Sisi Lain Sejarah Epidemi HIV dan AIDS di Indonesia

sejarah epidemi HIV dan AIDS di Indonesia
Sejarah epidemi HIV dan AIDS (design by Canva)

Membahas tentang masalah kesehatan, memang tidak ada habisnya. Saat ini kita sedang fokus pada penyakit Covid 19 yang mewabah secara bersamaan di seluruh dunia (pandemi). Namun kita tetap tidak boleh abai terhadap penyakit lainnya yang juga perlu diantisipasi penularannya. Seperti penyakit HIV AIDS dan juga kusta.

Nah, bicara tentang penyakit HIV dan AIDS, kebetulan pada bulan Desember tepatnya setiap tanggal 1, diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Dan dalam rangka peringatan hari AIDS sedunia, YKIS (Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat) bersama KBR Indonesia menyelenggarakan diskusi Ruang publik dengan tema "Sisi Lain Sejarah Epidemi HIV dan AIDS di Indonesia".

Acara yang diselenggarakan pada hari Kamis, 2 Desember 2021 pukul 09.00 - 10.00 WIB ini dapat diikuti secara langsung melalui kanal Youtube KBR dan disiarkan melalui 100 jaringan radio KBR di seluruh Indonesia. Dalam acara ini hadir sebagai pembicara dr. Adi Sasongko (Ketua Badan Pengawas YKIS) dan Bram (ODHA) dengan dipandu Inez Nirmala selaku Host.

nara sumber diskusi ruang publik KBR sejarah epidemi hiv dan aids di Indonesia
Nara sumber dan host diskusi ruang publik KBR (sumber : Youtube KBR)

Banyak informasi yang saya dapat dari diskusi yang saya ikuti. Dan kali ini saya coba merangkumnya, siapa tahu bermanfaat untuk teman-teman pembaca.

Tentang Penyakit HIV dan AIDS di Indonesia

Sebagai nara sumber pertama, dr. Adi Sasongko dari YKIS memberikan penjelasan tentang sejarah HIV AIDS di Indonesia. Dr. Adi menyatakan, "Kasus AIDS di Indonesia pertama kali terdeteksi di tahun 1987. Dan berdasar data tahun 2020, jumlah orang dengan HIV dan AIDS di Indonesia berjumlah sekitar 523.000 orang"

Oleh karena itu selama bulan Desember dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia banyak campaign dilakukan sebagai sosialisasi langkah pencegahan dan pengobatan HIV dan AIDS. Lebih lanjut, dr. Adi juga memberikan penjelasan tentang Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat (YKIS). Yayasan ini berdiri pada tanggal 22 Desember 2017 oleh para tokoh kesehatan seperti Dr. Nafsiah Mboi, Prof. Dr. Syamsuridzal Djauzi, dan Prof.Dr. Zubairi Djoerban.

dr. Adi Sasongko dari YKIS nara sumber diskusi ruang publik KBR tentang sisi lain sejarah epidemi HIV dan AIDS di Indonesia
dr. Adi Sasongko dari YKIS (sumber : Youtube KBR)

Yayasan ini memberi parhatian terhadap permasalahan kesehatan yang ada di Indonesia, termasuk HIV dan AIDS, melalui kegiatan promotif dan preventif. Selain HIV dan AIDS, masalah kesehatan lain yang juga menjadi concern dari YKIS adalah tentang kesehatan reproduksi, kesehatan mental, dan juga stunting.

Kaitannya dengan masalah HIV dan AIDS, dr. Adi menekankan penyakit ini bisa dicegah dan bisa diobati. Permasalahan utama terhadap penanggulangan HIV dan AIDS selama ini menurut dr. Adi adalah adanya stigma yang terjadi di masyarakat karena adanya pemahaman yang keliru terkait dengan cara penularan HIV dan AIDS ini.

Banyak orang yang masih memiliki anggapan bahwa penyakit HIV dan AIDS ini sangat mudah menular bahkan hanya dengan bersinggungan atau memakai barang yang telah digunakan oleh penderita. Seperti handuk, atau alat makan.

Padahal faktanya, HIV dan AIDS hanya dapat menular dengan dua cara. Yakni kontak seksual dan kontak darah, misalnya dengan memakai jarum suntik yang sama pada pemakai narkoba, atau bisa juga lewat transfusi.

