Rabu, 27 September 2017

Jelajah 4 Museum, Cara Seru Belajar Sejarah sambil Berpetualang

Menjadi salah satu dari ratusan peserta jelajah 4 museum yang dilaksanakan di Benteng Vredeburg pada hari Minggu, 24 September 2017 pukul 14.00-20.00 WIB kemarin, memberikan kesan tersendiri buat saya. Takjub dengan animo masyarakat terutama generasi muda terhadap acara ini adalah salah satunya.
Pamflet acara jelajah malam museum, doc : malamuseum
Betapa tidak, acara yang mengambil konsep triathlon race ini dipenuhi oleh wajah-wajah berseri, bersemangat dan antusias dari para peserta yang kebanyakan datang dari kalangan muda. Bahkan menurut keterangan panitia, ada 500 pendaftar yang berminat mengikuti acara ini, meskipun pada akhirnya banyak yang ditolak karena terbatasnya kuota.

Kegiatan jelajah 4 museum merupakan kerjasama antara komunitas malamuseum dengan Museum Benteng Vredeburg.
Sebuah kegiatan yang dikemas dalam bentuk games interaktif dan petualangan ini dimaksudkan untuk menarik minat masyarakat khususnya generasi muda untuk berkunjung dan mencintai museum bahkan menjadikan museum sebagai sahabat, dengan sapaan khasnya "salam sahabat museum, museum di hatiku".

Tema jelajah malam museum kali ini adalah "Pahlawan Idolaku", dengan mengambil materi pembebasan Irian Barat. Sehingga nama kelompok yang dipakai adalah nama operasi militer yang digunakan pada saat itu. Adapun keempat museum yang akan dituju adalah Museum Benteng Vredeburg, Museum Sasmitaloka Panglima Besar Sudirman, Museum Dewantara Kirti Griya, dan Museum Perjuangan.

Agar lebih mengena, sebelum kegiatan berlangsung setiap peserta diberikan materi tentang pembebasan Irian Barat yang bisa dibaca dan dicermati. Dalam materi tersebut dijelaskan mengenai Trikora atau Tri Komando Rakyat sebagai langkah awal upaya pembebasan Irian Barat dan misi serta peran masing-masing operasi militer dalam keberhasilannya membebaskan Irian Barat. Sehingga dalam mengikuti kegiatan jelajah museum ini diharapkan para peserta lebih mengenal dan membawa semangat dari para pejuang Trikora dalam menjalankan misinya.

Dalam kegiatan jelajah museum kali ini, para peserta dibagi dalam 4 grup besar
yang terdiri dari :
GRUP I : Operasi banteng ketaton, yang terbagi dalam 3 kelompok yakni :

  1. Operasi Banteng Ketaton Mayor Udara Nayoan.
  2. Operasi Banteng Ketaton Letda Heru Santosa.
  3. Operasi Banteng Ketaton Letda Agus Hernoto.

GRUP 2 : Operasi Srigala, terbagi dalam 2 kelompok yakni :

  1. Operasi srigala Letnan Udara II Manuhua.
  2. Operasi Srigala Letda Heru Santosa.

GRUP 3 : Operasi Naga, terbagi dalam 3 kelompok, yakni :

  1. Operasi Naga Letda Soedarto.
  2. Operasi Naga Kapten Bambang Soepeno
  3. Operasi Naga Kapten Benny Moerdani

GRUP 4 : Operasi Jatayu, terdiri atas 3 kelompok yakni :

  1. Operasi Jatayu Kapt Psk Radix Sudarsono.
  2. Operasi Jatayu Mayor Untung.
  3. Operasi Jatayu Mayor Udara II B. Matitaputty.

Setiap kelompok terdiri dari 10 peserta, termasuk 1 orang yang dipilih menjadi komandan. Nantinya masing-masing peserta akan diberi peta jelajah yang berisi rute yang harus dilalui. Setiap rute, ditempuh dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang dengan jalan kaki, naik jeep, dan bersepeda. Selain itu diberikan juga atribut berupa kaos, topi, name tag, dan tas yang harus dikenakan selama berpetualang.

