Kamis, 24 November 2016

Honje Resto

Hai moms..

Rabu sore kemarin, cuaca Jogja lumayan cerah, tidak diguyur hujan seperti biasanya. Sepertinya semesta ikut mendukung rencana pertemuan saya dengan seorang kawan SMA yang kebetulan baru ada tugas di Jogja dan ingin kumpul-kumpul dengan kami-kami yang masih stay di Jogja. Pertemuan seharusnya dilaksanakan hari Selasa tetapi tertunda karena cuaca.

Bagi saya, kopdar ini semacam hadiah kecil yang diberikan Tuhan kepada saya karena beberapa hal bisa selesai sekaligus. Nengokin teman yang baru punya baby, kumpul nyambung silaturahmi dan yang pasti mencicipi hidangan kegemaran, yakni aneka olahan dari bunga kecombrang aka honje di tempat yang lumayan kece yakni Honje Resto.

Sudah lama saya ingin mencicipi hidangan kecombrang ala Honje Resto setelah sebelumnya sudah pernah mencoba nikmatnya olahan kecombrang di Mak Combrang. Sayangnya suami tidak terlalu suka dengan aroma kecombrang. Sehingga keinginan untuk ke Honje resto ditunda untuk waktu yang tidak ditentukan, he..he..he....

Restoran bernuansa putih ini hadir di kota Jogja sekitar tahun 2015 dan menjadi satu dengan showroom tas merk Dowa. Menempati bangunan tempo dulu, restoran ini menawarkan suasana makan yang asyik, perpaduan antara menu makanan yang unik dan tempat makan dengan desain interior yang apik yang cocok untuk berfoto. Terletak di sebelah barat selatan tugu Jogja, tepatnya di Jalan Margo Utomo 125, restoran ini juga menawarkan view berlatar belakang tugu Jogja yang menawan.
Latar belakang tugu jogja yang menawan

Sekitar pukul 19.30 WIB saya sampai di sana. Menapaki tangga menuju ke restonya. Yang menonjol dari interior bagian dalam resto adalah ubin lantai yang warna-warni dan hiasan bunga kecombrang yang terdapat di setiap meja. Bunga kecombrang yang punya nama ilmiah Etlingera elatior adalah sejenis tumbuhan rempah dan merupakan tumbuhan tahunan berbentuk terna yang bunga, buah, serta bijinya dimanfaatkan sebagai bahan sayuran. Nama lainnya adalah kincung (Medan), kincuang dan sambuang (Minangkabau) serta siantan (Malaya). Orang Thai menyebutnya daalaa. Di Bali disebut kecicang sedangkan batang mudanya disebut bongkot dan keduanya bisa dipakai sambal matah (wikipedia). Ketertarikan dan kecintaan saya terhadap kecombrang sudah pernah saya ceritakan di sini. Di Jogja bunga ini susah sekali ditemui.

Setelah ngobrol dan berbasa-basi sebentar, tiba saatnya kami memilih menu untuk bersantap. Saya sendiri memilih salad honje, nasi campur honje dan wedang sereh. Teman saya yang lain ada yang memilih nasi goreng honje, fish chip honje, salad tuna honje, sup iga dengan minuman ice coffee latte dan ice coffee hazelnut. Sedang untuk hidangan pembuka, kami memilih churos dan tahu cabai garam. Agak lama menunggu menu dihidangkan. Dan sebenarnya ini waktu yang cocok untuk eksplor ruangan di honje resto. Tetapi karena saya lagi malas gerak, saya hanya jepret-jepret sekenanya.

Suasana cozy honje resto (doc pri)
Bunga honje, menjadi pajangan di setiap meja (doc pri)

Setelah menunggu selama beberapa waktu, akhirnya pesananpun datang.
# Untuk wedang sereh, disajikan dalam teko dan cangkir kecil dilengkapi dengan gula batu dan irisan jeruk nipis. Rasa manisnya pas, tambahan perasan jeruk nipis di dalamnya memberikan efek rasa segar dan hangat. Sangat cocok diminum di malam yang dinginnya mulai terasa.
Wedang sereh (doc instagram @honjeresto)

# Setelah itu saya coba mencicipi salad honjenya.
Salad hinje (doc instagram @honjeresto)

Tadinya sempat mengira kalau isinya bunga honje yang diiris halus dan diberi dressing olive oil dan campuran kacang yang pernah saya nikmati rasanya di vietnam dulu. Tetapi ternyata yang ini berbeda. Salad honje ini isinya campuran buah dan sayur yang dipotong-potong dan diberi taburan kacang almond. Honjenya sendiri tidak menjadi bahan utama dari saladnya. Hanya dressingnya yang menggunakan campuran olive oil dan syrup honje berasa manis berwarna merah. Secara rasa menurut saya monoton. Hanya manis saja. Sensasinya berbeda jauh dengan salad honje yang pernah saya coba dulu yang ada cita rasa asam dari honje, dan gurih lezat dari kacang dan dressingnya.