Stigma yang terjadi di masyarakat ini justru menghambat upaya menekan angka kejadian HIV AIDS di Indonesia. Karena orang yang berisiko terkena HIV dan AIDS menjadi malu untuk melakukan test dan cenderung menyembunyikan keadaannya. Hal ini tentu saja dapat memperparah kondisinya.

Yang perlu dipahami penyakit AIDS ini  memiliki masa inkubasi yang cukup lama, yakni 5 hingga 10 tahun untuk menunjukkan gejala. Sehingga kadang orang yang sudah terinveksi HIV tidak menyadarinya. Padahal dia bisa menularkan penyakit tersebut kepada pasangannya. 

Menurut dr. Adi dalam inveksi HIV Ada 2 tahap perkembangan perjalanan penyakit, yakni :

1. Tahap HIV+

Pada tahap ini orang yang terinveksi HIV sama sekali belum menunjukkan gejala sakit yang khas. Secara fisik dan juga intelektual tidak ada perbedaan sama sekali. 

Hanya saja ketika dilakukan test, dalam darah orang tersebut akan ditemukan virus HIV. Oleh karena itu agar tidak terlambat ditemukan, orang dengan aktivitas seksual yang berisiko harus rutin melalukan pemeriksaan untuk mengetahui ada tidaknya virus HIV dalam tubuhnya.

Orang-orang yang berisiko terjangkit HIV adalah orang yang suka berganti pasangan, melakukan aktivitas seks yang menyimpang, pengguna narkoba suntik, dan juga orang yang suka melakukan tindik atau tatto.

Pada tahap HIV+ ini, penyakit lebih bisa diobati dan angka hidup juga lebih besar. Saat ini sudah ada obat Antirestroviral (ARV) yang terbukti dapat menurunkan tingkat kesakitan dan tingkat kematian penderita HIV+. Seseorang yang didiagnosa terinveksi  HIV+ harus minum obat ini seumur hidupnya.

2. Tahap akhir (AIDS) 

Pada tahap ini orang sudah divonis terkena AIDS. Berbagai gejala sakit sudah dirasakan oleh penderita. Seperti kelelahan akut, penurunan berat badan yang drastis,  dan keluhan kesehatan lainnya.  

Karena di tahap AIDS ini virus sudah menyerang kekebalan tubuh. Akibatnya penderita akan mengalami berbagai keluhan infeksi yang parah sehingga harus dilakukan perawatan di rumah sakit. Berbagai keluhan sakit yang dialami oleh penderita Aids ini diantaranya adalah infeksi jamur pada rongga mulut yang parah, kanker kulit, TBC, dan masih banyak lagi.

Jika sudah sampai tahap AIDS, risiko kematian akan lebih besar terjadi. Oleh karena itu sangat penting dilakukan deteksi dini dan pencegahan dengan melakukan gaya hidup yang sehat dan bertanggung jawab. Masyarakat juga perlu mendukung upaya penanggulangan penyakit HIV dan Aids ini dengan menghentikan stigma. Agar penderita tidak terbebani dan mau mengakui kondisi yang dia alami.

gambaran faktor risiko penularan HIV dan AIDS
gambaran faktor risiko transmisi HIV dan AIDS
(kasus pada periode 1997 - 2006, sumber : kebijakanaidsindonesia.net)

Kisah Mas Bram, Orang dengan HIV AIDS

Dalam diskusi ini, hadir sebagai nara sumber kedua, Mas Bram. Mas Bram ini adalah orang dengan HIV AIDS (ODHA). Pada kesempatan ini mas bram bercerita tentang apa yang dialaminya. Mengawali paparannya, Mas Bram menyampaikan harapannya berkaitan dengan peringatan hari AIDS sedunia, "Ke depannya saya berharap informasi terkait HIV dan AIDS ini bisa lebih tersampaikan ke masyarakat. Sehingga stigma terhadap ODHA bisa hilang. Karens ODHA juga memiliki hak yang sama."

Mas Bram juga bercerita awal mula dia terdiagnosa HIV, yakni di tahun 2016. Saat itu karena masih di usia muda dan suka mencoba-coba, Mas Bram melakukan kegiatan seks yang berisiko.

