Jumat, 24 November 2017

Membiasakan Hidup Sehat dan Cerdas Gunakan Obat

Saya itu paling takut melihat darah. Bahkan saking takutnya, sewaktu masih duduk di bangku SD saya pernah pingsan di depan petugas kesehatan yang mengambil darah saya untuk diperiksa golongan darahnya.

Entah berapa lama saya pingsan, yang jelas saya harus dipapah kembali ke kelas, dan waktu itu teman sebangku berkomentar wajah saya sangat pucat. 
Memori itu terus terbawa, sehingga setiap kali saya disarankan teman atau keluarga untuk cek darah ketika saya mengeluh gampang lelah atau cepat pusing, saya selalu mengelak. 

Hingga kemudian di hari Selasa 21 November 2017 saya berkesempatan mengunduh ilmu di ajang Temu Blogger Kesehatan yang mengambil tema Cermat Menggunakan Obat yang diselenggarakan Kemenkes RI dan Gema Cermat di hotel Grand Aston Yogyakarta. Kegiatan yang berlangsung selama sehari mulai pukul 08.00-17.00 WIB ini dihadiri lebih kurang 42 blogger kesehatan yang berasal dari kota Jogja dan sekitarnya.

Temu Blogger Kesehatan, doc : pri

Ada 4 narasumber yang dihadirkan dalam acara ini, yakni dari Dinas Kesehatan Provinsi DIY yang diwakili oleh Ibu Hardiah Juliani, M.Kes, dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Ibu Dra. Arrosianti Zahrul Falasifah, Apt. , Ibu Mariyatul Qibtiyah,S.Si, Sp.FRS, Apt. dari Komite Pengendalian Resistensi Antimikrobia Kemenkes RI, dan Bapak Indra Rizon dari Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementrian Kesehatan RI yang menjabat sebagai Kepala Bagian Hubungan Media dan Lembaga. Sedangkan sebagai moderator adalah Bapak Busreni, S.Ip, yang menjabat sebagai Kepala Bagian Opini Publik, Produksi, Komunikasi, Peliputan dan Dokumentasi Kemenkes RI.

Para Nara Sumber dan Moderator, doc : pri
Acara diawali dengan registrasi dan dilanjutkan dengan cek kesehatan. Nah, dibagian cek kesehatan ini saya yang agak galau. Antara ingin tahu kondisi tubuh sama terbayang trauma masa lalu ketika periksa golongan darah dulu. 

Prosedur pemeriksaan adalah kami mengisi form yang disediakan, setelah itu kami menuliskan data diri ke dalam lembar presensi untuk menentukan nomor urut pemeriksaan dan kemudian menunggu antrian. Peserta yang mengikuti pemeriksaan kesehatannya, terlebih dahulu dicek berat dan tinggi badan. Kemudian diperiksa lingkar perut dan tekanan darahnya. Setelah itu baru diambil darahnya untuk diperiksa kadar gula dan kolesterolnya. Bagian diambil darahnya inilah yang membuat saya maju mundur cantik.

Pengambilan sampel darah dalam cek kesehatan, doc : pri

Akhirnya sambil menunggu antrian saya masuk ke ruang pertemuan. Kebetulan acara baru saja dibuka. Sambil menenangkan diri dan mengumpulkan keberanian, saya mengikuti ice breaking yang dilakukan. Yakni senam peregangan ala Kemenkes. 

Dalam video yang diputar, dicontohkan berbagai gerakan peregangan yang bisa kita lakukan disela-sela kesibukan kita mengerjakan tugas rumah atau kantor. Peregangan sangat penting untuk memperlancar peredaran darah, mencegah otot kaku, dan menghilangkan stress. Penasaran gerakannya seperti apa ? Berikut videonya..



Setelah icebreaking, tibalah kami mengikuti pemaparan dari para narasumber. Acara berlangsung serius tapi santai. Semua peserta menyimak penjelasan dengan seksama. Dan memanfaatkan sessi tanya jawab dengan sebaik-baiknya. Penasaran dengan isinya? Berikut rangkumannya..

Menanamkan Kesadaran Pentingnya Hidup Sehat melalui GERMAS
Dalam temu blogger kesehatan kali ini, disamping akan diberikan edukasi kepada para blogger tentang perlunya sikap cerdas dalam menggunakan obat, juga dikampenyakan mengenai Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). 

Fakta menunjukkan terjadi transisi epidemiologi dimana terjadi perubahan pola penyakit terkait dengan faktor perilaku. Di tahun  1990 prosentase penyakit menular seperti TB, ispa, dan diare ada diangka 56%. Namun ditahun 2010 justru prosentase penyakit tidak menular seperti diabetes, kanker, stroke, dan jantung yang berada di angka 57%.

Transisi epidemologi
Fakta ini cukup mengagetkan. Apalagi penyakit ini ternyata banyak diderita golongan masyarakat yang masih berada di usia produktif akibat gaya hidup yang tidak sehat (jadi teringat hobi kulineran saya...hiks).

Oleh karena itu, berdasar Instruksi Presiden No I tahun 2017, Kementerian Kesehatan RI secara khusus mencanangkan sebuah program untuk mengingatkan masyarakat agar menjaga kesehatan melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) guna mewujudkan Indonesia sehat. Kegiatan ini bertujuan agar kesehatan terjaga, lingkungan bersih, produktivitas meningkat, sehingga biaya berobat turun.

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) merupakan suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Gerakan ini menggugah kesadaran setiap individu untuk mau hidup sehat dengan fokus utama kepada 3 hal, yakni melakukan aktifitas fisik minimal 30 menit sehari, mengkonsumsi buah dan sayur, serta memeriksa kesehatan secara rutin minimal 6 bulan sekali. 

Gerak fisik terbukti mampu memperlancar peredaran darah dan meningkatkan asupan oksigen dalam tubuh. Sedangkan kandungan gizi dalam buah dan sayur terbukti bagus untuk daya tahan tubuh. Poin ketiga, yakni memeriksa kesehatan secara rutin akan memudahkan kita melakukan pengobatan bila terjadi hal-hal yang tidak beres dengan tubuh kita.

