Sisi Lain Sejarah Epidemi HIV dan AIDS di Indonesia (bag. 2)

diskusi ruang publik KBR dan YKIS tentang HIV dan AIDS
Sisi lain sejarah Epidemi HIV dan AIDS di Indonesia (sumber : Youtube KBR)

Masih lanjutan dari diskusi ruang publik yang diadakan oleh YKIS bersama dengan KBR dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember. Kali ini KBR dan YKIS kembali membahas sisi lain sejarah HIV dan AIDS di Indonesia. Dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Samsuridjal Djauzi, Sp.PD-KAI (Anggota Badan Pembina YKIS) dan Asti Septiana (seorang ODHIV, yang tinggal di Yogyakarta). 

Acara ini disiarkan secara langsung melalui 100 jaringan radio KBR yang ada di seluruh Indonesia pada hari Kamis, 16 Desember 2021 pukul 09.00 -10.00 WIB. Acara ini juga bisa disimak melalui channel Youtube Berita KBR. 

Mengawali diskusi, Rizal Wijaya selaku host menyampaikan informasi terkait target penanganan HIV dan AIDS di Indonesia. Di mana pemerintah melalui lembaga terkait memiliki target Indonesia bebas HIV dan AIDS di tahun 2030 nanti.

Rizal Wijaya dari KBR bersama para nara sumber
Rizal Wijaya (host) dan para narasumber (sumber : Youtube KBR)

Berbagai upaya dilakukan, diantaranya melalui strategi fast track 95-95-95. Yang meliputi :

  • target pencapaian 95% orang mengetahui status HIV melalui test atau deteksi dini.
  • target 95% orang yang terdeksi HIV memperoleh terapi atau pengobatan dengan Antirestroviral (ARV)
  • target 95% orang dengan HIV yang diterapi berhasil menekan jumlah virusnya sehingga menekan potensi penularan. 

Namun sayangnya, strategi fast track tersebut baru mencapai target sekitar 75% saja. Oleh karena itu dalam rangka hari AIDS sedunia, YKIS sebagai salah satu lembaga yang concern terhadap penanggulangan dan penanganan HIV dan AIDS merasa perlu kembali menggaungkan kampanye tentang HIV dan AIDS ini. 

Sejarah dan Penanganan HIVdanAIDS di Indonesia

Sebagai narasumber pertama, Prof. Samsuridjal mengatakan, "Meskipun belum mencapai target seperti yang diharapkan, namun penanganan HIV dan AIDS di Indonesia berjalan dengan baik. Dan ini harus disyukuri. Karena untuk penanggulangan AIDS dan HIV ini perlu kerjasama berbagai pihak. Dalam hal ini pemerintah, perguruan tinggi, lembaga masyarakat, termasuk para ODHIV dan ODHA itu sendiri."

Prof. Samsuridjal juga menceritakan sejarah penemuan kasus HIV dan AIDS di Indonesia, yang berawal dari pelaporan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di tahun 1986. Setelah itu banyak bermunculan LSM peduli HIV-AIDS. 

Seperti di tahun 1989 muncul LSM Pelita Ilmu, kemudian juga di Bali ada LSM Citra Husada. Ini artinya sebelum pemerintah punya program dan kebijakan terkait HIV dan AIDS masyarakat telah bergerak terlebih dahulu.

Prof. Samsuridjal dari YKIS
Prof. Dr. dr Samsuridjal Dzauzi, Sp.PD-KAI (sumber : Youtube KBR)

Pada tahun 1997, obat untuk HIV yakni Antirestroviral (ARV) sudah ditemukan. Namun waktu itu di Indonesia masih susah diperoleh, karena harganya yang mahal. Di mana dibutuhkan dana $1000 untuk pengadaan obat untuk setiap orang perbulannya. 

Oleh karena itu, negara-negara yang masih miskin meminta WHO menyediakan obat ARV ini secara gratis, dan baru direalisasikan pada tahun 2005. 

Indonesia sendiri sudah mulai menggunakan ARV sejak tahun 2002 dengan membeli yang generik. Adanya ARV ini memberi perubahan terhadap penanganan pasien HIV dan AIDS di Indonesia. 

