Sabtu, 09 Februari 2019

Mencoba Menulis Fiksi

Selama ini saya jarang menulis cerita fiksi,  karena menurut saya menulis fiksi itu susah sekali.  Nah, kali ini saya mencoba menantang diri sendiri untuk menulisnya. Masih sederhana, sedikit konflik dan dialognya,  tapi tidak apa-apa ya... Namanya juga baru mencoba.  😀

Sumber : canva
Ini kisah sebenarnya faksi, campuran antara fakta dan fiksi,  semoga ada hikmah yang bisa diambil. Sengaja saya jadikan 2 bagian. Takutnya kalau jadi satu kepanjangan dan membosankan. Ok,  yuk dimulai ya... Semoga teman-teman suka,  ditunggu kritik dan sarannya... 😍😍

***

Manusia Kuat itu Kita

Saya kembali terdiam, WA dari seorang teman  membuat saya kehabisan kata. Tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. Teman saya ini bercerita dia (kembali) membatalkan niatnya untuk menggugat cerai suaminya. Dia merasa belum siap jika harus menyandang status janda. Takut dengan gunjingan masyarakat katanya. Padahal, dia masih muda, dan cantik. Karirnya pun melejit. Saya pikir akan lebih mudah bagi dia untuk memutuskan untuk berpisah. Apalagi dia belum punya anak juga.

Hubungannya dengan suaminya bukan hubungan yang sehat. Delapan tahun mereka menikah, jarang sekali mereka kumpul bersama. Bahkan bisa dihitung dengan jari. Itulah sebabnya ketika dia curhat, saya berikan dia kesempatan untuk berpikir sebenarnya apa yang dia cari dari pernikahannya itu. Apakah ketenangan dan kebahagiaan bisa dia dapat ? Kalau tidak sepertinya dia mesti berpikir lagi, akan meneruskan atau mengakhiri pernikahannya.

Sumber : pixabay.com
Meskipun dalam hitungan kertas, dia merasa tidak bahagia dengan pernikahannya, tapi dia masih ragu untuk mengambil keputusan. Bayangan kondisi ibunya dulu yang single parent masih menjadi traumanya. 

Teman saya, sebut saja namanya Vina memang dari keluarga broken home. Orang tuanya cerai saat dia masih duduk di bangku SD. Dan kenangan bagaimana perjuangan ibundanya mencari nafkah dan bertahan di tengah cibiran orang-orang sekitar atas status janda yang disandangnya membekas sekali dalam ingatan. 

Seolah-olah janda adalah sebuah kesalahan besar. Menjadi gunjingan keluarga besar maupun tetangga. Dianggap tidak mampu mengurus suami dan keluarga, dan cap itu melekat selamanya. Menjadikan ibunya pun keras dalam mendidiknya. Termasuk prinsip perempuan harus mandiri dan punya uang sendiri.

Vina tidak secara khusus menjelaskan kenapa kedua orang tuanya bercerai. Tapi kalau secara sepintas menyimak dia bercerita, sepertinya masalah ekonomi yang menjadi kendalanya. Bapak Vina malas bekerja. Bapak Vina hanya mengandalkan penghasilan ibu Vina yang mempunyai usaha dagang di kios kecil warisan keluarga.

Padahal sebagai seorang lulusan STM jurusan mesin banyak hal yang bisa dilakukan Bapak Vina. Banyak tetangga yang meminta bantuan bila ada masalah dengan kendaraannya. Harusnya bapak Vina bisa mendirikan usaha bengkel, tapi itu tidak dilakukannya. Ada saja alasan yang diutarakannya. Hingga membuat ibu Vina kesal, dan ujung-ujungnya menjadi ribut. 

Saya masih merenungkan kembali kisah Vina, ketika tiba-tiba gawai saya berbunyi. Sebuah pesan masuk. Kali ini seorang teman dari salah satu komunitas  yang saya ikuti yang mengirim pesan. Beberapa kali kami bertemu. Orangnya ceria sekali. Tapi siapa sangka kalau dia memiliki cerita yang tidak biasa. Dia adalah Mbak Wuri. Seorang perempuan yang energik sekali.