Para peserta sedang menyimak paparan dari nara sumber, doc : Mbak Wawa

Nah, poin ketiga inilah yang hampir tidak pernah saya lakukan. Padahal itu penting banget untuk mengetahui kondisi tubuh kita seperti apa. Meskipun kadang tubuh sudah kasih warning, tapi kita kadang ga "ngeh" dengan tanda-tanda itu. 

Akhirnya setelah mendengarkan paparan itu, saya membulatkan tekat untuk berani mengikuti cek kesehatan. Toh saya lihat teman-teman blogger lain yang sudah dicek darahnya juga tetap baik-baik saja. "Justru kalau kita nggak mau cek kesehatan kita, itu yang bisa jadi bahaya..." kata petugas periksa ketika saya menyampaikan ketakutan saya. 

Cerdas Menggunakan Obat
Obat itu ibarat pedang bermata dua, dia bisa menyembuhkan tapi bisa juga membahayakan tubuh.
Karena sesungguhnya obat itu racun. Sehingga pemahaman mengenai bagaimana mendapatkan, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat (DAGUSIBU) yang benar harus kita pahami. Agar terhindar dari efek negatif dari obat.

Siapa diantara teman-teman yang ketika sakit tidak ke dokter tapi membeli obat sendiri? Kebiasaan itu dinamakan swamedikasi. Ada sekitar 43% orang yang mempunyai kebiasaan ini, temasuk saya.

Alasannya bermacam-macam, bisa karena biar praktis dan hemat, atau juga penyakit yang dikeluhkan tidak terlalu berat. Meskipun hal ini boleh dan bisa dilakukan, tetapi ada warning yang harus diingat, yakni "bila sakit berlanjut, hubungi dokter". Batas waktu yang diberikan adalah 3 hari setelah kita meminum obat bebas. 

Tingginya angka swamedikasi di masyarakat dan banyaknya kasus kesalahan-kesalahan dalam penggunaan obat, mulai dari cara meminumnya, dosis yang digunakan, penyimpanan, sampai pembuangan sisa obat yang belum memenuhi ketentuan, menyebabkan perlunya suatu program sosialisasi agar masyarakat semakin paham dan bijak dalam menggunakan obat.

Sehubungan dengan hal tersebut, Kemenkes mencanangkan Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (Gema Cermat) berdasar SK Menteri Kesehatan RI No HK. 02.02/Menkes/427/2015. Gema Cermat ini merupakan kerjasama pemerintah dan masyarakat melalui rangkaian kegiatan dalam rangka mewujudkan kepedulian, kesadaran, pemahaman, dan keterampilan masyarakat menggunakan obat secara tepat dan benar. 

Ada beberapa hal yang harus dipahami ketika menggunakan obat, agar kita bisa Cerdas dalam menggunakan obat. Diantaranya kita harus tahu kategori obat berdasarkan tingkat keamanannya dan juga cara memperolehnya.

Berdasar tingkat keamanannya, obat digolongkan dalam beberapa kategori, yakni :

Logo kategori obat, sumber : idaijogja.com
a. Obat bebas, dengan tanda lingkaran hijau pada kemasan. Obat ini dapat dibeli tanpa resep dokter.

b. Obat bebas terbatas, dengan tanda lingkaran biru pada kemasan. Obat ini adalah obat keras yang dapat dibeli tanpa resep dokter, namun penggunaannya harus memperhatikam aturan pakai dan peringatan pada kemasan. 

Obat bebas dan bebas terbatas ini dapat dibeli di apotek atau toko obat berijin.
Yang perlu diperhatikan pada saat membeli obat bebas dan bebas terbatas adalah : kondisi kemasan, kelengkapan informasi pada kemasan, tanggal kedaluwarsa, dan nomor registrasi.

c. Obat keras dengan tanda lingkaran merah dan huruf K di tengahnya yang ada pada kemasan. Obat kategori ini hanya bisa diperoleh di apotek atau fasilitas pelayanan kesehatan berdasar resep dokter.

Yang harus diperhatikan untuk obat kategori ini adalah kelengkapan informasi pada etiket, meliputi nama pasien, tanggal, dan aturan pakai, serta tanggal kedaluwarsa. 

Disamping itu, ketika kita menerima obat dari dokter, biasakan juga untuk menanyakan "5 O" ini kepada dokter atau apoteker, yaitu :


Dengan mengetahui hal-hal di atas kita akan terhindar dari kesalahan dalam mengkonsumsi obat. Aturan minum obat juga harus kita pahami. Obat yang diminum 3 x  sehari, artinya dalam sehari (24 jam), kita meminum obat setiap 8 jam sekali. 

Kesalahan penyimpanan obat juga sering dijumpai di masyarakat. Untuk mudahnya, hendaknya kita mematuhi cara penyimpanan sesuai petunjuk dalam kemasan, seperti tidak menyimpan tablet dan kapsul di tempat yang panas atau lembab, tidak menyimpan obat berbentuk sirup di lemari pendingin, menyimpan obat untuk vagina (ovula) dan anus (suppositoria) di lemari pendingin (bukan freezer) agar tidak meleleh pada suhu ruang, dan tidak menyimpan obat spray (aerosol) di suhu tinggi karena dapat meledak.

Satu hal yang tidak kalah penting dalam menyimpan obat adalah harus kita jauhkan dari jangkauan anak-anak, dan memperhatikan tanda-tanda kerusakan obat dalam penyimpanan, seperti perubahan warna, bau dan penggumpalan. Obat yang sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan harus kita buang. 

Cara membuang obat sisapun tidak boleh sembarangan. Membuang obat sisa ada aturannya, disamping agar tidak membahayakan lingkungan, juga untuk mencegah penyalahgunaan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Aturan dalam membuang obat sisa diantaranya adalah : memisahkan obat dari kemasannya, melepaskan etiket dan tutup dari wadahnya (tube/botol), membuang kemasan setelah digunting / dirusak, membuang obat sirup di jamban atau saluran pembuangan air setelah diencerkan. Dan membuang botol yang sudah di rusak di tempat sampah, membuang tablet atau kapsul di tempat sampah setelah dihancurkan, menggunting tube salep/krim terlebih dahulu dan buang secara terpisah dari tutupnya di tempat sampah, membuang jarum insulin setelah dirusak dan dalam keadaan tutup terpasang kembali.