Fasilitas peserta, doc : Theresia Rani

Peta rute jelajah, doc : Pipiet Dhamayanti

Sebagai amunisi, peserta dibekali dengan air mineral dan uang-uangan yang bisa dibelanjakan kudapan dan makan malam di warung gerilya dan dapur umum yang disediakan di seputar Benteng Vrederburg.

Dalam rangka pelaksanaan jelajah museum ini, Museum Benteng Vredeburg memang ditata sedemikian rupa sehingga mencitrakan suasana perjuangan. Ada dapur umum, warung gerilya dan markas perjuangan. Para panitia yang bertugas juga mengenakan pakaian tempo dulu seperti yang biasa dikenakan pada masa perjuangan. Makanan yang terhidang juga makanan tradisional khas tempo dulu, seperti thiwul, lupis, dan gathot.
Logistik kudapan, doc : Pipiet Dhamayanti
Kegiatan jelajah museum diawali dengan registrasi ulang dan pembagian kelompok, yang dilanjutkan dengan acara seremoni berupa pengumuman dan aturan lomba dari panitia, serta pembukaan kegiatan yang ditandai dengan pemukulan kentongan oleh ibu Zaimul Azzah, M.Hum selaku kepala Museum Benteng Vredeburg.

Antrian Registrasi, doc : Pipiet Dhamayanti

Pembukaan acara oleh Kepala Museum Benteng Vredeburg, doc : pri

Sekitar pukul 14.40 kami bersiap untuk berangkat. Dalam kegiatan jelajah 4 museum ini, saya tergabung dalam kelompok Operasi Naga Letda Soedarto bersama 9 kawan saya yang berbeda-beda latar belakang. Kebanyakan dari mereka masih muda-muda, dengan status mahasiswa. Meskipun ada juga yang sudah ibu-ibu seperti saya. Tapi semua memiliki satu kesamaan, berjiwa muda dan ceria.
Kami siap beraksi, doc : Amma
Misi pertama kami adalah menuju museum Sasmitaloka Panglima Besar jenderal Sudirman yang kami tempuh dengan berjalan kaki. Jaraknya lumayan juga, cuma karena kami tempuh berbarengan dan dengan rasa senang, rasa lelah tidak terasa.

Berjalan menuju post 1, doc : Pipiet Dhamayanti

Museum ini terletak di daerah Bintaran dan dulunya memang bekas tempat tinggal Jenderal Sudirman. Sesampainya di Museum Sasmitaloka Pangsar Sudirman, kami menemui panitia yang sudah menunggu di sana. Dan oleh panitia, kami diberi misi untuk menjawab berbagai pertanyaan yang jawabannya ada di dalam museum.

Di dalam museum ini, kita bisa melihat sejarah kehidupan seorang pemberani dengan nasionalisme dan semangat juang yang tinggi. Yang dengan keterbatasannya tetap tidak patah semangat terus memimpin pasukannya melawan belanda memimpin perang gerilya.

Segala hal tentang kehidupan Pangsar Sudirman ada di museum ini. Mulai dari masa kecil, silsilah keluarga, barang-barang pribadi, berbagai peristiwa yang beliau alami semua terdokumentasi rapi.

Selesai misi yang pertama, segera kami melanjutkan misi yang kedua. Menuju museum Benteng Vredeburg, masih dengan berjalan kaki. Berbondong-bondong kami segera kembali menyusuri jalan menuju titik keberangkatan kami tadi.

Melewati jalan yang lumayan ramai dengan aktifitas sore para warga membuat kami harus hati-hati terutama saat harus menyeberang jalan. Diselingi obrolan ringan, tidak terasa tempat yang dituju sudah mulai terlihat. Sesampainya di Museum Benteng Vredeburg kami melanjutkan misi yang kedua. Ada 2 tugas yang harus kami lakukan yakni membatik dan menjawab pertanyaan yang tentu saja jawabannya bisa kami jumpai di museum..