Pernah bercerai dan memutuskan untuk rujuk kembali. Meskipun tidak lama kemudian dia memutuskan untuk bercerai lagi. Alasan kenapa dia menggugat cerai, ternyata sama dengan alasan pertama sewaktu dia menggugat mantan suaminya dulu.

Sumber : canva
Suaminya kurang perhatian dengan keluarga. Lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Dari ceritanya, dia sebenarnya tidak yakin dengan rujuknya itu, tidak yakin suaminya berubah. Namun lagi-lagi desakan orang sekitar membuat dia menyerah dan memberi mantan suaminya kesempatan. Meskipun hasilnya seperti yang sekarang, dia menggugat cerai lagi. 

Saya yakin, tidak mudah bagi dia menjalani statusnya. Apalagi dia masih muda dan lumayan menarik. Dua kali dia harus bercerai dengan orang yang sama. Stigma negatif mungkin akan gampang melekat kepadanya. Tapi demi sang buah hati dia kemudian bangkit, dan memulai semua dari awal. Mengasah kemampuan memasaknya sehingga menjadi keahlian yang mendatangkan rupiah bagi dirinya. Dia fokus dengan tujuan yang ingin diraihnya. Dan untuk itu dia tidak sendirian. Dia berbagi bebannya kepada orang yang dia anggap sebagai ahlinya. 

Dia memiliki mentor pribadi yang mendampingi. Kegiatan yoga pun rajin dia ikuti, dan hasilnya emosi negatif bisa dia minimalkan. Seluruh energinya dia fokuskan untuk membesarkan usaha kuliner yang dirintisnya. Dalam hal ini dia sudah menemukan passionnya.

Ketika dia jenuh, dia berusaha menyalurkankan dengan mengundang sahabat-sahabatnya untuk memasak bersama dan memodifikasi resep yang dia punya. Hasilnya diapun lupa dengan masalahnya, dan teman-temannyapun memperoleh ilmu baru. Sebuah cara mengalihkan energi negatif yang bagus untuk ditiru. Dia tidak pernah berpikir takut tersaingi. Karena dia yakin rejeki Allah yang mengatur. 

Tiba-tiba "cling", sebuah ide masuk ke dalam pikiran saya.  Saya ingin mempertemukan Vina dan Mbak Wuri. Pasti ketika mereka berdua bertemu dan saling bercerita tentang masalahnya akan banyak nyambungnya. Karena permasalahan mereka hampir sama. Kurang beruntung dalam kehidupan berumah tangga. Meskipun itu belum menjadi endingnya, siapa tahu di masa depan keduanya akan menemukan kebahagiaannya..

Bersambung di : Manusia Kuat Bag 2 


41 komentar:

  1. Ditunggu sambungannya Mbak

    BalasHapus
  2. Menarik dan memang itu fakta yang ada. Kadang kita merasa sudah tidak mampu kebih dahulu. Padahal dibalik ujian pasti ada skenario Allah yang belum kita ketahui.
    Ditunggu lanjutannya ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, sabar itu kuncinya... Meskipun itu memang tidak mudah... Siap mb, mksh sudah mampir...

      Hapus
  3. wahhh menarikkk.. jangan lama2 ya buat kelanjutan ceritanya. heheheh
    betul sekali kalau kita bersabar dan berdoa pasti ada jalan keluar. kalau kita tidak sabar dan mudah emosi kadang malahan yang ada makin berantakan dan susah berkonsentrasi dan kita hanya fokus pada masalah kita dan susah untuk menatap ke depan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, he3..termksh sudah mampir... 😀

      Hapus
  4. Penasaran sama lanjutannya. Saya kurang bisa menulis fiksi. Sulit mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini saya juga masih coba2, he2..trmksh sudah mampir...