Bijak Menggunakan Antibiotik
Banyak yang masih berpandangan antibiotik bisa menyembuhkan segala penyakit. Sehingga ketika sakit, buru-buru meminumnya.

Pandangan itu sangat keliru, antibiotik hanya bisa mematikan infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Padahal tidak semua penyakit disebabkan oleh bakteri, bisa karena virus atau jamur yang tidak akan mati oleh antibiotik.

Penggunaan antibiotik yang tanpa pedoman justru akan merugikan, karena berakibat bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik. Bila tidak dikendalikan, diprediksi kematian akibat AMR (Anti Mikrobia Resisten) meningkat dari 700.000 kasus ditahun 2013, menjadi 10.000.000 kasus di tahun 2050.
Efek samping antibiotik yang harus diwaspadai 
Oleh karenanya peran aktif masyarakat untuk mencegah resistensi bakteri sangat diperlukan, diantaranya dengan tidak melakukan swamedikasi menggunakan antibiotik. 

Antibiotik harus dibeli dengan resep dokter, tidak menyimpan antibiotik di rumah, dan tidak memberikan antibiotik sisa kepada orang lain.

Panduan menggunakan antibiotik

Selain itu antibiotik harus diminum sesuai anjuran. Tidak boleh berhenti minum antibiotik hanya karena keluhan sudah hilang, kecuali karena alergi sehingga dokter perlu mengganti dengan antibiotik lain. Ubah kebiasaan sedikit-sedikit minum antibiotik, karena dapat membahayakan. 

Foto bersama, nara sumber dengan blogger doc : mbak Wawa 

Jadi, mari kita bersama-sama nelakukan kebiasaan hidup sehat dan cerdas dalam menggunakan obat, untuk terwujudnya hidup yang lebih baik dan sehat.

***

Sebagai pelengkap, berikut saya ceritakan tahapan dan hasil cek kesehatan yang saya lakukan. Ini merupakan prestasi bagi saya, karena akhirnya saya berani cek darah setelah bertahun-tahun tidak berani melakukannya.

Seperti yang lainnya, pada saat cek kesehatan, hal yang dilakukan petugas adalah :

1). Mengukur tinggi dan berat badan.
Ketika saya bertanya untuk apa data berat dan tinggi badan, petugas yang memeriksa menjelaskan berat dan tinggi badan digunakan untuk mengukur indeks massa tubuh atau BMI (Body Mass Index).

Rumusnya adalah : berat badan dalam kilogram dibagi kuadrat tinggi badan kita dalam meter.

Hasilnya nanti untuk menentukan kita termasuk kategori kurus, ideal, gemuk, atau justru obesitas. Adapun klasifikasi nilai BMI adalah berikut : 

Kategori BMI, sumber : titiandiet.com

Contohnya saya : berat badan 46,5 kg, tinggi 150 cm. Dengan rumus di atas, maka BMT saya adalah 20,67. Dan itu termasuk normal.

2). Tahap selanjutnya  mengukur lingkar perut. 
Lemak di perut adalah yang paling berbahaya. Standar ukuran lingkaran perut untuk pria adalah maksimal 90 cm untuk perempuan maksimal 80 cm. 

Lemak di perut dapat menyerang ke organ dalam, diantaranya dapat menyebabkan penimbunan lemak di hati yang menyebabkan pengerasan hati. Gejala yang timbul berupa nyeri hati yang nggak sembuh-sembuh meskipun diberi obat maag. 
Hasil pengukuran saya 74 cm, dan itu normal !

3). Mengukur tekanan darah
Tekanan darah saya pada saat pengukuran adalah 82/116, dan masih termasuk dalam kategori normal.

4). Terakhir pengecekan darah untuk mengetahui kadar gula dan kolesterol.
Kadar gula saya masih normal, diangka 116, sedangkan kolesterol total tidak normal karena melebihi ambang batas yang ditentukan, yakni di atas angka 200.
Parameter dalam cek kesehatan, sumber : kadarguladarahnormal.com

Ini pasti karena setiap sore saya nyemil gorengan dan malas berolah raga. Untung segera ketahuan, jadi saya segera bisa melakukan diet rendah karbo dan lemak serta rajin berolah raga. Ini ternyata yang menjadi sebab saya sering pusing dan tangan terasa kesemutan.  Oke, diet harus segera dijalankan, porsi buah dan sayur harus diperbanyak, dan segala gorengan harus ditinggalkan. Mari lihat hasilnya 2 minggu ke depan, semoga kolesterol saya sudah kembali normal.

Baca ini juga ya :

Workshop Etiket Blogger bersama Kang Pepih

Senin, 13 November 2017

Bersahabat dengan Nyamuk Aedes aegypti Ber-wolbachia yang Anti DBD

Sebagai negara beriklim tropis Indonesia rentan dengan penyakit yang ditularkan oleh vektor. Vektor adalah pembawa atau perantara penyakit. Kebanyakan dari vektor ini adalah serangga (insekta), utamanya  nyamuk. 

Banyak penyakit yang ditularkan hewan ini, mulai dari malaria, kaki gajah (filiriasis), yellow fever (demam kuning), zika, dan demam berdarah dengue (DBD). 

Di Jogja, yang perlu diwaspadai adalah Demam Berdarah Dengue (DBD), karena Jogja ada di peringkat ke-5 kota-kota dengan resiko penularan DBD. Kondisi ini harus segera di tangani, karena DBD merupakan penyakit yang berbahaya yang bisa mengakibatkan penderitanya meninggal dunia. 

Selain itu Jogja merupakan kota yang menjadikan sektor pariwisata sebagai pendapatan daerah yang utama. Sehingga adanya ancaman DBD ini bila tidak segera diupayakan cara pencegahan yang tepat bisa berpengaruh ke minat wisatawan untuk berkunjung ke Jogja. 