Mas Bram orang dengan HIV dan AIDS
Bram, ODHA (sumber : Youtube KBR Indonesia)

Untungnya dia cepat terdeteksi sehingga pengobatan dapat segera dilakukan. Saat awal mengetahui dirinya positif HIV, Mas Bram ini tidak terlalu terkejut. Karena sebelumnya telah terlebih dahulu diberi tahu oleh petugas berbagai kemungkinan yang terjadi sehingga dia lebih bisa menerima.

Berkaca dari kasus Mas Bram ini,  sebagai orang tua kita harus dekat dengan anak-anak kita. Memberi pemahaman tentang kesehatan alat reproduksi dan juga tentang bahaya penyakit HIV dan AIDS ini. Agar anak-anak hati-hati dalam menjaga pergaulannya dan tidak terjerumus hal-hal yang dapat merugikan hidupnya.  

Saat ini, mas Bram dalam kondisi sehat, tidak ada keluhan sakit yang dirasakan. Kegiatan rutinitas sehari-haripun normal dia jalankan. Bahkan Mas Bram ini juga tetap bekerja dan melakukan aktivitas sosial lainnya untuk turut mendampingi dan memotivasi sesama ODHA. 

Untuk mengobati penyakitnya, Mas Bram secara rutin mengkonsumsi obat Antirestroviral (ARV). Sebelum mengkonsumsi ARV ini,  Mas Bram terlebih dahulu melalui serangkaian test untuk mengetahui kondisi kesehatan hati dan ginjalnya.

Karena pengobatan untuk HIV ini berlangsung seumur hidup, maka kondisi kesehatan hati dan ginjal harus baik. Efek yang dirasakan oleh Mas Bram awal mengkonsumsi obat ini adalah keluhan pusing.  Namun itu hanya dirasakan di 2 minggu pertama dia mengkonsumsi obat. Kalau sekarang sudah tidak ada keluhan lagi.  

Stigma yang dialami ODHA

Dalam diskusi ini, Mas Bram juga menyampaikan beberapa stigma yang dialami oleh ODHA. Seperti dikucilkan oleh masyarakat dan keluarga, bahkan sampai terjadi pengusiran juga.

Akibatnya sering terjadi orang dengan HIV dan AIDS ini tidak mau mengakui kondisinya kepada pasangan atau orang-orang terdekatnya. Hal ini menyebabkan risiko terjadinya keparahan dan juga penularan lebih besar terjadi.

Mas Bram sendiri punya cara agar keluarga besarnya tahu dan paham kondisinya. Yaitu dengan memberikan informasi yang sebanyak-banyaknya tentang HIV dan AIDS kepada keluarga dan orang-orang terdekatnya. Cara ini terbukti manjur, karena seluruh keluarga besar bisa menerima kondisinya.

Selain itu Mas Bram juga mengatakan kunci agar tetap optimis meskipun sebagai ODHA adalah bisa menerima diri sendiri seutuhnya, berdamai dengan diri sendiri sehingga tidak ada lagi rasa minder, apalagi putus asa.

Penutup

Sebagai closing statement diskusi kali ini, dr. Adi menyampaikan pesan untuk kita semua :
  1. HIV seperti penyakit lainnya, bisa diobati. Sehingga penderitanya dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik.
  2. Masyarakat tidak perlu menghakimi atau mendiskriminasi ODHA. Karena penularan HIV tidak semudah flu, batuk, atau penyakit menular lainnya. Cara penularannya spesifik melalui kontak seksual dan kontak darah.
  3. Masyarakat harus mencari sumber informasi terpercaya terkait bagaimana cara penularan berikut pencegahan HIV dan AIDS, agar terhindar dari hoax.  

Dengan hal-hal yang disebutkan di atas, dr. Adi berharap di tahun 2030 nanti Indonesia bisa bebas dari HIV dan AIDS. Semoga informasi ini bermanfaat ya...salam sehat selalu

Sapti nurul hidayati
Saya seorang ibu rumah tangga dari Yogya. Blog ini saya buat untuk tempat berbagi cerita dan pengalaman tentang apa saja. Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari tulisan saya. Untuk kerjasama, silakan kontak ke saptinurul (at) gmail.com

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter