Minggu, 01 Desember 2019

Kemeriahan Yang Gegap Gempita Dalam Gelaran ROAR GAMA 4.0

Helatan ROAR GAMA 2019
Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Meskipun disertai rintik hujan hal ini tidak mengurangi antusiasme penonton dalam menikmati acara puncak gelaran Rhapsody of the Archipelago: Gamelan 4.0 (ROAR GAMA 4.0) yang dihelat di Lapangan Grha Sabha Pramana, Sabtu 30 November 2019 pukul 19.00-23.00 WIB lalu. 

Diawali dengan Tari Kangen dari Pulung Dance Studio sebagai pembuka, acara yang digagas bersama antara Fakultas Ilmu Budaya dan Fakulas Ilmu Sosial Politik ini terbukti mampu mendulang sukses yang luar biasa.

Sekitar 5000 penonton memenuhi panggung utama.  Mereka tidak hanya dari Jogja saja, tetapi ada yang dari luar kota bahkan ada pula wisatawan manca. Para penonton tumpah ruah untuk menyaksikan sebuah acara yang istimewa.  

Tari pembuka
Dalam sambutannya, Menteri Sekretaris Negara RI, Dr. Drs. Pratikno, M.Soc.Sc. menyampaikan harapan agar apa yang diselenggarakan FISIPOL dan FIB UGM dalam rangka peringatan Lustrum ke-14 UGM dan Dies Fisipol UGM ke-64 ini dapat diikuti oleh daerah-daerah lainnya.

Karena ini di Yogyakarta, maka gamelan dijadikan anchor budaya, sehingga bernama Archipelago: Gamelan 4.0 (ROAR GAMA 4.0), maka kalau misalnya di Bandung, bisa jadi Archipelago Angklung ROAR UNPAD atau ROAR ITB,” demikian tegasnya.  

Dalam acara ini juga dilakukan penyerahan Awarding Lifetime Award dari ROAR GAMA 4.0 kepada Ki Trimanto yang karena jasa-jasanya di bidang seni budaya, mendapat gelar Empu Triwiguna dari Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Empu Triwiguna mendapatkan anugerah Lifetime Achievement Award karena pengabdiannya yang tanpa henti di bidang seni dan budaya Indonesia, khususnya gamelan. 

Penghargaan untuk Empu Triwiguna
Sebagai seorang empu pembuat gamelan, Empu Triwiguna memiliki idealisme yang luar biasa. Karena beliau lebih memilih tidak membuat gamelan, dari pada menghasilkan perangkat gamelan yang berkualitas buruk. 

Selain gamelan, karya-karya monumental beliau lainnya adalah Bende Millenium yang dipasang di Taman Impian Jaya Ancol, serta Bedug Kyai Ijo yang saat ini ada di Masjid Agung Tasikmalaya.

Sementara berkaitan dengan pelaksanaan acara, Ishari Sahida atau yang akrab disapa Ari Wulu yang merupakan mitra kreatif ROAR GAMA 4.0 menjelaskan bahwa penekanan acara ini lebih kepada bagaimana anak-anak muda mengelola kebudayaannya. 

Hal tersebut diwujudkan melalui penampilan lima kelompok musik yang lagu-lagunya digemari anak-anak muda saat ini. Seperti Mantra Vutura, Tashoora, Letto, FSTVLST, dan OM New Pallapa bersama Brodin sebagai pamungkas acara, yang karya-karya mereka diperkaya dengan orkestrasi gamelan.

Biasanya band-band bermain diiringi orkestrasi barat, kali ini dibuat band-band tersebut membawakan karya mereka dengan diiringi orkestrasi timur, dalam hal ini gamelan,” jelasnya. 

Sebagai penampil pertama di acara ROARGAMA ini adalah Mantra Vutura. Grup musik ini dipilih karena selain mereka digawangi anak-anak muda, musik mereka juga mencerminkan masa depan, impian, dan harapan.

Mantra Vutura
Sedangkan Tashoora dipilih karena musik-musiknya menawarkan kecemasan-kecemasan remaja dan anak muda dengan kritik-kritiknya. Sementara itu FSTVLST dianggap mewakili mereka yang muda, beringas, punya tekad, dan punya tujuan jelas yang disematkan. 

