...

Berisi cerita dan pengalaman sehari-hari yang mudah-mudahan menginspirasi...

Friday, October 23, 2020

Buku Pulih dan Kesadaran Mental Health di Masyarakat

Buku pulih dan bincang pulih
Grand Launching Buku Pulih (doc. IIDN)


"Your trauma is not your fault, but healing from it is your responsibility"

(Ruang Pulih)


Tanggal 17 Oktober 2020 lalu saya berkesempatan menghadiri acara Bincang Pulih yang diselenggarakan oleh Ruang Pulih dan IIDN (Ibu-Ibu Doyan Nulis). 


Dalam acara tersebut selain dibahas mengenai pentingnya kesehatan mental, juga sekaligus dilakukan launching buku antologi berjudul Pulih. 


Buku ini digagas oleh Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) yang diketuai oleh Mbak Widyanti Yuliandari yang akrab disapa Mbak Wid. Dalam acara ini Mbak Wid juga bercerita behind the scene proses terbitnya buku pulih. 


Buku pulih
Buku Pulih (doc. IIDN)

Oh ya, apa yang terlintas di benak teman-teman ketika mendengar kata pulih?  Kalau saya langsung membayangkan orang sakit yang sudah sembuh dengan paripurna, sehingga kondisinya sudah kembali seperti semula.


Mari kita lihat di KBBI. Menurut KBBI, pulih diartikan sebagai kembali (baik, sehat) seperti semula; sembuh atau baik kembali (tentang luka, sakit, kesehatan); menjadi baik (baru) lagi.


Jadi pulih memang identik dengan kondisi seseorang yang membaik setelah mengalami sakit yang dialami.


Tampaknya ini pula yang ingin disampaikan oleh para kontributor Buku Pulih ini. Bahwa para penulis buku antologi Pulih ini telah sembuh dari luka atau sakit batin yang pernah mereka rasakan dalam perjalanan hidup mereka. 


Dan siap untuk menyongsong hidup yang lebih baik dan ceria, lepas dari bayang-bayang masa lalu.


Buku yang ditulis oleh 25 blogger wanita ini sangat menarik untuk disimak. Apalagi buku ini terbit di bulan Oktober. Bulan di mana peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia diperingati setiap tanggal 10. 


Sehingga bahasan tentang kesehatan mental (mental heatlh) ini sedang mengemuka dan baru hangat-hangatnya.


Fakta tentang Kesehatan Mental

Dalam perjalanan hidup kita, tentu kita pernah terluka. Baik luka fisik maupun luka batin. Dan semuanya butuh penanganan agar sembuh.


Sayangnya selama ini masyarakat kita lebih peduli dengan luka fisik. Tapi luka batin sering terabaikan karena tidak terlihat. 


Sehingga kita membiarkan orang yang mengalaminya berjuang sendirian Padahal efek dari luka batin ini bisa berkepanjangan. 


Dalam Bincang Pulih ini, pendiri Ruang Pulih Intan Maria Halim menyatakan, menurut WHO, satu dari 4 orang di dunia akan mengalami gangguan mental setidaknya 1 kali dalam fase kehidupannya.


Materi ruang pulih
Tentang Mental Healthy (sumber : Ruang Pulih)

WHO menyampaikan sekitar 450 juta orang mengalami gangguan mental dan hampir 1 juta orang melakukan bunuh diri setiap tahunnya.


WHO juga memublikasikan bawa depresi diperkirakan akan menjadi penyebab kedua kelumpuhan dan kematian dan menjadi beban nomor satu pada tahun 2030 (pijar psikologi). Fakta yang cukup mengerikan ya.


Lantas bagaimana kondisi di Indonesia? Menurut riset kesehatan dasar 2013 prevalensi gangguan berat di Indonesia mencapai 1,7 per mil. Artinya 1-2 orang dari 1000 orang di Indonesia mengalami gangguan jiwa berat. 