Tentang Demam Berdarah Dengue (DBD)
DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina.

Gejala DBD diantaranya adalah demam tinggi mendadak dengan kisaran suhu mencapai 39-40°C, nyeri kepala yang hebat yang diikuti dengan nyeri otot/sendi, mual, dan kadang disertai timbulnya bintik-bintik merah. 

Keparahan biasanya terjadi karena penderita tidak segera mendapatkan penanganan yang memadai. Waspadai penurunan demam setelah hari ketiga. Karena hal tersebut adalah fase kritisnya. 

Siklus demam pada DBD menyerupai pelana kuda. Sehingga perlu segera periksa ke dokter apabila demam lebih dari 48 jam berturut-turut, dengan disertai gejala-gejala di atas. 

Nyamuk Aedes aegypti memiliki perilaku yang spesifik. Diantaranya adalah tidak menyukai bau wangi, dan berkembang biak di air bersih yang tergenang (bak mandi, tandon air yang terbuka, sumur, tempat minum burung, kulkas, dll). 

Selain itu kemampuan reproduksi nyamuk ini cukup cepat, dari telur sampai menjadi nyamuk hanya butuh waktu 7-14 hari. Kemampuan bertahan hidup dan adaptasi dari nyamuk inipun cukup tinggi, telurnya mampu bertahan hingga berbulan-bulan, dan akan langsung menjadi nyamuk begitu terkena air. Itulah sebabnya, di musim penghujan, ancaman penularan DBD meningkat. 

Nyamuk Aedes aegypti betina makanan utamanya adalah darah manusia. Sehingga dia memiliki pola dalam mencari makan, yakni menggigit di waktu pagi dan sore hari dimana manusia sedang sibuk beraktifitas, dengan ketinggian terbang 1 meter. 

Pencegahan DBD yang selama ini sudah dilakukan dengan memperhatikan perilaku khas yang dimiliki nyamuk Aedes aegypti diantaranya adalah :

  1. Memutus siklus hidup DBD, dengan menguras, menyikat dinding wadah air dan mengganti air dengan teratur, menutup sumber air yang terbuka, dan mengubur benda-benda yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk, ikanisasi dan pemberian abate.
  2. Mencegah gigitan nyamuk dengan menggunakan baju yang menutup tangan dan kaki, menggunakan lotion secara teratur pada pagi dan sore hari, dan memasang kelambu pada saat tidur. 
  3. Fogging atau pengasapan yang dilakukan di rumah-rumah penduduk yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. 

Dari hasil evaluasi yang dilakukan, ternyata upaya-upaya tersebut belum cukup maksimal untuk mencegah penularan DBD. Masih sering dijumpai kasus DBD di tengah masyarakat yang bahkan beberapa menimbulkan korban jiwa.

Berawal dari hal tersebut, maka terdapat pemikiran untuk mencegah dan menanggulangi penularan DBD dengan cara berbeda. Kemudian dilakukanlah sebuah riset yang bernama Eliminate Dengue Project Yogya (EDP Yogya). Nah, apakah itu?  Ikuti perjalanan saya..^_^

Wolbachia, Sebagai Alternatif Mengurangi Penularan DBD
Berawal adanya penawaran dari Mbak Elzha selaku koordinator Jaringan Netizen Jogja untuk mendapat wawasan tentang metode atau cara baru penanggulangan DBD, sampailah saya ke kantor insektarium EDP (Eliminate Dengue Project) Yogya di Jl. Podocarpus I N-14 Sekip, yang ada di sebelah selatan Rumah Sakit Sardjito, pada hari Kamis, 9 November 2017 sekitar pukul 14.00 WIB lalu.

Pada hari itu dilaksanakan sosialisasi tentang EDP Yogya kepada kami para netizen dengan nara sumber Bapak Warsito Tantowijoyo, Ph.D seorang ahli entomologi yang bertanggung jawab dalam proyek penanggulangan virus dengue dengan menggunakan bakteri wolbachia.

Paparan Bapak Warsito tentang EDP Yogya

Dalam pemaparannya Bapak Warsito menjelaskan EDP yogya adalah bagian dari Eliminate Dengue Program Global yang melakukan penelitian tentang teknologi Wolbachia di Australia, Vietnam, Colombia, dan Brazil untuk mengatasi penularan penyakit DBD. 

Sebagai daerah yang berpotensi terhadap wabah penularan DBD, maka dipilihlah Yogya sebagai lokasi penelitian. Proyek penelitian ini dilakukan oleh Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran UGM dan didanai oleh yayasan Tahija, sebuah yayasan nirlaba di Jakarta yang berdiri pada tahun 1990.

Pada intinya, Eliminate Dengue Project Yogya ini adalah sebuah penelitian yang mengembangkan sebuah metode alamiah untuk mengurangi penyebaran virus dengue dengan menggunakan bakteri wolbachia yang merupakan bakteri alami yang terdapat dalam tubuh serangga yang dapat diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Wolbachia ini ditemukan pada lebih 60% serangga yang ada di sekitar kita. Namun dalam penelitian ini, wolbachia yang digunakan adalah yang terdapat dalam lalat buah atau drosophila. 

Wolbachia ini dapat menurunkan replikasi bakteri dengue dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti sehingga nyamuk tersebut tidak lagi dapat menularkan DBD.

Jadi dalam penelitian ini, nyamuk-nyamuk Aedes aegypti disuntik dengan bakteri wolbachia, kemudian nyamuk-nyamuk ini diternakkan untuk kemudian dikawinkan dengan nyamuk Aedes aegypti lokal yang nanti digunakan sebagai lokasi penelitian. 

Telur-telur hasil perkawinan antara nyamuk lokal dan nyamuk berwolbachia ini nanti diletakkan pada ember-ember di rumah-rumah responden untuk ditetaskan dan menjadi nyamuk dewasa yang berwolbachia. 

Penelitian ini sudah dilakukan sejak tahun 2011, dan terbagi dalam 4 tahap sebagai penelitian sebagai berikut :

Tahap 1 : Uji keamanan dan kelayakan, untuk membuktikan keamanan dan kelayakan teknologi wolbachia (Oktober 2011 - September 2013). Hasil pada tahap ini menunjukkan pada skala laboratorium wolbachia terbukti mampu menghambat perkembangan virus dengue pada nyamuk Aedes aegypti lokal. Sehingga penelitian perlu ditingkatkat ke tahap 2.