Sekilas tentang Museum Benteng Vredebug. Museum Benteng vredeburg yang terletak di Jl A. Yani ini, secara bangunan memang sudah terlihat menarik. Khas peninggalan kolonial. Mengelilingi sudut-sudut benteng sangat mengasyikkan, serasa terbawa kembali ke masa lampau. Bangunan dan halaman terawat rapi, pohon-pohon banyak dan rindang sangat pas buat duduk bersantai melepas kepenatan seusai berkeliling museum.
wefie dengan latar belakang Benteng Vredeburg, doc : amma

Dahulu, Benteng Vredeburg bernama Rustenberg yang dibangun untuk melindungi pejabat Belanda dari serangan prajurit keraton.  Kemudian diganti Vredeburg pada tahun 1760 setelah dipugar oleh Sultan Hamengku Buwono I. 

Banyak peristiwa penting yang terjadi di benteng ini, mulai disusunnya rencana untuk menjebak Pangeran Diponegoro yang menentang Belanda sampai digunakan untuk menahan tokoh-tokoh Jogja yang anti Belanda sebelum dibuang ke luar Pulau Jawa.

Saat ini Benteng Vredeburg difungsikan sebagai museum khusus Sejarah Perjuangan Nasional. Banyak diorama yang ditampilkan sebagai penggambaran perjuangan pada masa lalu yang cukup menarik untuk kita ketahui. 
Salah satunya terdapat koleksi gogok dan poci, sebagai saksi perjuangan di markas gerilya WA KSAD Zulkifli Lubis di rumah bapak Marito di dusun Srunggo Selopamioro Imogiri Bantul. Gogok adalah tempat untuk menyimpan candu yang diselundupkan untuk dijual dan uangnya digunakan untuk membiayai perjuangan pada saat itu. Sedangkan poci digunakan untuk minum.

Setelah menjalankan misi yang kedua, kami beristirahat untuk sholat dan menikmati kudapan kedua. Semangkok wedang ronde ditemani kacang dan singkong rebus serta sepotong mendoan hangat lumayan bisa mengusir lelah yang mulai terasa.
Kurang lebih selama 30 menit kami istirahat. Untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju post selanjutnya.

Museum ketiga yang kami kunjungi adalah Museum Perjuangan yang ada di Jl Kol Sugiyono. Berbeda dengan post pertama dan kedua yang kami tempuh dengan berjalan kaki, kali ini kami ke sana dengan mengendarai jeep..yeayy..
Ini adalah pengalaman pertama saya naik jeep army. Seru sih...rame-rame membelah malam naik jeep. Tapi jujur saya agak kesulitan ketika naik dan turun mobil. Postur saya yang mungil yang jadi penyebab utamanya...
Jeep army yang kami naiki, doc : Pipiet Dhamayanti
Sampai di Museum Perjuangan. Bangunan Museum ini unik, perpaduan roma dan jawa. Berbentuk bulat dengan dilengkapi relief dan patung-patung kepala tokoh-tokoh pejuang seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Panglima Polim, dll. Diresmikan pada tahun 1961, oleh Sri Paduka Pakualam VIII untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan mengenang  setengah abad masa kebangkitan nasional. Koleksi yang disimpan adalah barang-barang antara tahun 1908 -1940an.
Di post tiga ini, kami diberikan tugas untuk menyanyikan lagu nasional yang telah ditentukan panitia, selain juga harus menjawab pertanyaan seputar sejarah yang jawabannya ada di dalam museum.
Selesai melaksanakan misi yang kira-kira membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit, kami bergegas menuju post terakhir yakni Museum Dewantara Kirti Griya dengan masih mengendarai jeep.

Museum Dewantara Kirti Griya sesuai namanya, adalah museum untuk mengenang tokoh pejuang pendidikan Ki Hajar Dewantara. Museum ini terletak di Jl Tamansiswo, menjadi satu dengan kompleks sekolah Taman Siswo. Segala barang pribadi, buku-buku, foto-foto Ki Hajar Dewantara dan segala aktivitasnya terdapat di museum ini.
Misi yang harus kami selesaikan di sini adalah menjawab seputar aktifitas yang pernah dilakukan Ki Hajar dewantara dan sedikit mengenai silsilah keluarganya.

