Jumat, 15 Februari 2019

Seminar "Menjadi Enterpreneur itu Asyik", Memantik Semangat Berwirausaha Semakin Menggelitik

"Nanti kalau sudah otw kabari yaa..."
Demikian pesan singkat yang saya kirim kepada teman saya Mbak Latifah  di hari Kamis pagi, tanggal 14 Februari 2019 lalu. Ya, hari itu saya dan beberapa teman berencana menghadiri acara seminar "Menjadi Enterpreneur itu Asyik" yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta dalam rangka Expo UKM Istimewa 2019. Acara yang digelar mulai tanggal 14-16 Februari 2019 ini mengambil tempat di halaman Kantor Dinas Koperasi UKM DIY Jl. H.O.S Cokroaminoto 162 Yogyakarta. 

Kebetulan seminar yang ingin kami hadiri dilaksanakan di hari pertama pameran. Seminar itu menarik bagi saya, karena sudah lama saya tertarik untuk menjadi seorang enterpreneur. Hanya saja saya masih bingung harus memulai dari mana. Siapa tahu setelah mengikuti seminarnya saya memperoleh pencerahan dan tahu harus berbuat apa.

Rencananya kami akan berangkat pukul 08.30 WIB karena berdasar informasi yang kami terima, seminar akan diadakan pukul 09.00 WIB. Namun karena ada satu dan lain hal, kami baru bisa berangkat pukul 09.30 WIB. Pikir saya waktu itu kami pasti terlambat. Saya cuma berharap semoga saja masih tetap bisa mengikuti dan ada makalah yang bisa dipelajari.

Kami berfoto di lokasi (doc.pri)
Sekitar pukul 09.50 WIB kami tiba di lokasi. Seorang kawan lainnya yang sudah terlebih dahulu sampai memberitahu kalau acara sudah dimulai dan kawan saya itu memilih tidak mengikuti karena terlambat juga. Dia menunggu saya di depan panggung utama yang saat itu tengah bersiap untuk acara pembukaan expo. Begitu kami bertemu, saya langsung mengajak teman-teman untuk naik ke ruang seminar saja. Tidak apa-apa terlambat dari pada tidak mengikuti, begitu pikir saya. 

Sesampainya kami di aula yang berada di lantai 2,  kami memperoleh informasi kalau acara seminar diundur setelah acara pembukaan pameran. Kamipun lega mendengarnya. Dari seorang panitia kami juga baru paham kalau acara yang sudah berlangsung di salah satu ruang di lantai dua yang kami kira acara seminar adalah acara pembekalan bagi peserta yang lolos program Inkubator Bisnis UKM Naik Kelas. 

Saya jadi penasaran apa itu Program Inkubator Bisnis UKM naik Kelas. Dari penjelasan yang saya dapatkan, Inkubator bisnis UKM Naik Kelas merupakan kegiatan dari PLUT-KUMKM DI Yogyakarta berupa program akselerasi bagi usaha mikro kecil agar semakin tumbuh berkembang dengan fokus pada peningkatan produktivitas dan daya saing.

Kantor Plut (doc.pri)
Dalam program ini, peserta akan didampingi dan dibekali dengan berbagai pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi pengembangan usahanya. Pada tahap awal, program Inkubator Bisnis ini menyasar 300 pelaku usaha pemula yang kemudian akan diseleksi sehingga akhirnya akan dipilih 15 UKM terbaik. Program ini diselenggarakan selama kurun waktu tahun 2019. 

Syarat untuk mengikuti program ini mudah, diantaranya memiliki KTP DIY, usia maksimal 40 tahun, memiliki Usaha yang sudah berjalan maksimal 2 tahun atau sekurang-kurangnya 1 tahun berjalan, dengan bidang usaha yang ditekuni meliputi bidang kuliner/ aneka olahan, Craft/ Kerajinan, Fashion, dan jasa. 

Program ini memberi semangat tersendiri buat saya. Ternyata kalau kita ingin menjadi enterpreneur kita tidak sendiri. Ada lembaga khusus yang sangat keren yang mendukung perkembangan bisnis yang akan kita tekuni. Tinggal kita mau atau tidak memanfaatkan peluang ini. 