Tahap 2 : Pelepasan skala terbatas nyamuk Aedes aegypti yang sudah berwolbachia (Oktober 2013 - Desember 2015). Dalam tahap ini dilakukan pelepasan nyamuk Aedes aegypti di daerah Nogotirto dan Kronggahan Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman, pada periode Januari - Juni 2014, dan peletakan ember berisi telur nyamuk Aedes aegypti yang berwolbachia di wilayah Jomblangan dan Singosaren Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul pada bulan November 2014 - Mei 2015. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tidak ada bukti penularan DBD di daerah-daerah yang menjadi lokasi penelitian.

Hal tersebut membuktikan nyamuk Aedes aegypti berwolbachia secara alami mampu menghambat virus dengue. Dan masyarakat di daerah penelitian menerima teknologi wolbachia sebagai alternatif upaya penanggulangan DBD.

Tahap 3 : Pelepasan nyamuk Aedes aegypti berwolbachia dalam skala luas (Januari 2016 - Desember 2019).

Tahap 4 : Penyusunan rekomendasi kebijakan (2020-2021). Fase ini bertujuan untuk menjembatani adopsi hasil penelitian untuk kebijakan penanggulangan dengue di daerah dan nasional.

Untuk saat ini penelitian sudah sampai tahap 3, berupa tahap pelepasan nyamuk berwolbachia dalam skala yang luas. 

Oleh karena itu diperlukan lebih banyak keterlibatan aktif dari masyarakat untuk berperan dalam penelitian ini, selain dengan bersedia menjadi orang tua asuh dari ember-ember berisi telur Aedes aegypti yang sudah berwolbachia, juga dengan ikut menyebarkan informasi tentang teknologi wolbachia ini kepada orang-orang di sekitarnya.

Demi tercapainya partisipasi maksimal dari masyarakat luas, saat ini EDP Yogya banyak melakukan kegiatan sosialisasi dengan menggandeng media untuk mempublikasi penelitian ini dan turun langsung ke masyarakat melalui program Wolly Mubeng Jogja. Wolly adalah maskot dari EDP Yogya berupa boneka nyamuk Aedes aegypti berwolbachia.

Melihat Penangkaran Nyamuk di EDP Yogya
Setelah mengikuti pemaparan singkat tentang penelitian yang tengah dilakukan EDP Yogya, kami juga diberi kesempatan melihat "dapur" dari EDP Yogya, untuk melihat penangkaran nyamuk Aedes aegypti berwolbachia dan prosedur pengawasannya.

Agar lebih fokus, peserta yang hadir dalam sosialisasi EDP Yogya dibagi dalam 2 kelompok untuk kemudian diajak berkeliling ke ruang-ruang yang ada di kantor EDP Yogya yang digunakan untuk pembiakan nyamuk berwolbachia. 

Pertama ruang yang kami kunjungi adalah Mosquito Rearing Unit. Merupakan ruang pembiakan nyamuk Aedes aegypti yang berwolbachia dari telur sampai dewasa. Nyamuk-nyamuk ini nanti yang akan dikawinkan dengan nyamuk Aedes aegypti lokal yang ada di lokasi pelepasan. Telur-telur hasil perkawinan nyamuk Aedes aegypti berwolbachia hasil pembiakan laboratorium EDP dengan nyamuk lokal tadi ditempatkan ke dalam ember berisi air dan pelet, untuk kemudian diletakkan di rumah-rumah responden hingga menetas dan menjadi nyamuk dewasa berwolbachia.

Pintu masuk Mosquito Rearing Unit

Sebagai nyamuk peliharaan, nyamuk Aedes aegypti berwolbachia ini tentu diberi makan secara khusus. Makanannya adalah darah manusia untuk Aedes aegypti betina dan larutan gula untuk yang jantan. Cara pemberian makanannya unik, yaitu dengan meletakkan tangan volunteer di atas kandang nyamuk yang ditutup dengan kain strimin selama 15 -30 menit sampai nyamuk-nyamuk kenyang.

Memberi makan nyamuk oleh volunteer
Nyamuk Aedes aegypti berwolbachia yang bisa dihasilkan di EDP yogya ini berkisar 1 juta ekor per minggu. Angka yang cukup fantastis, kalau biasanya nyamuk itu dibasmi, di kantor EDP Yogya malah justru dibiakkan. Tapi bukan sembarang nyamuk yang ada di sana, namun nyamuk Aedes aegypti yang berwolbachia yang justru menjadi pembasmi DBD, dan menjadi sahabat kita.

Kumpulan telur nyamuk berwolbachia
Ruang selanjutnya yang kami kunjungi adalah Field Entomology Unit. Disini kami bertemu dengan Mas Sigit yang banyak menjelaskan tentang tugas dan tanggung jawab staf di divisi tersebut.

Field Entomology Unit

Menurut mas sigit, Field Entomology Unit merupakan unit yang paling sibuk dan paling banyak stafnya. Karena di bagian ini semua tugas mulai dari pengambilan sampel telur nyamuk lokal yang akan dikawinkan dengan nyamuk Aedes aegypti berwolbachia peliharaan EDP, kemudian peletakan telur nyamuk berwolbachia di daerah sampel sampai monitoring atau pengawasan nyamuk Aedes aegypti berwolbachia yang ada di daerah responden dilakukan. Sehingga tidak heran bila unit ini banyak memiliki staff dan sangat sibuk.
Mas Sigit sedang menunjukkan alat BG Trap

Alat untuk mengumpulkan telur nyamuk Aedes aegypti lokal

Penangkapan sampel nyamuk Aedes aegypti berwolbachia yang ada di daerah sampel dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut BG trap. Hasil tangkapan inilah yang kemudian diserahkan  ke Field Entomology Laboratory untuk diamati dan dipilah antara nyamuk Aedes aegypti jantan dan betina, untuk kemudian dikirim ke laboratorium kedokteran UGM untuk dilihat kandungan bakteri wolbachia dalam tubuhnya.