Sepuluh menit waktu yang kami perlukan untuk menyelesaikan misi, dan tiba waktu bagi kami untuk kembali ke Benteng Vredeburg dengan bersepeda...puluhan sepeda kumbang sudah tampak berjajar rapi siap untuk dikendarai. Namun sebelumnya kami diminta untuk mencoba dulu. Sepertinya mudah..tapi ternyata susah..dan akhirnya karena alasan demi lancarnya perjalanan kembali ke Benteng Vredeburg, saya memilih untuk bonceng saja..hihi..

Di Benteng Vredeburg, sudah banyak teman-teman yang kumpul. Saatnya kami melepas penat sambil menikmati kudapan dan makan malam dengan ditemani hiburan musik keroncong dari Sorlem, sambil menunggu pengumuman pemenang kegiatan jelajah 4 museum ini.
Hiburan musik keroncong

Kurang lebih setengah jam kemudian ditengah kami sedang menikmati makan malam, pemenang lomba diumumkan. Dan kelompok kami belum menjadi juara...hihi.. 

Dua kelompok yang menjadi juara 2 dan 3 kebetulan satu grup dengan kami di grup Naga. Kalau boleh kami berintrospeksi, dibanding dengan kami, dua kelompok yang menjadi juara tersebut lebih bersemangat dan lebih siap ketika menyanyikan yel-yel mereka. Dan mungkin salah satu yang menjadi kekhilafan kami juga adalah salah satu dari rekan kami tidak sengaja sempat googling untuk memastikan lagu Indonesia Merdeka yang harus kami nyanyikan sewaktu kami berada di post 3, itu lagunya seperti apa. Padahal googling jelas dilarang..hehe.. Sedangkan juara 1 diraih oleh kelompok operasi Jatayu Letnan Udara II B. Matitaputty. Ketiga kelompok yang beruntung memperoleh hadiah berupa piagam, voucher makan, dan uang pembinaan. Lumayan kan ?

Oh ya, meskipun kami tidak juara, kami tetap senang dan bersemangat lho, apalagi kami memperoleh pengalaman baru dan seru yang benar-benar mengesankan...dan bagi saya pribadi ini adalah sebuah previlage yang saya dapatkan sebagai relawan GenPi Jogja.

Dengan adanya kegiatan ini, saya yakin masyarakat banyak yang akan tertarik untuk mengikuti, karena cocok untuk ajang refreshing dan gathering.

Memang sih, kegiatan jelajah malam ini tidak bisa mengeksplore secara maksimal museum-museum yang kami kunjungi, tapi paling tidak kegiatan ini membuka wawasan bahwa banyak hal menarik yang bisa kami jumpai di museum. Dan berkunjung ke museum itu bukan merupakan hal yang kekunoan, tapi justru kekinian. Kalian-kalian yang haus ilmu dan ingin belajar sejarah masa lalu, yuk rame-rame datang ke museum...

Oh ya, bagi yang berminat menjadi peserta jelajah malam museum berikut saya berikan  tips agar enjoy mengikutinya :

  1. Pastikan tubuh dalam kondisi bugar, cukup makan dan minum.
  2. Kenakan sepatu yang nyaman.
  3. Bagi perempuan, disarankan memakai celana panjang.
  4. Bawa kebutuhan pribadi seperti obat-obatan maupun perbekalan seperti perlengkapan ibadah, camilan, tissue basah, dan lain-lain sesuai kebutuhan.
  5. Mengikuti kegiatan karena keinginan, bukan karena paksaan..:)

Minat juga ikut acara ini? Silakan follow akun ig malamuseum dan ig Museum Benteng Vredeburg. untuk informasi lebih lanjut. 

#Salamsahabatmuseum,museum dihatiku#
#genpijogja#

Jumat, 22 September 2017

GENPI Jogja dan Kontribusi terhadap Pariwisata

Mungkin banyak yang bingung, kenapa belakangan ini saya sering share tentang tempat wisata atau event yang ada di Jogja. Termasuk memberi ajakan untuk memberikan vote terhadap beberapa destinasi yang ada di jogja yang kebetulan masuk dalam nominasi anugrah penghargaan dalam event tertentu.