Mental healthy ruang pulih
Sumber : Ruang Pulih

Dr. Eka Viora, Sp.KJ selaku Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kemenkes RI menyatakan pengobatan gangguan jiwa di Indonesia mengalami kesenjangan sebesar lebih dari 90%. 


Hal tersebut berarti kurang dari 10% orang yang mengalami gangguan jiwa mendapat layanan terapi oleh petugas kesehatan. Sungguh memprihatinkan. 


Latar Belakang Lahirnya Buku Antologi Pulih

Tidak bisa dipungkiri, kesadaran tentang mental health di kalangan masyarakat kita memang tidak terlalu tinggi. Banyak yang masih abai dengan pentingnya kesehatan mental.


Menurut Wikipedia, kesehatan jiwa atau kesehatan mental diartikan sebagai tingkatan kesejahteraan psikologis atau ketiadaan gangguan jiwa pada diri seseorang. 


Kesehatan jiwa sendiri dibedakan menjadi beberapa kategori. Yakni dalam 'kondisi sehat', 'atau terdapat gangguan kecemasan', 'stres', dan 'depresi'. 


Kesehatan mental dipengaruhi oleh beberapa hal. Salah satunya akibat dari suatu peristiwa dalam kehidupan yang meninggalkan dampak yang besar pada kepribadian dan perilaku seseorang. 


Peristiwa-peristiwa tersebut dapat berupa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pelecehan anak, atau stres berat jangka panjang.


Seseorang yang mengalami masalah batin butuh curhat sebagai pelampiasan. Namun sering terjadi curhat tidak dilakukan  dijalur yang benar. Sehingga bukan menyesaikan masalah, tapi justru menambah persoalan.


Berawal dari mengamati tulisan di status media sosial para member IIDN yang kadang berisi keluhan atau nyinyiran, menggugah keinginan Mbak Wid untuk membantu para membernya melalui komunitas yang dikelolanya.


Ruang pulih
Widyanti Yuliandari, Ketua IIDN (doc. Nyi Penengah)

Tidak bisa dipungkiri, tulisan adalah jendela jiwa dari penulisnya. Tulisan bernada keluhan atau nyinyiran yang sering ditulis seseorang, menunjukkan adanya letupan emosi yang berasal dari persoalan yang dihadapi.


Inilah yang mendorong Mbak Wid untuk membuat sebuah proyek kerjasama berupa penulisan buku antologi yang dapat membantu para penulisnya untuk "pulih" dari luka batin yang dialaminya. Sehingga siap menyongsong masa depan yang lebih bahagia.


Hal ini juga sejalan dengan program kerja dari Divisi Buku Komunitas IIDN. Sehingga singkat cerita diputuskanlah untuk membuat sebuah buku kumpulan antologi yang bertemakan mental illness.


Penulisan buku ini tentu membutuhkan effort yang besar. Karena menyangkut luka, maka efek yang ditimbulkan untuk setiap penulis tentu berbeda-beda. 


Karena itulah Mbak Wid memandang perlu dihadirkannya pendamping psikologi yang mengawal penulisan buku ini. 


Akhirnya dirangkullah Mbak Intan Maria Halim founder Ruang Pulih yang kemudian mengajak dr. Maria Rini, Sp.KJ dari RSJD Surakarta untuk mendampingi para penulis berproses. 


Dalam perjalannya, proses penulisan buku ini tidak mudah. Banyak penulis yang terpaksa mengundurkan diri karena tidak cocok dengan metodenya.


Memang membuka kenangan pahit di masa lalu tidak mudah. Butuh keberanian dan keterbukaan dari personilnya sehingga tidak bisa dipaksa. 


Harapan dari Mbak Wid, buku Pulih yang resmi di-launching ini dapat memberi kontribusi kepada pembaca dan semua yang terlibat di dalamnya.


Satu hal yang membanggakan, meskipun baru resmi di-launching, namun buku ini memperoleh respon yang luar biasa. 


Lebih dari 250 eks habis untuk PO yang pertama. Dan kali ini sedang dibuka PO yang kedua. Jika teman-teman berminat, teman-teman dapat memesannya. Informasi lebih rinci bisa di cek di instagram IIDN


Pre order buku pulih
Open PO batch 2 (sumber : Ig IIDN)

Sebagai bocoran, salah satu kisah menyentuh yang terdapat dalam buku ini adalah tentang perjuangan seorang ibu dengan 4 putra yang ditinggal selama-lamanya oleh suami tercinta.


Sesuatu yang membuat jiwa terguncang dan menimbulkan luka yang mendalam. Namun akhirnya sang ibu perkasa itu dapat bangkit dan menjalani hari-harinya sebagai ibu tunggal dengan penuh semangat dan siap menyambut hari baru yang lebih baik lagi.


Bagaimana tahapan dan proses yang dialami ibu tersebut sehingga dapat bangkit dari keterpurukan? Semua dijelaskan dalam buku Pulih bersama 24 kisah inspiratif lainnya.


Cerita dari Para Pedamping Buku Pulih

Seperti saya tuliskan di atas, dalam proses menulis kisah untuk buku pulih ini, para kontributor tidak dilepas sendirian. Mereka menperoleh pendampingan psikologis dari Mbak Intan dan Dr. Maria Rini, Sp.K.J.  Dan berikut cerita dari para pendamping.


1. Dr. Maria Rini, Sp. K.J (Psikiater)

Dalam sambutannya, Dr. Maria Rini, Sp.K.J mengatakan sangat mengapresiasi kerja keras dari para penulis buku ini. Selama satu bulan berproses mendampingi para kontributor, Dr. Maria mengatakan bahwa buku ini juga sekaligus menjadi terapi bagi para penulisnya. 


Kehadiran buku ini menjadi bukti peran komunitas dalam kesehatan jiwa. Komunitas merupakan kumpulan orang yang memiliki ketertarikan yang sama. Di dalam komunitas rasa senasib sepenanggungan lebih terasa. 


Pendamping buku pulih
dr. Maria Rini, Sp. K.J.

Selama ini perempuan adalah pihak yang rentan stress karena banyak problema yang dihadapi. Sehingga berkomunitas bagi perempuan sangat penting. 


Problem perempuan kebanyakan berkaitan dengan kodratnya sebagai perempuan yang mengalami fase mengandung, melahirkan, dan menyusui. 


Trauma masa kecil yang dialami kadang terbawa hingga dewasa. Dan hal tersebut dapat berpengaruh ke fase kehidupan selanjutnya. Apalagi jika ada faktor pemicu yang dapat mengingatkannya pada trauma masa lalu. 


Dr. Maria menyatakan buku pulih ini merupakan bentuk kesadaran dari para penulisnya bahwa :

1). Mereka mempunyai hak untuk memperoleh kesehatan mental yang lebih baik untuk meraih kebahagiaan. 

2). Mereka harus bangkit dari keterpurukan dan trauma sehingga dapat bahagia dan melanjutkan hidupnya.


2. Ibu Intan Maria

Sedangkan Ibu Intan, founder sekaligus konselor di Ruang Pulih, dalam paparannya menekankan perlunya self healing dan self care untuk mengatasi masalah yang dialami.


Konselor ruang pulih
Ibu Intan, Founder dan Konselor Ruang Pulih

Dalam mendampingi para kontributor Buku Pulih, Ibu Intan menggunakan metode art therapy yakni dengan mewarnai mandala self love.


Mewarnai mandala merupakan bagian dari self healing yang mengajarkan kita untuk mindfulness


Mindfulness adalah momen kesadaran di mana kita berlatih membawa perhatian penuh untuk apapun yang kita lakukan pada saat itu.


Dengan cara ini kita belajar untuk mengatasi keruwetan yang ada dan hadir saat ini. Menikmati keberagaman warna dalam kehidupan. 


Sangat penting bagi kita untuk memisahkan masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.


Mewarnai mandala self love ini membantu kita pause dari segala kesibukan dan hadir penuh untuk mengekspresikan emosi dan warna. Cara ini merupakan upaya untuk recharge energi.


Art therapy di Ruang Pulih
Hasil mewarnai mandala oleh pesera Bincang Pulih (sumber : WAG Bincang Pulih)

Cukup unik memang pengerjaan dari buku Pulih ini. Karena melibatkan kenangan tidak menyenangkan di masa lalu, maka penulisannya pun butuh proses dan waktu yang panjang.


Ibu Intan berharap buku Pulih ini mampu memberi vibrasi positif bagi sesama perempuan.


Bu Intan juga menegaskan bahwa traumamu bukanlah kesalahanmu. Namun sembuh dari trauma adalah tanggung jawabmu.


Jadi bagaimana, siap untuk pulih? Ruang Pulih dan Buku Pulih siap membantu.


Kelas di ruang pulih
Kelas yang dibuka di ruang pulih

Semoga informasi ini bermanfaat ya. . 

18 komentar:

  1. Bukunya menarik banget nih apalagi tentang kesehatan mental, pasca melahirkan tuh aq ngerasain banget perubahan mental setelah punya anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul..bisa menjadi pengingat dan penyemangat bahwa yang mengalami masalah itu tidak cuma kita saja.

      Delete
  2. Kesehatan mental memang penting banget diupayakan apalagi pada masa pandemi ini. Your trauma is not your fault, but healing from it is your responsibility .... kalau trauma dibawa2, bis angefek ke orang lain makanya memang tanggung jawab masing2 ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, yang paling merasakan efeknya adalah adalah keluarga inti kita. Orang-orang terdekat kita

      Delete
  3. bagian ini, "Seseorang yang mengalami masalah batin butuh curhat sebagai pelampiasan. Namun sering terjadi curhat tidak dilakukan dijalur yang benar. Sehingga bukan menyesaikan masalah, tapi justru menambah persoalan." I totally agreed

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dan sayangnya masih banyak yang milih curhat di jalur yang kurang tepat..

      Delete
  4. aku jadi pengen beli dan baca bukunya, kayanya bagus untuk personal healing dari past trauma ya

    ReplyDelete
  5. Menarik baca di balik layar proses pembuatannya. Semoga bermanfaat bagi para pembacanya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kita jadi bisa membayangkan sulitnya, dan lebih menghargai hasil karyanya.

      Delete
  6. Senang rasanya kesehatan mental semakin banyak yang membahas. Karena selama ini, pendapat orang tentang sakit adalah sakit fisik. Padahal mental juga penting banget untuk sehat.

    ReplyDelete
  7. Disaat membaca buku PULIH semoga bisa memberikan insiprasi dan semangat baru khususnya bagi kaum wanita

    ReplyDelete
  8. Traumamu bukan kesalahanmu, namun sembuh dari traumamu adalah tanggung jawabmu.

    Saya jadi tergoda untuk bisa membaca buku Pulih ini secara lebih lengkap.

    ReplyDelete
  9. Efek luka batin akibat mental health jarang terlihat, padahal seperti ada belatung yang dengan cepat menghabiskan stok bahagia. Saya penasaran dengan terapi yang dipakai teman-teman di buku pulih ini

    ReplyDelete
  10. Wah sepertinya bukunya menarik nih, penting dibaca terutama yang mengalami mental illness supaya lekas recovery....

    ReplyDelete
  11. Keren bukunya. Jadi kepengen baca deh. Kepengen tahu banyak tentang kesadaran mental. Soalnya aku sendiri sering ngerasa aneh dengan diri sendiri. Udah ada PO?

    ReplyDelete
  12. Kesehatan mental memang penting tapi sering diabaikan. Yang cerita di sini berhasil sembuh ya?

    ReplyDelete
  13. Bener sih, pulihnya kesehatan mental lebih sulit dibanding kesehatan fisik. Salut, atas buku Antologi, Pulih ini.

    ReplyDelete

 
Top