      Hapus
  5. Ditunggu kelanjutannya yaaa mbak sapti. Semoga endingnya mereka ngk jadi cerai fan suaminya dapat hidayah, dan syetan pun bersedih krn tak bisa memisahkan suami-istri. Krn prestasi terbesar syetan adalah menceraikan pasangan halal.
    Smga kita dilindungi dan sakinah mawadah warahmah yaa mbak..aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Iya mb, mari kita buat syetan bersedih... 😀

      Hapus
  6. Ditunggu kelanjutannya ceritanya mba, sangat kreatif ku ingin menulis cerita fiksi juga cuman terkadang susah untuk mendapat tema, batu buka laptop aja Uda bingung mau nulis apa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mb, ini juga baru coba2...trmksh sudah mampir...

      Hapus
  7. Semangat menulis mbaa, ini tulisannya udah bagus lho. Ditunggu kelanjutannya. ^^

    BalasHapus
  8. Mirip dengan kisah salah seorang kerabatku. Meski berbagai saran telah diberikan, tetapi ia lebih memilih untuk tetap bertahan meski untuk itu ia harus menjadi tulang punggung karena sang kepala keluarga hanya bisa bersantai saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mmg ga mudah sih mb... Pasti byk pertimbangan yang melatarbelakangi. Salah satunya stigma negatif masyarakat dengan status janda yang disandang... Btw mksh sudah mampir...

      Hapus
  9. Pengen tahu cerita selanjutnya ya mb, semoga endingnya baik untuk mb Vina.

    BalasHapus
  10. Penasaran mba, ditunggu kelanjutannya jangan lama2 ya hehe

    BalasHapus
  11. Janda ketemu janda biasanya memang jadi penyemangat tersendiri, eh, satunya belum jadi janda ya, hehe...
    Ditunggu kelanjutan ceritanya, Mbak.

    BalasHapus
  12. Aamiin.. Semoga keduanya bisa menemukan kebahagiaan masing masing ya mbak.. Sudah ketemu kah mereka?

    BalasHapus
  13. Ide ceritanya dekat dengan keseharian. Tulisannya udah tapi, ejaan juga udah bagus :)
    Insya Allah Mbak pasti bisa kok bikin banyak cerpen :)
    Nah, sedikit saran; selipi juga dengan dialog2 antar tokoh yg menunjukkan suasana hati dan sikap mereka. Pasti nanti ceritanya jadi lebih hidup.

    Lanjuut, Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih... Iya, kurang dialog2nya menang.. He3...terimakasih sarannya... 😀

      Hapus
  14. Wah... Walau masih belajar, tulisannya sudah ngalir mbak. Jadi pengen nulis fiksi😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk mb.... Saya suka baca cerpen, dll tapi kok kalau disuruh bikin susah... 😅

      Hapus
  15. nganu, saya mau komentar lanjuuuutt gitu, bolehkah?? kisahnya menarik sekali, jangan lama-lama updatenya ya mbak ,,, hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk... Sudah mb... Mksh sudah mampir... 😀

      Hapus
  16. Wah penasaran sama lanjutannya. Bagaimana akhirnya WiFi dan Vina bertemu

    BalasHapus
  17. Perjalanan hidup seseorang berbeda-beda. Semoga tmnnya bisa mengatasi masalah rumah tangganya dgn baik ya mba. Ditggu kisah slnjutnya..

    BalasHapus
  18. Baru tahu istilah faksi ini, jadi inget dulu juga suka nulis cerita dengen genre begini.

    Yah, klu hubungan RT sudah nggak sehat gitu mau gimana lagi ya mbak? Mau dipertahanin jg susah, dilepas jg dicerca orang2? Yah, smg segera ketemu solusi terbaiknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga tahunya belakangan mb, tulisan yang memadukan fakta dengan fiksi. Iya mb, mksh...

      Hapus
  19. Menarik sekali ceritanya, Mbak..lanjutkan :D

    BalasHapus
  20. bagus mbak ceritanya...dan bagaimanakah kelanjutan ceritanya? jangan kemana-mana hehehe

    BalasHapus