# Untuk menu pembuka berupa tahu cabe garam, rasanya enak.
Tahu cabe garam (doc instagram @honjeresto)

Pedas dan gurih. Taburan irisan cabai hijau dan merah di atasnya sangat menggugah selera untuk dicoba. Serasa tidak bisa berhenti menikmatinya.

# Churosnya juga lumayan lezat. Tidak kemanisan dan empuk.
Churos (doc instagram @honjeresto)

Dihidangkan dengan taburan gula halus bersama saus coklat dan es krim vanila.

# Untuk nasi campur honje, dari penampilannya terlihat menggoda.
Nasi campur honje (doc instagram @honjeresto)

Banyak sekali lauknya. Ada sate lilit, oseng daging, ayam suwir honje, telur ceplok, kering teri, sambal, ca brokoli, dan kerupuk. Penuh sekali piringnya. Nasinya pulen dan wangi. Untuk ayam suwir honje,menurut saya kurang menonjol rasa dan aroma honjenya. Sate lilitnya empuk, lezat sekali. Apalagi dicocol saus tartar (saya nyolek punya teman yang order chip fish). Untuk dagingnya menurut saya rasanya terlalu manis. Demikian juga dengan kering terinya. Untuk penyuka cita rasa honje, unsur honje dalam hidangan ini kurang nendang. Mungkin sebaiknya menu yang dipilih nasi ayam honje saja. Sehingga rasa honje tidak bercampur dengan cita rasa hidangan lain. Secara keseluruhan nasi campur honje lezat, poin 7,5 lah..buktinya saya habis...hanya menyisakan sedikit remahan lauk dan sambal. Dan hasilnya saya pun kekenyangan..
Sisa-sisa hidangan yang tersaji (doc pri)

Obral-obrol (doc pri)

Demikian sekilas review saya tentang pengalaman makan malam di honje resto. Untuk kisaran harganya,ya lumayan.. Tetapi worth it lah untuk suasana makan yang ditawarkan.

Untuk menu pembuka sekitar 40rban
Aneka Minuman mulai 20rban
Menu utama mulai 50rban.

Penasaran juga? Yuk mampir...
* maaf untuk foto hidangan saya ambil dari instagram @honjeresto, soalnya kemarin karena keburu kalap, hidangan langsung diserbu.tanpa didokumentasikan dulu..he..he..he..

Baca juga :
Bakso Halal di Jogja

Sabtu, 12 November 2016

Menjelajahi Cita Rasa Olahan Tempe Modern melalui Acara "Tempe Dinner Experience"

Tanggal 9 November lalu, saya berkesempatan menjadi salah satu partisipan dalam kegiatan pengambilan data penelitian yang dilakukan Dwi Larasati Nur Fibri yang tengah menjalani studi S3 di University of Copenhagen Denmark jurusan Food Science.
Tempe dinner experience (doc pri)
Kegiatan pengambilan data penelitian yang diberi tajuk "Tempe dinner Experience" ini merupakan kerjasama UGM, Gadjah Wong resto, Nordic Food Lab, dan Copenhagen University yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara manusia dengan makanan dalam konteks gastronomi (warisan kuliner) dengan tempe sebagai bahan utamanya. Bertempat di Gadjah Wong Resto yang berlokasi di Jl Afandi Jogja.

Tempe dipilih karena sudah diakui dunia sebagai makanan khas Indonesia yang berasal dari Jawa, khususnya Jogja.

Dalam acara ini, para peserta diminta untuk menikmati aneka menu olahan tempe yang diolah.dan disajikan secara modern, dan memberikan evaluasinya dengan mengisi kuesioner yang diberikan. Berbagai hidangan berbahan baku tempe ini disajikan secara set menu, yang terdiri dari 2 hidangan pembuka, 2 hidangan utama, dan 2 hidangan penutup, yang disajikan satu persatu secara berurutan. Sehingga nanti total ada 6 hidangan yang dinilai.

