat dua buah kolam, satu berbentuk lingkaran  berdiameter 4,5 meter yang dilengkapi sumber mata air yang dulunya airnya memancar seperti air mancur (tuk umbul) dan kolam kedua berbentuk segi empat berukuran 10 meter x 4 meter. Kedua kolam saling berhubungan dengan kolam berbentuk lingkaran tadi berfungsi sebagai mata airnya. 

Di samping kanan dan kiri kolam, terdapat sebuah tangga sempit menuju ke sebuah ruangan di lantai 2 yang berbentuk seperti bujur sangkar. Dari atas ruangan ini kita bisa melihat suasana sekitar pesanggrahan. Di dalam ruangan  di lantai 2 tersebut terdapat tangga sempit menuju ke lantai 1, menuju ke arah kolam.

Seorang kawan yang rumahnya di seputaran Jalan Veteran pernah bercerita, di tahun 1990-an ketika kecil sehabis bermain sepeda di sore hari, sering mampir ke kolam itu untuk mandi dan berenang. Dapat dibayangkan di waktu tersebut mata air (tuk umbul) di kolam tersebut mengalir deras, tidak seperti sekarang yang kering kerontang tergerus pembangunan rumah-rumah di sekeliling bekas pesanggrahan.

Kondisi Pesanggrahan Warungboto, tahun 1939 dan 2015
Cukup unik struktur bangunan dari situs Warungboto ini. Banyak terdapat lorong-lorong dan tangga-tangga sempit berliku. Sepintas mengingatkan kita kepada interior istana air Tamansari. 

Sementara untuk bangunan yang berada di sisi timur saat ini baru dalam proses renovasi sehingga belum bisa dikunjungi.
Bangunan sisi timur situs Warungboto yang masih direnovasi
Meskipun masih dalam proses renovasi, animo masyarakat untuk mengunjungi situs ini terlihat cukup bagus. Ketika kami tadi sampai di lokasi, ada sekitar lebih  dari 20 orang sedang menikmati keindahan situs Warungboto.

Kebanyakan dari mereka menikmati keindahan situs sambil berselfie atau berwefie. Dan bukan tidak mungkin setelah renovasi selesai, tempat ini menjadi primadona baru untuk didatangi, terutama bagi yang suka berfoto dengan spot-spot unik, termasuk juga untuk pengambilan foto prewedding. Apalagi rencananya aliran air kolam akan dihidupkan kembali, dapat dibayangkan nanti keelokan situs Warungboto setelah selesai berbenah diri. Mudah-mudahan nantinya  setelah mengunjungi situs Warungboto, tidak hanya foto-foto bagus yang bisa dibawa pulang, namun lebih dari itu para pengunjung juga paham dengan latar belakang dan sejarah situs sehingga menumbuhkan rasa bangga dan kecintaan mereka terhadap nusantara dan kesadaran untuk turut menjaga dan melestarikannya.

Jangan sampai hanya karena ingin mendapat foto yang keren, pengunjung melakukan hal-hal yang dapat merusak situs. Ingat, situs Warungboto adalah bagian dari Jogja Heritage, #heritageku, #heritagemu, #heritage kita semua, yang harus terus dipelihara dan dijaga..

Referensi :

  1. Diko Som (5 April 2009) "Asal-Usul Nama Yogyakarta". www.didikdwia.blogspot.co.id
  2. Erwin Kusuma (1 Februari 2011) "Sultan Hamengkubuwono II Pembela Tradisi dan Kekuasaan Jawa". www.kusumanugraha.blogspot.co.id
  3. Ferryardianto (2 Maret 2016) "Pesanggrahan Era Hamengkubuwono II". www.kebudayaan.kemendikbud.go.id
  4. Gilang Giwana/Jibi (19 Mei 2016) "Bangunan Cagar Budaya : Pesanggrahan HB II dipugar, situs Warungboto "Dihidupkan" Kembali". www.harianjogja.com
  5. Mim (31 Agustus 2016) "Megahnya Situs Warungboto yang Dahulu Menjadi Lokasi Peristirahatan Keluarga Kerajaan". www.jogja.tribunnews.com
  6. Soni S.J (1 Februari 2015) "Berita Foto : Situs Warungboto, Kalau ke Jogja Jangan Lupa Berkunjung ke Sini". www.sorotjogja.com


Catatan :
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blogger #JogjaHeritage Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016

Jogja Heritage : Sejarah Unik Bakpia

Warisan sejarah Jogja, tidak hanya berupa bangunan bersejarahnya, namun juga makanannya. Siapa yang tak kenal bakpia, kudapan yang menjadi salah satu makanan khas Jogja yang banyak diminati. Dan menjadi salah satu dari Jogja Heritage yang perlu terus dikembangkan dan dipertahankan keberadaannya karena mendukung sektor pariwisata Jogja.