Pertanyaan yang mungkin muncul sekarang kesibukan saya apa..

Baiklah, dari pada saya musti jelasin satu persatu, saya akan bercerita..

Jadi begini, semenjak tanggal 29 Agustus 2017 saya resmi menjadi salah satu relawan Genpi Jogja. Kok bisa? Ya karena memang dibuka kesempatan dan kemudian saya mendaftar...terus apa itu Genpi?
Genpi kepanjangan dari Generasi Pesona Indonesia, sebuah komunitas yang dibentuk kementrian pariwisata yang memiliki tujuan meningkatkan potensi wisata yang ada di Indonesia melalui promosi digital (go digital). Komunitas ini ada
disetiap propinsi termasuk Jogja (ralat : belum semua, baru ada sekitar 10 Genpi di tingkat propinsi).

Genpi sendiri merupakan wadah yang berisi orang-orang dengan beraneka ragam latar belakang yang mempunyai minat dan ketertarikan yang sama untuk turut berkontribusi memajukan pariwisata yang ada di Indonesia dengan berpromosi di dunia maya melalui akun media sosial.

Selain terdiri dari para pengisi konten seperti blog, foto, ataupun video yang biasa bekerja secara online, anggota relawan Genpi Jogja juga terdiri teman-teman dari komunitas yang biasa bekerja secara offline, seperti komunitas malam museum, roemah toea, jemparingan langenastro, dll. Yang semua saling bersinergi, bekerja sama demi kemajuan pariwisata khususnya di kota Jogja.

Terus apa keuntungan jadi relawan Genpi jogja? Kalau bagi saya banyak, karena ini semacam menyalurkan minat saya yang sempat tertunda. Saya sangat suka belajar sejarah, dan suka dengan tempat-tempat bersejarah dengan segala adat istiadat yang ada di dalamnya. Dengan menjadi anggota Genpi Jogja, banyak info tentang kegiatan atau event budaya yang menarik yang bisa saya share dan saya ikuti. Termasuk info tentang destinasi wisata yang bagus untuk.dikunjungi.

Seperti informasi berikut ini yang mungkin penting juga untuk teman-teman ketahui..

Jogja telah familiar sebagai daerah tujuan wisata nasional maupun global. Berbagai destinasi pun muncul di berbagai publikasi.

Tahun ini, ada tujuh destinasi di Jogja yang masuk sebagai nominasi dalam Anugerah Pesona Indonesia 2017.



Destinasi itu adalah :

KATEGORI 1. SURGA TERSEMBUNYI TERPOPULER
C Wanawisata Budaya Mataram Dlingo - Kab. Bantul
Kode SMS vote: API 1C
Atau klik bit.ly/votewanawisata

KATEGORI 6. TEMPAT BERSELANCAR TERPOPULER
G Pantai Wediombo - Kab. Gunung Kidul
Kode SMS vote: API 6G
Atau klik bit.ly/votewediombo

KATEGORI 9. DATARAN TINGGI TERPOPULER
G Kalibiru - Kab. Kulon Progo
Kode SMS vote: API 9G
Atau klik bit.ly/votekalibiru

KATEGORI 10. TUJUAN WISATA BARU TERPOPULER
J Taman Breksi - Kab. Sleman
Kode SMS vote: API 10J
Atau klik bit.ly/votetamanbreksi

KATEGORI 11. KAMPUNG ADAT TERPOPULER
G Kampung Wisata Mangunan - Kab. Bantul
Kode SMS vote: API 11G
Atau klik bit.ly/votemangunan

KATEGORI 13. OBYEK WISATA BELANJA TERPOPULER
D Pasar Beringharjo - Kota Yogyakarta
Kode SMS vote: API 13D
Atau klik bit.ly/votepasarberingharjo

KATEGORI 14. OBYEK WISATA UNIK TERPOPULER
C Gua Jomblang - Kab. Gunung Kidul
Kode SMS vote: API 14C
Atau klik bit.ly/votejomblang

PERIODE VOTING TGL. 01 JUNI S/D 31 OKTOBER 2017

Cara melakukan pemilihan melalui sms vote:

Ketik keyword sesuai pilihan
Kirimkan ke nomor 99386 semua operator (Berlaku tarif premium Rp. 2.000,- per sms)

Contoh untuk memilih Kampung Wisata Mangunan, ketik API 11G kirim ke 99368

Cara pemilihan melalui web klik link
bit.ly/votemangunan lalu pilih Kampung Wisata Mangunan.