Acara dimulai pukul 19.00 dan selesai pukul 22.00 WIB. Waktu 3 jam yang diberikan cukup memberikan waktu bagi para peserta Tempe Dinner Experience menikmati hidangan dengan leluasa sehingga bisa mengisi kuesioner dengan baik. Untuk setiap hidangan, kami harus memberikan penilaian yang terdiri dari uji sensoris yang meliputi rasa, tekstur dan aroma dari makanan, collative properties, dan emotion. Untuk 2 penilaian yang terakhir lebih kepada unsur perasaan dan emosi sehingga agak absurd untuk dijelaskan, jadi nanti saya cerita yang penilaian berdasar uji sensori saja.

Oh ya, dalam lembar evaluasi, kami juga diminta untuk memilih kisaran harga dari menu yang disajikan tersebut dan juga pendapat apakah hidangan tersebut layak disajikan di resto fine dining seperti Gadjah wong Resto atau tidak.

Sedikit informasi mengenai restoran tempat diselenggarakannya kegiatan. Gadjah Wong resto adalah restoran mewah yang menggabungkan unsur tradisional dan modern dalam desain tata ruangnya.

Memiliki 3 ruang  yang ditawarkan untuk bersantap, yakni ruang bebek, ruang gajah dan ruang kura-kura. Setiap ruang memiliki perbedaan dari sisi hiburan yang ditampilkan. Ruang bebek menyajikan hiburan musik jazz dan klasik, ruang gajah, menampilkan musik latin dan suasana kolonial Belanda, sedangkan ruang kura- kura menampilkan nuansa tradisional Jawa dengan dekorasi etnik dan iringan gamelan sebagai hiburannya.

Sebenarnya banyak yang bisa dieksplorasi dari Gadjah Wong Resto dari sisi desain interior dan penataan tamannya. Sayangnya saat itu hujan turun dengan deras, jadi saya tidak bisa berkeliling melihat-lihat suasana.

Kegiatan tempe dinner experience kemarin digelar di ruang kura-kura. Sekitar 50an orang mungkin yang hadir dalam acara tersebut. Seluruh meja yang disediakan tampak penuh. Sambil menunggu acara dimulai, saya duduk di meja yang disediakan sambil menikmati welcome drink berupa cold lemongrass and ginger fussion (minuman dingin dari sari jahe dan daun sereh). Rasanya manis, hangat, dan segar. Cocok sekali dengan cuaca malam itu yang dingin karena guyuran hujan.


Sekitar pukul.19.00 WIB acara dimulai, diawali dengan pengenalan dari si empunya acara dan dilanjutkan penjelasan mengenai tata cara pengisian kuesioner. Setelah itu hidangan mulai disajikan satu-persatu, berikut berbagai sajian yang saya nikmati...

* Menu pembuka, sebagai appetizer disediakan 2 macam hidangan pembuka,  yaitu :
1. Spring roll filled with local soybeans tempe ( lumpia isi tempe lokal).
Spring roll filled local soybean tempe (doc pri)
Hidangan ini berupa lumpia yang diberi isian tempe yang dipotong kecil-kecil dan disajikan bersama saus sambal. Ketika digigit, renyahnya kulit lumpianya terasa krezz, cruncy sekali. Rasa khas dari tempe langsung terasa oleh saya, rasa gurih khas kedelai. Aroma tempe juga tercium. Dari sisi cita rasa menurut saya tidak banyak berbeda, rasa tempenya dengan cepat saya kenali. Tetapi dari sisi tampilan lumayan mengundang selera untuk dicoba.
Jika harus memberi nilai dari skala 1-10, hidangan ini saya beri nilai 7. Dengan kisaran harga yang saya sarankan 11rb -15rb rupiah.

2. Imported soybean tempeto on root and leaf (Tempeto kedelai import di daun dan akar)
Unik sekali bukan namanya? seunik rasa dan penampilannya.
Imported soybean tempeto on leaf and root (doc pri)
Hidangan ini bernama tempeto kedelai, yang disajikan seperti sate lilit dengan menggunakan tusuk dari batang sereh, dengan taburan biji-bijian seperti petai yang dipotong kecil-kecil dan dilengkapi saus yang berasa manis. Dalam penyajiannya dilengkapi dengan daun basil yang diatasnya potongan kolang-kaling yang diasamkan dan diberi bunga telang yang dikukus dan dihiasi  potongan kedelai. Tempeto adalah semacam tempe semangit (tempe setengah busuk) yang proses fermentasi atau pembusukannya tidak terjadi secara alami tetapi dikondisikan di dalam laboratorium dengan pemeraman di suhu 50 derajad celcius.