Pembukaan Expo UKM Istimewa 2019
Sambil menunggu acara seminar kami menuju ke panggung utama untuk mengikuti pembukaan pameran dan melihat stand-stand yang ada. Di panggung utama sudah banyak tamu undangan yang hadir. Tidak berapa lama acara dibuka.  Diawali dengan sambutan dari penyelenggara, acara pembukaan pameran berlangsung sederhana namun meriah.

Sambutan (doc.pri)

Para tamu undangan (doc.pri)
Ditandai dengan pengguntingan pita oleh Bapak Muji Raharjo, staf ahli gubernur bidang ekonomi, Expo UKM Istimewa yang mengambil tema "Menjadi Enterpreneur itu Keren" ini resmi di buka. 

Pengguntingan pita (doc.pri)
Kegiatan yang baru pertama dihelat ini direncanakan menjadi pameran tetap yang teragendakan. Sebagai salah satu upaya untuk mempromosikan UKM yang ada, dan bentuk nyata pembinaan para pelaku usaha kecil-menengah.

Stand makanan dan minuman (doc.pri)

Stand aneka camilan (doc.pri)

Stand Jurnal.id
Dalam acara ini digelar pula berbagai kegiatan baik seminar maupun workshop yang mendukung UKM berkembang baik secara offline maupun online. Seperti Seminar "Menjadi Entrepreneur Itu Asyik " bersama Bank BPD, Talkshow Pintar Literasi Keuangan bersama Jurnal.id, Workshop Foto Produk dengan kamera, Workshop Foto Produk dengan smartphone, Seminar Pintar Menangkap Peluang Bisnis Repackaging bareng Dikemas.com & RPX Logistic, Talkshow UKM Naik Kelas bersama UMKMJogja.id, Talkshow Pintar Mengelola Keuangan untuk UMKM, dan Workshop Cara Membuat Content Writing yang Menjual bareng Gapura Digital.

Pengunjung tinggal memilih seminar atau workshop apa yang ingin diikuti sesuai dengan kebutuhannya sendiri-sendiri. Sejumlah stand yang terdiri dari kuliner, craft, maupun fashion tampak memeriahkan bazaar. Aneka makanan dan minuman khas seperti cao kelor, minuman legen, aneka jamu, sego pondoh, baceman, gudangan, sampai jajanan sempol pun ada. Para pengunjung tinggal memilih makanan dan minuman yang disuka. 

Seminar "Menjadi Enterpreneur Asyik"
Setelah puas melihat-lihat suasana, kamipun segera menuju ke aula di lantai dua untuk mengikuti seminar. Seminar ini menampilkan nara sumber Ibu Marisna yang biasa dipanggil Bu Risna. Beliau adalah seorang enterpreneur wanita pemilik dari usaha kuliner Bakpiapia yang berdiri sejak tahun 2004. Sedangkan nara sumber kedua adalah Ibu Anggorowati perwakilan dari Bank BPD Jogja.

Para peserta seminar (doc.pri)
Dalam acara ini Ibu Risna banyak bercerita tentang usaha bakpianya yang merupakan usaha keluarga. Kedua orang tua Ibu Risna yang merintisnya. Berawal dari kursus masak yang pernah diikuti, akhirnya keahlian membuat bakpia dipilih untuk ditekuni. Bakpia dipilih karena merupakan cemilan khas Jogja yang banyak dicari. Merk dagang yang digunakan saat itu adalah Bakpia Jogja dengan lokasi produksi di daerah Dagen, di rumah orang tua Bu Risna.

Bu Risna tengah menyampaikan pemaparan (doc.pri)
Dulunya Bakpia Jogja ini dijual dari rumah ke rumah. Tidak jarang bakpia buatan keluarga Bu Risna dibagi-bagikan kepada tetangga untuk promosi. Karena rasanya yang enak akhirnya Bakpia Jogja ini banyak diorder dan dibeli. Hingga akhirnya berkembang dengan pesat seperti saat ini. Bakpia Jogja ini merupakan bakpia original dengan kulit tipis dan menggunakan kacang ijo sebagai isi.

Dalam perkembangannya, Bakpia Jogja berubah nama menjadi Bakpiapia. Dan inovasi produk pun terus dilakukan. Selain bakpia ori (di Bakpiapia disebut dengan istilah bakpia single) ada juga bakpia blasteran. Kenapa disebut blasteran, karena bakpia ini merupakan modifikasi, kulitnya menggunakan pastry, sedangkan isiannya lebih beragam dan kekinian, dan diberi topping juga. Ada rasa coklat, blueberry, capucino, keju dan lain-lain.