Field Entomology Laboratory
Kesibukan di Field Entomology Laboratory

Seorang kawan blogger mencoba mengamati nyamuk Aedes aegypti 

Rumit kan prosesnya? Yah begitulah... namun manfaat dari penelitian ini cukup besar. 
Mudah-mudahan dengan metode wolbachia ini Jogja dapat aman dari DBD. 

Dan semoga tulisan saya ini bermanfaat dan menambah wawasan dan pemahaman dari teman-teman tentang nyamuk Aedes aegypti berwolbachia dan EDP Yogya.

Jika masih ingin penjelasan yang lebih rinci tentang EDP Yogya, teman-teman dapat menghubungi :
Equatori Prabowo 
Media and Communication 
Eliminate Dengue Project Yogyakarta 
Gedung Pusat Antar Universitas (PAU) Jl. Teknika Utara Barek, Yogyakarta 55281
Email :edpyogya@eliminatedengue.com Phone: 0822 20000 385
Website : www.eliminatedengue.or.id Facebook: EDP Yogya
Instagram : EDP Yogya

Selasa, 07 November 2017

Berkenalan dengan Tokyo Bowl, Menu Terbaru dari HokBen

Untungnya kebebasan berserikat, berkumpul, mengeluarkan pikiran dan pendapat itu dijamin oleh undang-undang. Sehingga hari Jumat 3 November 2017 sekitar pukul 16.30 WIB kemarin saya bebas melangkahkan kaki menghadiri undangan gathering dari HokBen Jakal untuk Komunitas Blogger Jogja. 

HokBen Jakal

Pertemuan yang dihadiri sekitar 30 blogger ini dibuka oleh Bapak Arman selaku Local Marketing HokBen Jakal, dengan doa bersama dan pembacaan rundown acara. Selanjutnya acara dipandu oleh Ibu Kartina Mangisi Simanjuntak dari Communication Division Head dan Bapak Sutrisno selaku Store Manager HokBen Jakal.  

Pertemuan ini dimaksudkan untuk mengenalkan lebih jauh tentang HokBen kepada para blogger Jogja sekaligus memberi kesempatan kepada kami untuk mencicipi varian menu baru dari HokBen yang bernama Tokyo Bowl dan memberikan reviewnya.

Pak Arman sedang membuka acara, doc : Yugo D.P.

Acara berlangsung hangat dan santai. Semua peserta menyimak penjelasan dari pihak HokBen dengan seksama. Ibu Kartina yang biasa disapa Bu Tina lebih banyak menjelaskan tentang sejarah perusahaan, sedangkan Bapak Sutrisno banyak bercerita tentang varian menu baru yang ada HokBen. 

Sejarah Hokben
Saat ini HokBen dikenal sebagai restoran cepat saji yang banyak diminati. Respon yang cepat, dan pelayanan yang prima  terhadap konsumen membuat HokBen dinobatkan sebagai "Top 3 Most Powerful Restaurant Brand in Indonesia" dalam survey Brand Asia 2017 yang diselenggarakan oleh Nikkei BP consulting, inc bekerjasama dengan MARKPLUS, INC, dan terpilih sebagai "BRAND OF THE YEAR 2017-2018" untuk kategori Quick Service Restaurant Indonesia di ajang WORLD BRANDING AWARDS.  Sebuah prestasi yang cukup membanggakan. Dan itu semua bukan diperoleh dengan cara instan, perlu perjalanan yang panjang. 

Bu Tina menjelaskan tentang sejarah HokBen, doc : Yugo D.P.

Sudah lebih dari 32 tahun HokBen hadir menemani para pecinta masakan Jepang. Perjalanan panjang HokBen dimulai pada tanggal 18 April 1985 dengan berdirinya restoran Jepang cepat saji bernama Hoka-Hoka Bento yang berada dibawah naungan PT Eka Bogainti di Kebon Kacang Jakarta pusat. 

Gerai pertama Hoka-Hoka Bento

Pada awalnya Hoka-Hoka Bento memakai ijin merk Hoka-Hoka Bento yang ada di Jepang. Arti dari Hoka-Hoka Bento sendiri adalah makanan hangat dalam satu kotak. Karena memang Hoka-hoka Bento yang di Jepang merupakan rumah makan dengan konsep take away (pesan ambil/bawa pulang). Namun kemudian karena satu dan lain hal Hoka-Hoka Bento di Jepang tutup. Hingga akhirnya PT Eka Bogainti menjadi satu-satunya pemegang hak merk Hoka-Hoka Bento.

Seiring dengan respon masyarakat yang semakin positif, Hoka-Hoka Bento kemudian mulai melebarkan sayap dengan hadir di kota-kota besar di Indonesia. Dimulai di tahun 1990, Hoka-Hoka Bento hadir di kota Bandung, kemudian di tahun 2005 di kota Surabaya, dan tahun 2008 hadir di Malang. Di tahun 2010, pengembangan cabang di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Bali mulai dilakukan.

Selain itu sebuah gebrakan besar juga dilakukan oleh Hoka-Hoka Bento, yakni dengan memiliki jaringan Call Center 1500505 di tahun 2007, serta layanan pesan antar.  
Layanan Pesan Antar HokBen
Tahun 2008 website HokBen diluncurkan dengan fitur pemesanan online dan di tahun yang sama mulai menambah varian menu untuk anak, yakni katsu yang disediakan dalam bentuk paket Kidzu Bento yang disajikan lengkap dengan bonus mainan.  Untuk saat ini tema mainan kidzu bento yang terbaru adalah battle of unibolt.

Demi tercapainya tujuan untuk lebih dekat dengan customer dan karena adanya trend di kalangan customer pada saat itu yang biasa menyebut Hoka-Hoka Bento dengan istilah HokBen, maka mulai tanggal 15 Oktober 2013 Hoka-Hoka Bento resmi menggunakan nama baru, yakni HokBen. 