Dari sisi cita rasa, benar-benar mengejutkan, perpaduan rasa pahit, gurih, manis, dan asam. Semula saya merasa aneh..namun kemudian saya menikmati sekali rasanya. Dan ini adalah kali pertama saya mencicipi daun basil dan bunga telang.
Nilai untuk hidangan ini adalah 8,5. Kisaran harga yang saya berikan 11 - 15rb. Hidangan ini termasuk.favorit saya.

* Menu utama, hidangan yang disajikan untuk menu utama adalah :
1. Imported soybean tempe sate with lontong atau hidangan sate tempe yang berasal dari kedelai import dan lontong.
Imported soybean tempe sate with lontong (doc pri)
Sekilas hidangan ini tampak menarik, potongan tempe yang ditusuk berselang-seling dengan sayuran paprika, dengan saus manis yang diberi wijen dan potongan bawang bombay, dihidangkan bersama sambel goreng tempe, kering tempe, sambal, acar, dan lontong.
Cita rasa manis mendominasi hidangan ini, meskipun ada rasa pedas dari sambel goreng tempe, tapi tidak mengurangi rasa "neg" yang timbul dari rasa manis yang ada. Sekilas hampir mirip dengan makan bacem tempe yang tidak digoreng, ditambah saus yang manis. Kurang cocok untuk lidah saya. Jadi untuk hidangan ini saya memberikan nilai 6.
Tetapi ini penilaian pribadi saya lho...karena teman semeja saya ternyata bisa menghabiskan hidangan ini dengan cepat, padahal porsi hidangan lumayan banyak. Jadi balik lagi ke masalah selera..

2. Rice, ginger leaves and tempeto sauce from velvet bean ( nasi, daun ginseng dan saos tempeto dari tempe benguk).
Rice, ginger leave and tempeto sauce from velvet bean (doc pri)
Nah...untuk hidangan ini saya suka sekali..favorit malah..sempat underestimate dengan tampilannya yang sederhana..namun ternyata rasanya juara. Ini adalah olahan nasi yang dibentuk bulat gepeng seperti beef untuk isian burger, yang digoreng dengan sedikit minyak, yang diatasnya diolesi saus tempeto dari tempe benguk dan dihiasi daun ginseng yang diatasnya diberi saus kuning berasa asam. Suapan pertama memberikan rasa aneh, sensasinya hampir mirip ketika saya mencicipi hidangan tempeto di menu pembuka. Tekstur nasinya empuk sedikit kenyal, dengan saus tempeto yang lembut dan berasa gurih manis dan asam. Saya merasa hidangan ini sangat enak. Sehingga hanya butuh waktu sekejap untuk menghabiskannya. Nilai yang saya berikan untuk hidangan ini adalah 9, dan dengan senang hati saya akan mencobanya lagi jika menu ini dihidangkan lagi. Kisaran harga yang saya berikan.untuk hidangan ini adalah 26-30rb .

* Hidangan penutup
Hidangan penutup yang disajikan adalah
1. onde-onde es campur with velvet bean tempe. Yakni onde-onde yang diberi isian velvet bean tempe atau tempe benguk yang ditumbuk dan es campur yang berisi aneka buah dan puding tempe.
onde-onde es campur with velvet bean tempe (doc pri)

Untuk onde-ondenya ketika digigit terasa renyah dan gurih. Hanya saja ada rasa pahit manis dari isian yang berasal dari tempe benguk. Untuk onde-ondenya saya tidak terlalu suka. Untuk es campur, rasanya segar dan manis. Puding tempenya juga terasa lembut, ada sensasi gurih dan manis. Lezat sekali. Secara keseluruhan saya berikan nilai 7 untuk hidangan ini.
Untuk kisaran harga 20-25rb rupiah sepertinya pas untuk menu ini.

2. Snake fruit juice, fem leaves and local soybean tempeto atau Jus salak, daun pakis, dan tempeto dari kedelai lokal. Jujur ketika hidangan ini keluar, saya bingung gimana mencicipinya. Secara tampilan tidak terlalu menarik bagi saya..hihi..dan ketika saya mencobanya, rasa yang ada didominasi dengan rasa asam dan pahit dari tempetonya.
Snake fruit juice, fem leafes and local soybean tempeto (doc pri)

Dan terus terang, lidah saya belum mampu beradaptasi dengan rasa tersebut. Meskipun ketika pulang saya masih penasaran, apakah saya keliru dalam tata cara mencicipinya sehingga tidak bisa merasakan keunikan dan kelezatan dari hidangan tersebut.

Demikian cerita saya tentang pengalaman saya menjelajahi rasa tempe yang diolah ala Eropa. Beberapa dari hidangan yang disajikan saya suka dan cocok dengan rasanya, beberapa lagi masih butuh adaptasi. Namun yang pasti even ini memberi bukti bahwa olahan tempe bisa naik kelas menjadi hidangan restoran tergantung bagaimana cara kita mengolahnya. Bagaimana menarik bukan?

#tempe dinner
# Gadjahwonggardenresto
# UGM
#NordicFoodLab
#CopenhagenUniversity

Jumat, 04 November 2016

Nikmatnya Suwir Tongkol Rica-Rica, Olahan Sederhana Penggugah Selera

postimage

Negara kita adalah negara bahari, tetapi sayangnya tingkat konsumsi ikan di masyarakat masih tergolong rendah. Padahal ikan memiliki kandungan gizi yang tinggi, dan harganya pun lebih murah dibandingkan harga daging merah. 

Alasan kenapa masyarakat Indonesia tidak terlalu gemar makan ikan memang belum ada penelitian pasti, tetapi berdasar pengalaman saya sewaktu kecil, saya dulu kurang suka makan ikan karena cara memasaknya yang monoton, cuma digoreng atau dibakar saja. Baunya juga amis, belum lagi adanya duri di sela-sela daging ikan yang membuat sedikit repot ketika memakannya. Selain itu, saya pernah alergi ketika mengkonsumsi sejenis ikan kecil-kecil yang kalau tidak salah namanya impun. 

Tetapi setelah saya dewasa, pandangan saya terhadap ikan menjadi berbeda. Apalagi setelah saya menghadiri pameran produk hasil olahan ikan yang pernah digelar di kota Jogja beberapa bulan yang lalu. Banyak sekali produk yang bisa dibuat dari ikan dan produk laut lainnya. Salah satunya tahu bakso tuna yang sangat disukai anak saya. Saya menjadi sangat mencintai berbagai olahan ikan. Bahkan lebih memilih ikan dibanding ayam atau daging merah, salah satunya karena pertimbangan kesehatan, yang berdasar penelitian diperoleh kesimpulan ikan lebih aman bagi kesehatan tubuh, terutama untuk organ jantung. 

Ikan akan menjadi hidangan yang istimewa jika kita tahu cara mengolahnya. Dan ikan ini bisa diolah menjadi aneka masakan baik kering, maupun berkuah, atau dibuat menjadi produk frozen food, seperti bakso, nugget, kaki naga, dan lain-lain. Bau amis dari ikan, bisa dinetralisir dengan pemberian jeruk nipis sebelum proses pengolahan dilakukan. Selain itu, bumbu-bumbu untuk membuat hidangan dari ikan, hendaknya menggunakan berbagai jenis rempah yang dapat menghilangkan bau amisnya. 

Salah satu resep olahan ikan yang saya sangat suka karena praktis dan sedap adalah suwir tongkol rica-rica. Ada juga yang menyebutnya tongkol mercon. Mungkin disebut mercon karena penambahan cabai yang super banyak, sehingga rasanya nampol di mulut, serasa seperti ledakan mercon. Sumpah...rasanya sedap banget, apalagi dinikmati bersama nasi panas, bakal nambah terus pokoknya. Dijadikan teman untuk makan roti tawar juga enak..dijodohin sama ubi rebus juga yummy...

Resep ini saya dapat dari cookpad, olahan dari Mbak Nisa Annisa Nurfairuza yang bisa di cek di sini. Saya googling karena penasaran dengan rasa ikan tongkol mercon yang pernah berseliweran di beranda facebook, dan ingin mencoba bikin sendiri. Penasaran juga? Berikut saya tuliskan resepnya..