Aneka varian produk Bakpiapia (sumber : ig bakpiapia)
Sedangkan varian isi untuk bakpia single juga tidak cuma kacang ijo saja, tapi ada keju, black beauty, dan coklat sebagai pilihan. Kalau teman-teman penasaran, dengan produk olahan bakpiapia bisa cek di instagramnya @bakpiapia

Saat ini Bu Risna memiliki karyawan sebanyak 70 orang untuk mengelola 5 cabang di Indoneasia, dan memiliki 1 cabang di Australia tepatnya di Brisbane. Untuk bakpia di Australia ini, bu Risna menggunakan brand Blasteranoz, dengan varian isi disesuaikan dengan lidah orang Australia. Seperti Choco, capucino, blueberry, dan cheese. 

Dalam kisah suksesnya, bu Risna mengemukakan bahwa untuk menjadi enterpreneur handal, kita harus mau belajar dan bekerja keras. Awal-awal semua memang harus dikerjakan sendiri, tapi lambat laun seiring dengan bertambah besarnya usaha, kita harus bisa mendelegasikannya kepada orang lain. Ini berarti menjadi enterpreneur membuat kita berkesempatan untuk membuka lapangan kerja. Itulah asyiknya menjadi enterpreneur. Selain bermanfaat untuk diri sendiri dan keluarga, juga memberi faedah untuk orang- orang di sekitar kita. Jadi, mari menjadi enterpreneur. Karena enterpreneur itu keren 👍👍.

Masalah permodalan yang selama ini menjadi kendala bagi UKM juga tidak perlu dikhawatirkan lagi. Karena saat ini ada program bantuan modal berupa KUR (Kredit Usaha Rakyat) dari bank, salah satunya dari bank BPD. Hal ini dijelaskan oleh nara sumber kedua Ibu Anggorowati.

KUR adalah kredit modal usaha atau investasi kepada debitur usaha yang produktif dan layak namun belum bankable (agunan tambahan belum cukup) dan akan mendapat jaminan dari perusahaan penjamin.

Bu Anggorowati menjelaskan tentang KUR
Program KUR di BPD memiliki bunga 7% per tahun. Dan program ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah. Sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. KUR sendiri dibedakan menjadi dua, yakni KUR mikro dengan plafon kredit 25 juta dan KUR ritel dengan plafon di atas 25 juta sampai maksimal 500 juta. Cukup menarik bukan? Jika teman-teman berminat dengan program pembiayaan ini silakan hubungi kantor BPD terdekat untuk menanyakan syarat dan ketentuannya. 

Nah, itulah sedikit cerita saya tentang Expo UKM Istimewa 2019 yang diselenggarakan Dinas Koperasi UKM DIY. Sebuah kegiatan yang cukup menarik dan bermanfaat untuk pemberdayaan UKM dan menjadi penyemangat bagi yang ingin menjadi wirausaha. Jadi, apakah teman-teman tertarik untuk menjadi enterpreneur? Yuk jangan ragu untuk memulai. Dan jika ada kesulitan PLUT KUMKM DIY  siap melayani, mendampingi, serta memberi solusi dan semua 100% free. Yuk tunggu apa lagi, mari menjadi enterpreneur sejati...
Salam...

Senin, 11 Februari 2019

Manusia Kuat Itu Kita (bag.2)

Sumber gambar : Canva
Pukul 16.00, di sebuah kedai kopi saya duduk sendiri. Menanti kedatangan Vina dan Mbak Wuri. Ya, akhirnya kami sepakat dan membuat janji untuk bertemu di sini, di sebuah kedai kopi yang letaknya mudah dicari. Hidangannyapun bervariasi. Cocok untuk tempat ngobrol dan diskusi. 

Tidak berapa lama, "Assalamu`alaikum," suara yang sudah sangat akrab di telinga saya menyapa. Dialah Vina, baru pulang dari kantor sepertinya. Masih dengan tas kantor yang selalu dijinjingnya. Penampilan khas wanita bekerja, rapi dan wangi. "Wa`alaikum salam", jawab saya. Kami saling melempar senyum dan berjabat tangan, sembari cipika dan cipiki. Vina mengambil tempat duduk tepat di depan saya. Seakan siap membombardir saya dengan banyak pertanyaan. Dia memang penasaran sekali dengan sosok Mbak Wuri, meskipun saya sudah memberikan gambaran siapa dan bagaimana Mbak Wuri tapi dia masih saja belum puas. Belum sempat dia melontarkan pertanyaan, dari arah pintu depan kedai kopi saya melihat penampakan Mbak Wuri. Langsung saya memberikan kode dengan melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Rupanya Mbak Wuri melihat kami. Senyumnya pun mengembang, bergegas dia menghampiri meja kami dan duduk di sebelah Vina, sambil mengulurkan tangannya, "Wuri" katanya ke arah Vina. Vina pun membalas dengan menyebutkan nama.

Akhirnya obrolan mengalir apa adanya. Dari hal-hal yang sederhana, sampai kemudian ke pembicaraan yang lebih serius. Mereka saling bercerita tentang masalah yang mereka hadapi. Mbak Wuri bercerita bagaimana prosesnya sehingga dia bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Menanamkan ke dalam dirinya kalau dia sangat berharga dan pantas bahagia.

Sumber gambar : canva
Vina pun seperti tersadar banyak hal dalam dirinya yang harus disyukuri. Sebagai perempuan dan istri secara materi dia tidak tergantung pada suami. Mungkin masalah komunikasi yang perlu diperbaiki. Baik Vina maupun Mbak Wuri saling mengambil manfaat dari pertemuan itu dan saling menguatkan satu sama lain. Bahwa sesungguhnya mereka tidak sendiri. Banyak di luar sana wanita yang memiliki masalah yang sama. Dan bertemu dengan orang-orang yang memiliki masalah yang sama, bermanfaat bagi penguatan jiwa.

Bagi saya pribadi, mendengar kisah mereka menjadi pelajaran tersendiri juga. Bahwa sesungguhnya berbagai masalah yang diberikan  Allah kepada kita pasti ada ujungnya. Tergantung kita sabar tidak menjalani prosesnya. Tidak terasa hampir 3 jam kami ngobrol bersama. Sampai kemudian telpon genggam saya berbunyi, suami menelpon dan mengabari bapak mertua dan keluarga datang ke rumah kami. Sehingga kamipun mengakhiri bincang-bincang ini. Dan berjanji kapan-kapan bersilaturahmi lagi. Sebelum berpamitan, Vina dan Mbak Wuri pun saling bertukar nomor HP. 

***
Waktu berlalu, sudah hampir 3 bulan setelah pertemuan saya dengan mereka di kedai kopi itu. Saya tidak mendapat kabar apapun dari Vina maupun Mbak Wuri. Padahal biasanya setiap minggu pasti mereka menghubungi untuk sekedar say hai atau curhat. 

Apalagi Vina, minimal seminggu sekali pasti telpon atau WA, bercerita panjang lebar tentang masalahnya. Sedikit heran tapi saya tahan...pikir saya mungkin mereka sibuk jadi belum sempat cerita-cerita. 

Tiba-tiba "ting tong" bel rumah berbunyi. Segera saya menuju ruang tamu untuk membuka pintu. Dan betapa kagetnya saya, tampak Mbak Wuri dan Vina berdiri di depan pintu. Senyum mengembang dari keduanya. " Hai Wik",  sapa mereka hampir berbarengan. " Wah, kalian.." sahut saya tanpa bisa menyembunyikan rasa kaget dan gembira. Takjub saja, belum lama kenal tapi mereka kelihatan saling akrab dan dekat. Ada beberapa perubahan yang jelas terlihat. Vina kelihatan lebih lepas, dan Mbak Wuri tampak lebih modis, rapi, dan percaya diri. Tampaknya mereka berdua saling mempengaruhi, tentu saja di hal-hal yang positif. Keduanya kemudian saya ajak masuk ke rumah. 

Baru saja duduk, Mbak Wuri sudah mulai bercerita. Intinya merasa bersyukur dikenalkan dengan Vina. Dari Vina Mbak Wuri banyak belajar tentang pencatatan keuangan usaha, memadupadankan baju dan belajar berdandan, terutama bila mau bepergian. Vina juga sering memesan snack atau nasi box untuk kegiatan kantornya. Dan merekomendasikannya kepada relasi-relasinya. Sehingga usaha Mbak Wuri menjadi semakin berkembang dan tertata. Tampak sekali binar bahagia di mata Mbak Wuri. 

Vina pun tidak kalah hebohnya. Dia bercerita, dari Mbak Wuri dia belajar tentang bagaimana mengelola stress, dan menyalurkannya ke hal-hal yang positif. Sehingga Vina bisa lebih bisa terbuka untuk mencurahkan isi hatinya. Vinapun sekarang juga ikut kelas yoga dan punya coach pribadi juga. 

Melihat perubahan positif dari keduanya saya merasa bahagia. Ternyata mereka bisa saling menguatkan satu sama lain. Benar juga ternyata, kalau berkoloni itu membuat kita kuat dan masalah tidak ada yg berat. Kita memang tidak pernah bisa mengetahui bagaimana masa depan kita nanti. 

Yang bisa kita lakukan adalah mengupayakan agar semua berjalan sesuai yang kita rencana. Pun kalau akhirnya harus berbelok-belok, bukan berarti akhir dari segalanya. Justru itu memberi peluang kepada kita untuk belajar dan memahami banyak hal. Allah tidak pernah salah dalam membuat jalan cerita, hanya kita saja yang sering tergesa menyimpulkannya. Karena Allah tidak pernah memberi cobaan di luar batas kemampuan kita. Dan manusia kuat yang dipilih itu adalah kita..

Kembali ke masalah Vina dan Mbak Wuri, sampai kisah ini saya tulis Vina belum bercerai dengan suaminya. Dan Mbak Wuri pun masih sendiri. Tapi paling tidak perubahan signifikan sudah kelihatan. Vina tidak lagi terlihat murung dan uring-uringan. Tidak lagi ada kekhawatiran yang membayangi wajahnya. Kekhawatiran tentang status dan masa depannya. Dia terlihat lebih enjoy dan menikmati hari-harinya. Bahkan terakhir saya dengar dia mau menggunakan jasa konsultan pernikahan untuk menyelesaikan masalah antara dia dan suaminya. Sesuatu yang selama ini tidak mau dia gunakan. Malu katanya..

Mbak Wuri juga banyak perubahannya. Penampilan lebih rapi dan profesional. Bahkan mbak Wuri dan Vina sepakat berkolaborasi membentuk semacam lembaga yang memberi ketrampilan khusus untuk para perempuan (terutama single mother) dengan biaya yang relatif terjangkau agar mereka bisa punya kemampuan untuk membuka usaha sendiri.  Keterampilan yang ditawarkan beragam, mulai dari tata boga, tata busana, dan tata rias juga ada. Di setiap bulannya lembaga tersebut mengadakan sharing session untuk para pesertanya. Masalah apapun boleh disharekan. Bisa masalah bisnis atau pribadi. Semua berusaha dicarikan solusi. Kadang mereka mengadakan gathering dan senam bersama juga.

Vina dan Mbak Wuri sengaja ke rumah untuk mengabari sekaligus mengajak saya untuk turut membantu di lembaga yang mereka dirikan. Dibidang yang tidak jauh-jauh dari saya tentunya, tulis-menulis. Terharu dan senang saya mendengarnya. 

Vina dan mbak Wuri Alhamdulillah sudah menemukan jalannya dan siap menjalani prosesnya. Sementara saya masih di sini bersama komputer yang senantiasa membersamai. Terus berlatih mengasah kemampuan diri, untuk bisa menulis sesuatu yang bisa menginspirasi, syukur-syukur bisa turut memberi solusi. Dan entah kapan nanti saya bermimpi akan ada sebuah buku dengan nama saya tertulis di situ sebagai pengarangnya, ikut berjajar rapi di toko-toko buku terkenal seantero negeri,  aamiin..

Ya, karena semua berawal dari mimpi.. Seperti bunyi syair lagu soundtrack film Laskar Pelangi yang dinyanyikan oleh Nidji, bahwa "mimpi adalah kunci bagi kita untuk menaklukkan dunia.." yang tengah diputar di mp3 milik anak saya yang saat itu sedang bersantai di ruang tengah.

Yogyakarta,  Februari 2019

Baca : Manusia Kuat itu Kita 1

Sabtu, 09 Februari 2019

Mencoba Menulis Fiksi

Selama ini saya jarang menulis cerita fiksi,  karena menurut saya menulis fiksi itu susah sekali.  Nah, kali ini saya mencoba menantang diri sendiri untuk menulisnya. Masih sederhana, sedikit konflik dan dialognya,  tapi tidak apa-apa ya... Namanya juga baru mencoba.  😀

Sumber : canva
Ini kisah sebenarnya faksi, campuran antara fakta dan fiksi,  semoga ada hikmah yang bisa diambil. Sengaja saya jadikan 2 bagian. Takutnya kalau jadi satu kepanjangan dan membosankan. Ok,  yuk dimulai ya... Semoga teman-teman suka,  ditunggu kritik dan sarannya... 😍😍

***

Manusia Kuat itu Kita

Saya kembali terdiam, WA dari seorang teman  membuat saya kehabisan kata. Tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. Teman saya ini bercerita dia (kembali) membatalkan niatnya untuk menggugat cerai suaminya. Dia merasa belum siap jika harus menyandang status janda. Takut dengan gunjingan masyarakat katanya. Padahal, dia masih muda, dan cantik. Karirnya pun melejit. Saya pikir akan lebih mudah bagi dia untuk memutuskan untuk berpisah. Apalagi dia belum punya anak juga.

Hubungannya dengan suaminya bukan hubungan yang sehat. Delapan tahun mereka menikah, jarang sekali mereka kumpul bersama. Bahkan bisa dihitung dengan jari. Itulah sebabnya ketika dia curhat, saya berikan dia kesempatan untuk berpikir sebenarnya apa yang dia cari dari pernikahannya itu. Apakah ketenangan dan kebahagiaan bisa dia dapat ? Kalau tidak sepertinya dia mesti berpikir lagi, akan meneruskan atau mengakhiri pernikahannya.

Sumber : pixabay.com
Meskipun dalam hitungan kertas, dia merasa tidak bahagia dengan pernikahannya, tapi dia masih ragu untuk mengambil keputusan. Bayangan kondisi ibunya dulu yang single parent masih menjadi traumanya. 

Teman saya, sebut saja namanya Vina memang dari keluarga broken home. Orang tuanya cerai saat dia masih duduk di bangku SD. Dan kenangan bagaimana perjuangan ibundanya mencari nafkah dan bertahan di tengah cibiran orang-orang sekitar atas status janda yang disandangnya membekas sekali dalam ingatan. 

Seolah-olah janda adalah sebuah kesalahan besar. Menjadi gunjingan keluarga besar maupun tetangga. Dianggap tidak mampu mengurus suami dan keluarga, dan cap itu melekat selamanya. Menjadikan ibunya pun keras dalam mendidiknya. Termasuk prinsip perempuan harus mandiri dan punya uang sendiri.

Vina tidak secara khusus menjelaskan kenapa kedua orang tuanya bercerai. Tapi kalau secara sepintas menyimak dia bercerita, sepertinya masalah ekonomi yang menjadi kendalanya. Bapak Vina malas bekerja. Bapak Vina hanya mengandalkan penghasilan ibu Vina yang mempunyai usaha dagang di kios kecil warisan keluarga.

Padahal sebagai seorang lulusan STM jurusan mesin banyak hal yang bisa dilakukan Bapak Vina. Banyak tetangga yang meminta bantuan bila ada masalah dengan kendaraannya. Harusnya bapak Vina bisa mendirikan usaha bengkel, tapi itu tidak dilakukannya. Ada saja alasan yang diutarakannya. Hingga membuat ibu Vina kesal, dan ujung-ujungnya menjadi ribut. 

Saya masih merenungkan kembali kisah Vina, ketika tiba-tiba gawai saya berbunyi. Sebuah pesan masuk. Kali ini seorang teman dari salah satu komunitas  yang saya ikuti yang mengirim pesan. Beberapa kali kami bertemu. Orangnya ceria sekali. Tapi siapa sangka kalau dia memiliki cerita yang tidak biasa. Dia adalah Mbak Wuri. Seorang perempuan yang energik sekali.

Pernah bercerai dan memutuskan untuk rujuk kembali. Meskipun tidak lama kemudian dia memutuskan untuk bercerai lagi. Alasan kenapa dia menggugat cerai, ternyata sama dengan alasan pertama sewaktu dia menggugat mantan suaminya dulu.

Sumber : canva
Suaminya kurang perhatian dengan keluarga. Lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Dari ceritanya, dia sebenarnya tidak yakin dengan rujuknya itu, tidak yakin suaminya berubah. Namun lagi-lagi desakan orang sekitar membuat dia menyerah dan memberi mantan suaminya kesempatan. Meskipun hasilnya seperti yang sekarang, dia menggugat cerai lagi. 

Saya yakin, tidak mudah bagi dia menjalani statusnya. Apalagi dia masih muda dan lumayan menarik. Dua kali dia harus bercerai dengan orang yang sama. Stigma negatif mungkin akan gampang melekat kepadanya. Tapi demi sang buah hati dia kemudian bangkit, dan memulai semua dari awal. Mengasah kemampuan memasaknya sehingga menjadi keahlian yang mendatangkan rupiah bagi dirinya. Dia fokus dengan tujuan yang ingin diraihnya. Dan untuk itu dia tidak sendirian. Dia berbagi bebannya kepada orang yang dia anggap sebagai ahlinya. 

Dia memiliki mentor pribadi yang mendampingi. Kegiatan yoga pun rajin dia ikuti, dan hasilnya emosi negatif bisa dia minimalkan. Seluruh energinya dia fokuskan untuk membesarkan usaha kuliner yang dirintisnya. Dalam hal ini dia sudah menemukan passionnya.

Ketika dia jenuh, dia berusaha menyalurkankan dengan mengundang sahabat-sahabatnya untuk memasak bersama dan memodifikasi resep yang dia punya. Hasilnya diapun lupa dengan masalahnya, dan teman-temannyapun memperoleh ilmu baru. Sebuah cara mengalihkan energi negatif yang bagus untuk ditiru. Dia tidak pernah berpikir takut tersaingi. Karena dia yakin rejeki Allah yang mengatur. 

Tiba-tiba "cling", sebuah ide masuk ke dalam pikiran saya.  Saya ingin mempertemukan Vina dan Mbak Wuri. Pasti ketika mereka berdua bertemu dan saling bercerita tentang masalahnya akan banyak nyambungnya. Karena permasalahan mereka hampir sama. Kurang beruntung dalam kehidupan berumah tangga. Meskipun itu belum menjadi endingnya, siapa tahu di masa depan keduanya akan menemukan kebahagiaannya..

Bersambung di : Manusia Kuat Bag 2 


Jumat, 08 Februari 2019

Calendar of Event 2019, sebagai Panduan Berwisata di Yogyakarta

Hari Senin,  tanggal 4 Februari 2019 lalu saya bersama komunitas Genpi  Jogja berkesempatan mengikuti acara Launching Calendar of Event (CoE 2019, yang diselenggarakan Dinas Pariwisata DI Yogyakarta, bertempat di hotel Grand Dafam Rohan, pukul 13.00 - selesai. 
Launching CoE 2019 (doc. Pri) 
Dalam acara tersebut berbagai event seni dan budaya dari seluruh Kabupaten dan kotamadya di Yogyakarta akan direlease dan dipromosikan,  sebagai bagian dari agenda wisata di Yogyakarta.  

Peluncuran CoE 2019 ini bertujuan untuk memberikan informasi penyelenggaraan event secara lengkap kepada wisatawan yang akan berkunjung ke DIY sehingga mereka dapat mengatur jadwal liburan dengan lebih baik. Disamping itu juga untuk memperkenalkan Calendar of Event  Wisata DIY kepada khalayak luas dan mensinergikan penyelenggaraaan event di Provinsi dengan Kabupaten/Kota serta SKPD di lingkungan Pemda DIY

Acara diawali dengan makan siang bersama.  Aneka hidangan lezat unggulan dari Grand Dafam disajikan dan memanjakan para tamu undangan, termasuk saya. Sekitar pukul 13.15 WIB tamu undangan mulai memasuki ballroom. Ada sekitar 200 tamu undangan yang datang, yang terdiri dari pejabat pemerintahan pada SKPD terkait, stakeholder pariwisata DIY seperti ASITA, PHRI, HPI, GENPI juga komunitas pariwisata dan pemerhati dan pelaku pariwisata lainnya. Hadir pula Gubernur DI Yogyakarta yang diwakili oleh Wakil Gubernur Sri Paduka Pakualam X.  

Acara yang dipandu oleh MC Anang Batas dan Arin ini berlangsung dengan meriah. Diawali dengan doa bersama dan menyanyikan lagu Indonesia  Raya, dilanjutkan laporan dari penyelenggara CoE 2019 yang disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata DIY,  Ir.  Singgih Raharjo,  M. Pd. 

Dalam sambutannya,  Bapak Singgih berharap peluncuran Calendar of Event Wisata 2019 dapat menjadi penyokong perekonomian DIY, sebagai upaya pemasaran untuk mengenalkan pariwisata Yogyakarta. Dimana tahun ini, target kunjungan wisatawan ke DIY adalah sebanyak 5.926.228 orang yang terdiri dari 498.410 orang wisatawan mancanegara dan 5.427.818 orang wisatawan nusantara.

Peluncuran CoE DIY (doc. Genpi Jogja) 
Dengan semakin meningkat dan membaiknya akses dan amenitis serta dukungan atraksi/even yang semakin berkualitas diharapkan target tersebut dapat tercapai.  Selain jumlah kunjungan, lama tinggal atau Length of Stay (LOS) wisatawan juga diharapkan dapat meningkat. Sehingga dapat menciptakan permintaan pasar (belanja) yang berimbas pada perekonomian masyarakat.

Sedangkan Gubernur DIY dalam sambutannya yang dibacakan oleh Wagub Sri Paduka Pakualam X menyampaikan kedudukan penting dari sektor pariwisata sebagai pilar pembangunan nasional yang dapat meningkatkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, termasuk di Yogyakarta.

Ekonomi masyarakat Yogyakarta sangat didukung oleh bisnis pariwisata. Daya tarik Yogyakarta terletak pada tradisi kehidupan masyarakatnya yang adiluhung dan keberadaan kraton dengan kegiatan ritualnya. Disamping itu juga banyaknya peninggalan purbakala seperti candi-candi yang terdapat disekitar kota Yogyakarta

Sehingga peluncuran CoE 2019 DI Yogyakarta ini merupakan momentum yang baik dalam menciptakan akselerasi pembangunan ekonomi kreatif serta pariwisata Indonesia khususnya Yogyakarta.

Ditandai dengan pemukulan jimbe yang dilakukan oleh Wakil Gubernur DIY Sri Paduka Pakualam ke X didampingi Kepala Dinas Pariwisata DIY,  perwakilan dari Kementerian Pariwisata RI, Ketua PHRI, dan Ketua Asita DIY, Launching Calendar Of Event (CoE) 2019 DIY resmi dilakukan. 

Saya bersama teman-teman dari Genpi Jogja (doc. Genpi Jogja) 
Dalam CoE 2019 yang dilaunching ini terdapat 47 event yang akan diselenggarakan di Yogyakarta, yang terdiri dari Event of Destination sebanyak 10 kegiatan,  event komunitas ada 12 kegiatan, seni budaya 14 kegiatan, dan sport ada 11 kegiatan. Adapun berdasar lokasi atau penanggung jawab kegiatan terdapat 18 event yang digelar di kota Yogyakarta, 8 event di Bantul,  di Kulon Progo ada 4 event,  Gunung Kidul 7 event, dan Sleman 9 event. Sedangkan event yang pelaksanaannya menjadi tanggung jawab lintas kabupaten ada satu. 

Event-event tersebut menjadi primadona dan banyak ditunggu-tunggu para wisatawan. Sebagai warga Yogyakarta sudah sepatutnya kita berbangga. Karena dari 47 event yang ada, terdapat 3 event yang masuk dalam CoE 2019 Kemenpar, dan masuk kategori internasional. Yakni ArtJog,  Jogja International Heritage Walk (JIHW), dan Jogja International Performance Street (JISP).

3 event Jogja yang masuk Coe Kemenpar 2019
Secara rinci Calendar of Event DIY adalah sebagai berikut :

Agenda wisata DIY,  sumber : visitingjogja.com

Jadi, bagi teman-teman yang berencana piknik ke Jogja,  simak panduan penyelenggaraan event-event di atas ya...jangan sampai event yang diminati terlewati...
Salam... 

Baca juga :