Perubahan nama itu juga diikuti dengan perubahan logo restoran. 
Transformasi nama dan logo restoran

Logo dan maskot restoran yang semula berupa tokoh manga Jepang yang bernama Taro (seorang anak laki-laki dengan baju berwarna biru) dan Hanako (seorang anak perempuan berbaju merah) yang ditampilkan seluruh badan, dengan perubahan nama menjadi HokBen maka Taro dan Hanako hanya ditampilkan bagian kepala atau wajahnya saja, sehingga terlihat lebih simpel. 

Hokben Community Pattern
Ada berbagai cara yang bisa dilakukan agar budaya perusahaan dalam suatu korporasi melekat kuat di hati para karyawannya dan menjadi semangat dan etos dalam bekerja. Demikian pula halnya dengan HokBen.

HokBen Community Pattern sebagai hiasan cup drink

Tadinya saya mengira simbol-simbol yang ada di cup drink yang ada di HokBen itu cuma hiasan semata, namun ternyata pola-pola itu sarat makna.

Segala semangat dan idealisme perusahaan untuk melayani pelanggan dengan sebaik-baiknya dituangkan secara apik melalui simbol-simbol atau pola-pola unik sarat makna, yang sekaligus digunakan untuk hiasan atau ornamen di dinding kaca, box kemasan, maupun cup minum. Hal tersebut dimaksudkan agar setiap karyawan selalu mengingat apa saja yang menjadi filosofi dari HokBen.  

Pola atau simbol unik itu diberi nama "HokBen Community Pattern".
Apa sajakah itu, dan apa saja maknanya? Berikut penjelasannya :

HokBen Community Pattern

  1. Parent and kid, simbol ini menggambarkan rasa sayang orang tua kepada anaknya. Simbol ini dipilih karena HokBen adalah restoran yang sesuai untuk keluarga, yang tidak hanya menyajikan hidangan enak, namun juga bergizi.
  2. Welcoming hello, simbol keramahan HokBen kepada para pelanggannya. 
  3. Friendship, simbol ini menggambarkan kedekatan dua orang yang diartikan sebagai hubungan persahabatan. Simbol ini memiliki makna HokBen merupakan tempat yang tepat untuk berbagi waktu kepada para sahabat, sambil menikmati santapan lezat dan bergizi. 
  4. Respect, simbol ini menggambarkan orang yang membungkuk dan memberikan salam sesuai dengan budaya Jepang. Perilaku ini merupakan penghormatan kepada orang lain, dalam hal ini adalah penghormatan kepada customers HokBen.
  5. Pride, secara harfiah diartikan sebagai kebanggaan. Maksud dari simbol ini adalah kita harus merasa bangga menjadi bagian dari keluarga besar HokBen yang kredibilitasnya terjaga dengan baik dan menjadi brand yang dipercaya customers untuk menjadi bagian yang tidak terlupakan oleh seluruh keluarga, sahabat, dan kerabatnya.

Menu Baru di Hokben
Secara umum HokBen menyajikan berbagai masakan Jepang populer, mulai dari tumisan (seperti yakiniku, teriyaki, dengan pilihan daging sapi atau ayam), gorengan (seperti chicken katsu, ekkado, ebi furai, chicken egg roll, dll), sukiyaki, shumai, gyoza, hingga salad dan sup (seperti sukiyaki, chicken tofu, shrimp ball, dan shrimp dumpling) yang dihidangkan baik secara satuan maupun paket. 

Selain itu tersedia pula minuman dan hidangan penutup khas seperti es sarang burung, es ogura, koori konyaku, dan puding.

Cita rasa masakan Jepang yang disajikan di HokBen telah disesuaikan dengan selera Indonesia, dengan bumbu yang lebih kuat. 

Disamping itu sebagai restoran yang ada di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, HokBen selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi konsumennya dengan adanya jaminan kehalalan dari produk-produknya.

Sudah Sejak bulan September 2008, dimana pada saat itu HokBen masih bernama Hoka-Hoka Bento, sertifikasi halal dari MUI sudah dimiliki dan senantiasa diperbaharui bila habis masa berlakunya. Di tahun 2017 ini, HokBen memperoleh sertifikat sistem jaminan halal, yang berlaku selama 4 tahun.

Sebagai restoran cepat saji masakan Jepang yang terkemuka, HokBen senantiasa melakukan inovasi terhadap varian menu-menunya. Hal ini dimaksudkan untuk penyegaran dan mencegah kebosananan dari para pelanggan setianya. 

Penjelasan Pak Sutrisno tentang Tokyo Bowl, doc : Yugo D.P.

Dalam penjelasannya, Bapak Sutrisno memperkenalkan varian terbaru yang ada di HokBen yakni Tokyo Bowl.

Varian pilihan menu Tokyo Bowl

Tokyo bowl ini adalah menu lengkap dan nikmat yang disajikan dalam sebuah mangkuk yang berisi nasi yang pulen dan wangi, ditambah topping lauk dan saus sesuai pilihan, dilengkapi dengan taburan seaweed dan daun bawang yang menambah selera.

Ada 5 varian yang bisa dipilih untuk menu ini, apa saja pilihannya, simak yang berikut ya...

1. Gyu Don

Gyu Don Soboro

Terdiri dari nasi pulen yang diberi topping daging sapi (beef) cincang dengan saus teriyaki khas HokBen (Gyu Soboro) ditambah potongan seaweed dan taburan daun bawang. Harga untuk menu ini adalah Rp. 31.000,-

2. Tori Don

Tori Don Soboro


Terdiri dari Daging ayam cincang dengan saus teriyaki khas HokBen (Teriyaki Soboro) yang disajikan diatas semangkuk nasi, dengan taburan potongan seaweed dan daun bawang.
Harga menu ini Rp. 27.000,-

3. Chicken Steak 
Ada 2 varian  rasa yang ditawarkan, yakni ori dan pedas atau hot. Yang membedakan adalah saus yang digunakan. 

Yang ori, terdiri dari daging ayam panggang tanpa tulang yang dibumbui dengan saus teriyaki khas HokBen (Ori Chicken Steak) dengan rasa manis dan gurih yang disajikan di atas semangkuk nasi, dengan topping potongan seaweed dan daun bawang. Harga menu ini Rp. 37.000,-. 