Salah satu usaha memperkenalkan bakpia, diantaranya melalui event Merti Bakpia (Bakpia Day) yang menjadi event tahunan yang diadakan oleh perkumpulan pengusaha bakpia di sentra industri bakpia Pathuk setiap bulan September. Kegiatan yang dimulai sejak tahun 2012 ini diselenggarakan sebagai wujud syukur dari para pengusaha bakpia, atas rejeki yang diperoleh dari usaha bakpia yang mereka jalankan. Juga sebagai upaya untuk terus mengenalkan kawasan Pathuk sebagai sentra industri bakpia kepada wisatawan dalam maupun luar negeri. Dalam event ini gunungan bakpia diarak berkeliling untuk kemudian dibagikan secara gratis kepada masyarakat yang turut menyaksikan kegiatan tersebut.
Gunungan bakpia dalam kegiatan merti bakpia 2016 (foto : www.benarnews.org)
Yang menarik adalah sebenarnya bakpia ini bukan benar-benar asli dari Jogja. Melainkan hasil akulturasi dari makanan Tiongkok yang bernama tao luk pia yang artinya roti berisi daging, dan biasanya yang digunakan adalah daging babi.

Karena di Jogja mayoritas penduduknya beragama Islam, dan cita rasa yang disuka adalah rasa manis, tou luk pia atau bakpia ini mengalami penyesuaian cita rasa. Sehingga seperti yang kita lihat, isian dari bakpia sekarang adalah kacang hijau yang ditumbuk bersama gula dan santan dengan cita rasa manis legit.

Konon, bakpia semula dibuat pada tahun 1940-an oleh seorang Tionghoa bernama Kwik Sun Kwok yang pada saat itu menyewa tanah di daerah Suryowijayan kawasan Tamansari milik penduduk setempat bernama Niti Gurnito. Kwik biasa menggunakan bahan bakar berupa arang untuk memanggang bakpia buatannya. Arang ini dibeli dari temannya, seorang Tionghoa juga bernama Liem Bok Sing. Beberapa tahun menjalankan usahanya, Kwik kemudian pindah ke lokasi lain, tidak lagi menyewa tanah milik Niti Gurnito. Usaha bakpia Kwik terus berkembang sampai kemudian pada tahun 1960 Kwik meninggal dunia dan usahanya dilanjutkan oleh menantunya.

Setelah tanahnya tidak lagi disewa Kwik, Niti Gurnito kemudian mencoba membuat bakpia juga dan menjadi cikal bakal sentra usaha bakpia di daerah Tamansari. Sementara di tahun yang sama,  Liem yang dulu menjadi tempat Kwik membeli arang, juga mencoba peruntungan dengan membuat bakpia. Pada saat itu Liem tinggal di daerah Pajeksan. Usaha Liem dan Niti Gurnito sama-sama berkembang pesat, dengan segmen pasar yang berbeda. Liem konsumennya warga Tionghoa, sementara Niti Gurnito konsumennya masyarakat Jawa. Tipe bakpia keduanya juga berbeda, bakpia Liem memiliki kulit yang tipis dengan isian kacang hijau yang lebih mois (lembab), sedangkan bakpia Niti Gurnito berkulit tebal, berisi kacang hijau yang kering dan padat.