Yuuk, sama-sama kita berikan suara kita untuk menjadikan tempat-tempat wisata terpilih di atas menjadi yang terbaik, sesuai kategorinya.
Terimakasih untuk kontribusinya...

Selasa, 12 September 2017

"Pentholgila", Menikmati Sajian olahan Bakso yang Lain dari Biasanya

Siapa sih yang tidak kenal bakso? Hidangan yang berasal dari olahan daging dicampur dengan bahan-bahan lain berupa tepung dan bumbu dengan perbandingan tertentu, berbentuk bulat yang amat disukai banyak kalangan, baik tua maupun muda.

Biasa diolah dalam bentuk masakan berkuah atau dibuat hidangan lainnya. 

Salah satu olahan bakso atau ada pula yang menyebut dengan istilah "penthol" yang saat ini sedang trend adalah dengan dibakar dan disajikan dalam bentuk sate bakso. Banyak sekali kita jumpai gerobag-gerobag yang menawarkan hidangan ini di tempat-tempat keramaian atau di lingkungan sekolah. Ada yang memakai istilah "bakso mercon".

Sebagai penyuka aneka olahan bakso, saya sering mencoba mencicipi sate bakso yang ada di pinggir jalan. Rata-rata harga per tusuk 1000an. Untuk rasa ya masih rata-rata. Belum ada yang pas dengan selera. Umumnya menonjolkan rasa pedas dan manis dari kecapnya. Bahkan ada yang hanya sensasi pedasnya saja yang terasa. 

Ukuran baksonya juga tidak terlalu besar, cenderung kecil malahan.Karena saya sering merasa tidak puas dengan sate bakso yang dijual di pasaran, akhirnya saya sering membuat sendiri dengan bumbu dan cita rasa sesuai dengan selera saya.

Sampai kemudian saya berkesempatan mencoba sate bakso dari pentholgila yang diberi brand "Sate Bakso Clandestine".

Sate Bakso Clandestine
Sate bakso ini menonjolkan aroma dan cita rasa khas dari saus rempahnya. Perpaduan antara manisnya kecap, pedas cabe, dan bumbu-bumbu lain yang pas membuat cita rasa dan aroma sate bakso clandestine ini istimewa. Ditambah tampilan sate yang berwarna kuning kecoklatan yang tampak menggoda. Sensasi Pedasnya tidak menyiksa, dengan cita rasa manis gurih yang seimbang. Membuat ingin makan lagi dan lagi..

Baksonya juga empuk tidak keras, dengan ukuran yang mantab, satu tusuk berisi 4 butir bakso dengan ukuran lumayan besar. Bisa langsung dimakan sebagai cemilan, atau untuk teman makan nasi. Cocok pula dibawa sebagai bekal praktis ketika piknik atau amunisi cadangan kalau kelaparan.

Yummy,membuat ingin lagi dan lagi

Harganya memang lebih mahal dibanding sate bakso kebanyakan. Namun itu sebanding dengan cita rasa yang ditawarkan. Per tusuk dihargai Rp. 2500,- sampai Rp. 3000,-

Penasaran ingin mencobanya?atau tertarik untuk menjadi resellernya? Silakan langsung meluncur ke ig @pentholgila, ada produk-produk lainnya juga yang tidak kalah menggoda lho...

Alamat Rumah Produksi : 
Tilaman Wukirsari Imogiri Bantul, Jalan makam raja-raja/ Hutan Pinus. Polsek Imogiri ke kiri 500 meter, kanan jalan cat merah depan rumah ada gasebo
Hp : 085643114462