Ori Chicken steak

Sedangkan yang hot atau pedas terdiri dari daging ayam panggang tanpa tulang yang dibumbui Saus Miso Khas Jepang (Hot Chicken Steak) dengan rasa pedas, yang disajikan diatas semangkuk nasi, dengan topping potongan seaweed dan daun bawang. Harga menu ini Rp. 40.000,-

Hot Chicken Steak


4. Chicken Katsu Tare

Chicken Katsu Tare
Terdiri dari daging ayam tanpa tulang yang dibalut dengan bread crumbs dan bumbu khas HokBen yang dimasak dengan metode Deep Frying Oil yang disajikan diatas semangkuk nasi, dengan topping Saus Tare Khas HokBen, potongan seaweed dan daun bawang. Menu ini dibandrol dengan harga Rp. 31.500,-


5. Chicken Karaage 

Chicken Karaage

Terdiri dari daging ayam berkualitas yang dimasak dengan teknik Deep Frying Oil sehingga menghasilkan tekstur tepung yang garing dan renyah yang disajikan diatas semangkuk nasi, dengan topping Mayonaise khas HokBen, potongan seaweed dan daun bawang. Harga menu ini adalah Rp. 37.000,-

Nah..menu-menu di atas itulah yang akan kami coba, plus yakitori grilled yang juga merupakan menu baru. Masing-masing kami diberi kesempatan untuk memilih varian Tokyo bowl yang diminati.

Berdasar deskripsi yang diberikan dan pertimbangan pribadi serta sedikit feeling, akhirnya saya memilih chicken karaage sebagai menu makan malam, dan secangkir ocha panas untuk menetralisir lemak (sok bergaya hidup sehat sayanya, he..he..he).

Akhirnya setelah menunggu beberapa saat, menu yang ditunggu-tunggu datang juga.
Seperti ini penampakannya...

Chicken Kaarage orderan saya

Semangkuk hidangan berisi nasi lumayan banyak dengan 5 potong daging ayam krispi di atasnya, yang disiram saus mayonaise dan taburan seaweed serta daun bawang, terhidang di meja.

Pertama yang saya coba nasinya. Nasinya pulen, sedikit lengket seperti ada campuran beras ketannya, sehingga mudah diambil dengan sumpit. Aromanya wangi, sangat menggugah selera. Taburan seaweed di atasnya memberikan rasa asin dan gurih yang tidak membosankan. 

Kemudian saya coba ayam krispinya, dagingnya empuk, gurih, dan terasa renyah. Garing di luar empuk di dalam. Saos mayonaise yang disiram di atasnya semakin menambah kelezatan.

Dan ketika nasi dan ayam dimakan bersamaan, terasa nikmat yang luar biasa. Tidak butuh waktu lama untuk memindahkan hidangan di atas mangkok ke dalam perut saya, dan hasilnya sayapun kekenyangan.

Oh ya, masih ada menu yakitori grilled yang menunggu giliran untuk dicicipi. Yakitori grilled terbuat dari daging ayam tanpa lemak, yang dipotong-potong dan ditusuk dengan tusukan bambu kemudian dimasak dengan saus teriyaki khas HokBen dengan cara dipanggang, sehingga menghasilkan tekstur grilled di setiap potongan dagingnya. Rasa dagingnya empuk dan juicy, tidak kering. Rasanya juga ringan sehingga tidak memunculkan kesan eneg. 

Yakitori grilled

Yakitori grilled ini juga cocok untuk teman makan nasi. Satu porsi berisi 2 tusuk, dibandrol dengan harga Rp. 15.000,- saja. 

Secangkir ocha panas yang saya hirup, terasa segar dan hangat di badan, dan menjadi episode terakhir yang mengakhiri petualangan rasa yang saya lakukan di HokBen Jakal.

Setiap dari kami yang malam itu hadir dalam temu Komunitas Blogger Jogja di HokBen memiliki pengalaman sendiri-sendiri dalam menikmati varian menu Tokyo Bowl. Yang pasti saya sendiri merasa puas dengan menu Chicken Karaage pilihan saya. Menu ini cocok untuk saya yang menyukai cita rasa asin dan gurih. Dan ternyata Chicken Karaage termasuk menu favorit yang banyak dipilih konsumen HokBen. Jadi ga salah kan pilihan saya?

Sekitar pukul 19.00 acara diakhiri dengan foto bersama. Malam itu saya pulang dengan membawa pengalaman rasa dan satu tas jinjing berisi goodiebag menarik dari HokBen.

Foto bareng member KBJ, doc : Yugo D.P. 

Sayang, saya tidak beruntung mendapat doorprize, padahal saya sudah angkat jari untuk menjawab pertanyaan seputar HokBen dan menu barunya. Jadi ini bukan karena saya tidak bisa menjawab karena tidak menyimak penjelasan lho ya, tapi ini hanya semacam keberuntungan yang tertunda..he..he..he..

Goodiebag cantik dari HokBen

Terima kasih HokBen Jakal dan KBJ untuk undangan dan kesempatannya...

Penasaran dan berminat juga mencicipi Tokyo Bowl? Yuk..langsung datang  ke HokBen Jakal. Gampang kok nyari lokasinya, di google map sudah banyak sekali reviewnya.

Pantengin juga ig hokben_id kalau ingin tahu kabar terkini dan promo terbarunya. Bagi yang ingin praktis dan malas ke luar bisa langsung hubungi call center atau order via online di hokben.co.id.

Nikmati kelezatan dan keseruannya bersama keluarga, sahabat, dan orang-orang tercinta, karena di HokBen Jakal banyak fasilitas yang mendukung kenyamaan ketika makan di sana. 

Diantaranya terdapat private function room yang luas yang mampu menampung hingga 180 seat, sehingga ideal untuk reuni, meeting, atau acara gathering lainnya, terdapat juga fasilitas mushola, full internet access, dan yang pasti buka non stop 24 jam. Jadi kalau teman-teman tiba-tiba merasa lapar, nggak bingung lagi kan mau ke mana ??