Sekitar tahun 1948 Liem pindah dari Pajeksan ke Jalan Pathuk 75. Dan di sana Liem mengembangkan resep baru dan sukses. Usahanya inilah yang menjadi cikal bakal bakpia Patuk 75, dan menjadikan daerah Pathuk menjadi sentra industri bakpia. 
Sedangkan Niti Gurnito ternyata tidak bisa mempertahankan usahanya, sehingga sentra industri bakpia di kawasan Tamansari tersebut tutup karena kekurangpiawaian dalam pemasaran dan lokasinya yang jauh dari tempat wisata. Saat ini hanya tinggal satu toko bakpia di daerah Suryowijayan yang menggunakan merk Niti Gurnito.

Toko bakpia Niti Gurnito
Saya pribadi sangat menyukai bakpia, mulai dari cita rasanya, cerita asal-usulnya, termasuk proses pembuatannya. Bahkan, Sudah sejak lama saya berkeinginan untuk bisa membuat kue ini. Seperti pagi ini, setelah googling resep bakpia dan menyiapkan bahan, saya memutuskan untuk membuat bakpia. Dan ternyata dibutuhkan effort yang besar untuk melakukakannya, dan kesabaran yang ekstra. 

Membuat 2 adonan kulit, dan adonan isi. Menggilas dan menata adonan kulit menjadi satu untuk kemudian direndam dalam minyak selama 15 menit sebelum kemudian digilas lagi hingga tipis dan diberi adonan isi, lalu dipanggang. Total waktu yang dibutuhkan hampir 4 jam...dan hasilnya kue bakpia dengan kulit tipis 2 lapis, dengan isi kacang hijau yang lumer..lumayanlah untuk pemula seperti saya.

Perbandingan bakpia buatan saya dengan buatan toko
Bagi saya, bakpia bukan sekedar camilan biasa, "dia" adalah contoh nyata keberhasilan sebuah proses akulturasi dan adaptasi yang patut dihargai. Sebuah makanan yang secara apik berhasil membawa diri di tempat baru. Makanan yang asalnya bukan dari nusantara, namun karena keberhasilannya menyesuaikan diri dan berakulturasi dengan budaya setempat membuatnya tetap eksis dan diterima bahkan dianggap sebagai salah satu oleh-oleh khas Jogja.

Adaptasi dari bakpia sampai saat inipun masih terus berlanjut, dengan diversifikasi rasa disesuaikan dengan perkembangan jaman. Kalau dulu varian rasa dari bakpia hanya kacang hijau dan kumbu, sekarang banyak dijumpai varian rasa seperti keju, coklat, strawberi, durian, green tea, dan lain-lain. Dari sisi kemasannya pun banyak perubahan, kalau dulunya hanya menggunakan besek dari anyaman bambu, kemudian berkembang ke kemasan dari kertas minyak, sekarang kemasan telah berubah lebih fancy. Menggunakan kemasan kotak dari kertas karton yang dilengkapi label/merk dengan desain yang menawan sehingga membuat penampilan bakpia lebih menarik. 

Pengakuan terhadap eksistensi bakpiapun semakin terasa. Tidak hanya generasi tua, yang muda pun menyukainya. Bahkan pihak keratonpun menjadikannya bakpia sebagai salah satu hidangan yang disajikan di perhelatan agung pernikahan putri Sri Sultan Hamengkubuwono X, Gusti Bendara dan KPH Yudanegara, yang diselenggarakan tanggal 18 Oktober 2011 lalu. Artinya, bakpia yang semula hanya merupakan makanan rakyat, telah menjadi hidangan yang berkelas.

Sungguh istimewa sejarah perjalanan bakpia. Dan sudah seharusnya kita bisa menjadi seperti bakpia, dapat membaur dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, menghargai kebiasaan dan budaya setempat namun tetap menunjukkan kekhasan yang menjadi ciri identitas kita yang membuat kita bisa tetap eksis dan diterima di masyarakat sehingga bisa berbuat lebih banyak lagi...

Referensi :
  1. A. Budi Kurniawan / Erwin E. Prasetya (3 Januari 2014). "Bakpia, Buah Tangan Toleransi dan Akulturasi". www.travel.kompas.com.
  2. Kusumasari Ayuningtyas (21 September 2016). "Merti Bakpia, Kirab Wujud Rasa Syukur". www.benarnews.org
  3. Yan (15 Oktober 2011). "Pawiwahan Ageng Jadi Aset Budaya dan Pariwisata". www.krjogja.com.

===============================

Catatan :
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blogger #JogjaHeritage Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016