Tashoora
Sementara Letto, diharapkan menjadi penggambaran tahapan yang telah mapan, tentram, tenang, dan alus. Untuk band penutup dipilih OM New Pallapa bersama Brodin, yang merupakan sarana untuk mengajak semua bersama-sama merayakan kehidupan, setelah semua tahapan tersebut dilewati.

Dalam penjelasannya lebih lanjut Ari Wulu menyatakan “Anak muda saat ini lebih menyadari peranan nusantara untuk dirinya." 

Hal ini dapat dilihat dari semakin banyak anak muda sekarang yang mengapresiasi musik-musik tradisional Indonesia, baik itu gamelan ataupun dangdut.

Di sela-sela penampilan band-band di atas, diselipkan juga karya-karya gamelan dari para komposer muda yaitu Sudaryanto, Welly Hendratmoko, M.Sn., dan Anon Suneko, M.Sn yang dibuat hanya khusus untuk ROAR GAMA 4.0 ini. 

Mereka adalah komposer muda gamelan yang potensial di Yogyakarta. Ini adalah cara ROAR GAMA 4.0 mengakomodasi musisi-musisi muda yang inovatif dan memberi ruang bagi mereka untuk berkarya.

Penampil semua grup musik tersebut diiringi tiga pangkon (tiga set) gamelan, yang terdiri dari dua set gamelan pentatonis, dan satu set gamelan diatonis. 

Ide ini diambil seperti susunan ansamble orkestra barat yang berdasaran perkusi, alat musik gesek, tiup, dan sebagainya. Dengan penataan gamelan seperti itu, ROAR GAMA 4.0 mencoba menawarkan hal baru dalam penyajian. 

Karena menurut Ari Wulu, “Gamelan itu bukan hal yang dulu ada kemudian sekarang dilestarikan, namun gamelan ada di setiap jaman. Karena gamelan itu membuat jamannya sendiri. ROAR GAMA 4.0 adalah salah satu peristiwa dan bukti bagaimana gamelan sedang membuat jamannya sendiri", pungkasnya. 

Tidak terasa penampilan dari para pengisi ROAR GAMA 2019 ini telah sampai dipengujung acara. Seiring berakhirnya lagu paripurna dari OM New Pallapa bersama Brodin.

Mudah-mudahan persembahan yang disuguhkan malam ini dapat memberi insipirasi dan pemahaman baru mengenai bagaimana sejatinya gamelan yang selalu berkelindan dengan ruang dan waktu, sehingga selalu membuat jamannya sendiri, bagi setiap generasi. Dan semoga helatan ini bisa menjadi agenda acara rutin yang selalu dinanti.  

28 komentar:

  1. “Gamelan itu bukan hal yang dulu ada kemudian sekarang dilestarikan, namun gamelan ada di setiap jaman. Karena gamelan itu membuat jamannya sendiri. ROAR GAMA 4.0 adalah salah satu peristiwa dan bukti bagaimana gamelan sedang membuat jamannya sendiri"

    Quotenya sungguh mantab! Makin bangga dgn gamelan ya Mbaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mb, kita itu ternyata kaya. Semua daerah punya alat musik tradisional

      Hapus
  2. Aku belum pernah datang di kegiatan kece seperti ini. Ada perpaduan gamelan yang memang bagus dan bisa dikenalkan ke anak muda ya

    BalasHapus
  3. Wuah pasti meriah sekali ini acaranya, senang kalau dapat melihat langsung ya.
    Di sekolah anakku, tiap tahunnya ada pelatihan wajib gamelan di luar jam pelajaran sekolah. Seminggu sekali 1 jam saja latihannya, dimulai awal th ajaran baru dan ditampilkan saat mau kenaikan kelas.

    BalasHapus
  4. Keren ya. Musik gamelan bisa dikemas dengan modern seperti ini. Jadi hiburan yang unik

    BalasHapus
  5. Wah asik juga menikmati gamelan ditemani rintik hujan. Seni dan budaya jadi satu...