Resep suwir tongkol rica-rica

Bahan yang dibutuhkan :
250 gram pindang tongkol
4 siung bawang putih
6 butir bawang merah
10 buah cabe merah keriting
6 buah cabe rawit merah pedas, boleh ditambah tergantung selera
10 lembar daun jeruk purut
3 batang serai
1 sdt garam
1 sdt gula
royco ayam secukupnya (saya skip)
minyak untuk menggoreng

Cara membuat :
  1. Ikan tongkol dicuci dan dihilangkan duri-durinya, kemudian dagingnya disuwir-suwir dan dimasukkan ke minyak dingin, baru dimasak menggunakan api sedang. Goreng ikan sampai kering, kemudian tiriskan.
  2. Iris tipis semua bumbu(bawang merah, bawang putih, cabe, batang.serai, daun jeruk).
  3. Masukkan semua bumbu ke dalam minyak dan aduk sampai matang. Setelah bumbu matang, masukkan tongkolnya. Tambahkan gula, garam, dan royco. Test rasa, diamkan sebentar biar bumbu meresap dan wangi.
  4. Siap disajikan dan dinikmati bersama nasi panas.
Suwir tongkol rica-rica ala saya (dok.pri)

Gampang kan?? Anak saya juga suka lho..cuma kalau buat anak, biasanya cabenya 1, itu juga isinya saya buang, pedasnya sekedar untuk rasa-rasa saja. Biasanya anak saya memakannya bersama nasi yang dikepal-kepal dan Suwir tongkolnya tersembunyi di dalam nasinya...jadi semacam onigiri KW. Kandungan protein dari ikan tongkol juga tinggi, sehingga bagus untuk anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Setiap 100 gram ikan tongkol, memiliki kandungan energi 117 kkal, protein 23,2 gr, dan lemak 2,7 gr.

Saya memang selalu mengupayakan minimal seminggu 2 kali memasukkan masakan olahan laut ke dalam menu makan keluarga, ceritanya saya ingin ikut mendukung Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) yang dicanangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi ikan.

Oh ya, bicara tentang produk olahan laut saya jadi ingat, beberapa waktu yang lalu saya mendapat kiriman sambal roa dari teman. Ada 3 level pedas yang dikirim, dari yang tidak pedas, sampai sangat pedas. Dan menurut saya, semakin pedas rasanya semakin nikmat.

Roa adalah nama sejenis ikan terbang yang banyak ditemui di perairan laut Utara Pulau Sulawesi. Salah satu olahan yang terkenal dari ikan roa adalah sambal roa, yang merupakan salah satu oleh-oleh khas Manado yang banyak digemari. Sayapun jatuh cinta dengan cita rasanya. Tekstur ikan roa asap yang dihaluskan,bercampur dengan cabe, dan bumbu rempah lain yang digiling halus,  menimbulkan sensasi rasa gurih lezat yang khas. Jadi ingin mencicipi ikan roa langsung di daerah asalnya...

Manado adalah ibu kota dari Sulawesi Utara. Terletak di Teluk Manado, dan merupakan kota pesisir yang berbukit. Taman laut Bunaken, merupakan pesona wisata terkenal yang ada di sana. Dari sisi kuliner, karena merupakan daerah pantai yang mata pencaharian masyarakatnya adalah nelayan, sudah pasti makanan di daerah Manado banyak yang berbahan baku ikan. Khas dari masakan Manado adalah pedas, dengan bumbu berempah yang kuat. Salah satu contohnya adalah woku ikan. Selain itu, makanan khas Manado yang terkenal lainnya adalah bubur tinotuan. Yakni bubur nasi yang diberi aneka sayuran seperti labu, bayam, kemangi, ubi jalar dan lain-lainnya. Sebagai pelengkap dihidangkan pula sambal dabu-dabu dan ikan asin sebagai taburan. Konon, masakan bubur tinotuan ini dulunya berawal karena kondisi susah dari masyarakat setempat akibat penjajahan Belanda. Sehingga untuk berhemat, mereka memasak nasi menjadi bubur agar bisa dikonsumsi untuk seluruh anggota keluarga.

Sepertinya unik sekali kota ini...selain bisa berwisata alam, wisata sejarah dan wisata kulinernyapun menarik untuk dinikmati. Apalagi saya termasuk tipe petualang rasa, asal hidangan itu halal dan tidak berbahaya untuk tubuh, dengan senang hati saya akan mencobanya. Saya berprinsip, belum lengkap kita berwisata ke suatu daerah sebelum mencicipi kuliner khasnya. Semoga suatu hari nanti keinginan berwisata sambil kulineran di kota Manado ini dapat terlaksana...

"Jelajah Gizi, Jelajah Gizi Minahasa, Sarihusada, Nutrisi Untuk Bangsa"