    BalasHapus
  6. seneng kalo liat pertunjukan musik secara langsung drpda liat di tv atau video internet. sensasinya lain daripada yg lain :D

    BalasHapus
  7. Mantap nih, gamelan membuat jamannya sendiri. Jadi penasaran kayak apa gamelan 4.0 ini

    BalasHapus
  8. Anak sekarang mana ngerti gamelan. Suka sebel aja ada yang bilang gamelan ndeso, kuno, eh giliran diklaim negara tetangga baru sibuk belajar gamelan

    Cape dehhh

    BalasHapus
  9. Gamelan akan terus ada sampai kapanpun ya. Banyak sekali gamelan dari berbagai daerah ya, dan aku banyak yg belum mengerti.
    Kemeriahan acara seperti ini patut diacungi jempol pokoknya, senang sekali kalau antusias penontonnya banyak begitu

    BalasHapus
  10. Baru tau kalau gamelan bisa dilepas secara modern gitu . Senang sekali bisa hadir di acaranya ya Mbak

    BalasHapus
  11. Senang sekali gamelan bisa dikemas secara modern. Bahagia ya mbak bisa hadir di acaranya

    BalasHapus
  12. Keren bangets ih acara ROAR GAMA 4.0.
    Kolaborasi antara gamelan dan musik terkini pasti indah sekali. Ide yang menarik mengagas acara ini. Kreatif sekali!

    BalasHapus
  13. Setuju banget sama statement bahwa gamelan ada disetiap zaman. Acaranya setu banget mbk. Ternyata group Letto madih ada ya.. Kangen sama suaranya

    BalasHapus
  14. Yes, saatnya gamelan makin cetar membahana. Suka dengan acara musik yang diiringi dengan gamela. Jadi, nanti akan mengangkat citra gamelan itu sendiri. Bahwa gamelan itu bakalan keren juga ketika berkolaborasi dengan musik modern.

    BalasHapus
  15. Setuju banget sama Mak Nurul, aku juga terkesima pas baca di bagian ini:

    "... gamelan itu bukan hal yang dulu ada kemudian sekarang dilestarikan, namun gamelan ada di setiap jaman. Karena gamelan itu membuat jamannya sendiri. ROAR GAMA 4.0 adalah salah satu peristiwa dan bukti bagaimana gamelan sedang membuat jamannya sendiri!"

    Nancep banget ini!

    BalasHapus
  16. Berarti gamelan bisa dimodifikasi dalam artian digabungkan dengan seni lainnya gitu Mbak?

    BalasHapus
  17. Idenya luar biasa memadukan gamelan dengan alat musik lainnya. Nggak cuma orkestra aja kan ya yang bisa tampil di panggung dunia nantinya. Gamelan juga oke banget.

    BalasHapus
  18. Keren nih gamelan bersanding dengan alat musik lainnya. Ga kalah dengan orkestra ya, gamelan juga bisa loh mendunia dan jadi kebanggaan Indonesia.

    BalasHapus
  19. Pastinya seru acaranya ya, penampilannya juga keren-kereen. Memainkan musik gamelan bisa membantu melestarikan kebudayaan juga ya...

    BalasHapus
  20. Keren y kalau alat musik tradisional di up kembali aplg sama generasi millennials biar mereka Tau gimana itu musik gamelan smoga acaranya berlanjut trus y mba

    BalasHapus
  21. Baca judulnya Roar Gama 4.0 nih Tak kira acara yang nggak jauh dari urusan teknologi atau gadget. Ternyata pagelaran gamelan. Masyaa Allah hebat. Gamelan dikonsep seperti orkestra.

    BalasHapus
  22. Wah di sana ajang pemusik berkolaborasi secara kreatif ya mbak. Bahkan ada yang bikin ada unsur budayanya kyk penggunaan gamelan. Pasti meriah sekali pertunjukannya malam itu :D

    BalasHapus
  23. Banyak yang masih melestarikan ini gamelan ya dan alat musik budaya Indonesia. Apalagi anak2 muda sekarang kan jarang. Tapi liat ini ternyata masih banyak ya mak

    BalasHapus
  24. Waah harusnya aku kesana ya mbak. Anakku tuh semangat bgt kalau liat gamelan. tapi kalau sekarang, referensinya masih musik karawitan gitu.

    BalasHapus
  25. Waaah empu pembuat gamelan. Keren sekali. Pasti beliau sangat ahli. Jadi ingat empu pembuat keris, sama gak sih? Hihi itu jaman dulu yak.

    BalasHapus
  26. Wah, bangga banget sekarang banyak anak muda yang kembali ke akarnya, belajar gamelan, alat musik Nusantara dan tarian tradisional, keren nih acaranya..

    BalasHapus
  27. Keren banget acaranya mbak. Aku lihat gamelan malah di malaysia. Kalau di Indonesia aku belum pernah nonton pergelaran gamelan

    BalasHapus