Kalau dulu sebelum ada ARV, orang dengan HIV dan AIDS sudah divonis umurnya tinggal beberapa bulan lagi. Sehingga penanganan untuk penderita HIV dan AIDS adalah dengan membuatkan shelter buat mereka. 

Adanya ARV ini memberikan harapan hidup bagi orang dengan HIV. Karena ARV mampu menghambat pertumbuhan virus HIV dalam tubuh penderita. Sehingga virus tidak mempunyai kemampuan untuk menghancurkan daya tahan tubuh. 

Itulah sebabnya penderita HIV tetap dapat beraktivitas normal tanpa keluhan sakit, dan tidak berpotensi menularkan penyakitnya kepada orang lain. Dengan syarat tidak boleh putus mengkonsumsi obat.

Penanganan HIV dan AIDS di Indonesia, tergolong baik. Karena banyak kebijakan pemerintah yang menguntungkan dan memudahkan pasien HIV untuk memperoleh obat. Misalnya saja :

  1. Tahun 2004, melalui Kimia Farma, pemerintah memutuskan untuk memproduksi obat ARV sendiri. Hal ini menyebabkan ketersediaan ARV lebih terjamin. 
  2. Tahun 2005, pemerintah memutuskan untuk memberi subsidi penuh untuk pengobatan HIV. Sehingga ARV bisa diperoleh secara gratis.

Sementara itu untuk mengantisipasi penularan dan sebagai langkah pencegahan, YKIS sering mengadakan webinar dengan target para remaja yang memiliki rasa ingin tahu yang besar. Agar mereka paham berbagai perilaku berisiko yang berpotensi menjadi penyebab penularan HIV dan AIDS.

Selain itu bagi golongan dewasa yang sudah melakukan kegiatan seksual secara aktif, YKIS juga melakukan kampanye untuk menerapkan hidup minim risiko guna mencegah penularan. Seperti penggunaan alat kontrasepsi dan juga meminum obat ARV bagi pasangan suami istri yang salah satu dari mereka memiliki risiko terpapar HIV/ AIDS.

Yang perlu digarisbawahi, HIV dan AIDS ini memiliki cara penularan yang spesifik. Yakni melalui hubungan seksual dan kontak darah. Misalnya bergantian menggunakan jarum suntik pada pengguna narkoba, atau karena tranfusi. Jadi penyakit HIV dan AIDS penularannya tidaklah mudah. Hal ini perlu dipahami agar tidak memunculkan stigma di masyarakat.

Stigma Bagi ODHIV

Sementara itu Asti Septiana seorang ODHIV (Orang Dengan HIV) yang dihadirkan dalam diskusi ini juga menceritakan pengalamannya. Ibu Asti didiagnosa HIV pada tanggal 11 Juni 2011. Dia tertular dari suaminya yang kebetulan pengguna narkoba suntik. 

Asti Septiana, seorang ODHIV dari Yogya
Asti Septiana, ODHIV (sumber : Youtube KBR)

Bu Asti menyampaikan, bagaimanapun keadaannya dia tetap bersyukur. Karena ketika didiagnosa positif HIV, obat untuk HIV yaitu ARV sudah ada dan mudah didapat. Sehingga sampai sekarang Bu Asti dan suaminya masih dapat beraktivitas normal seperti biasa. 

Bu Asti mengatakan untuk menanggulangi HIV dan AIDS, masyarakat harus paham dan mampu membedakan apa itu HIV dan AIDS, bagaimana cara pengobatan, penularan, dan pencegahannya. Sehingga dengan pemahaman yang benar, tidak lagi muncul stigma. 

Selain itu Bu Asti juga berharap, HIV dan AIDS jangan selalu dihubungkan dengan moral seseorang. Karena belum tentu yang terkena HIV dan AIDS itu tidak setia atau berperilaku seks yang menyimpang.

Bu Asti juga mengatakan berdasar pengalamannya, untuk menghindari stigma hal yang bisa dilakukan adalah terbuka dan memberikan pemahaman utamanya  kepada keluarga. Karena keluarga adalah support system yang penting. Kemudian baru setelah itu terbuka dengan lingkungan, dan terima kondisi kita dengan ikhlas.

Sementara Prof. Samsuridjal mengatakan, "Stigma terjadi akibat ketidaktahuan. Dan itu bisa datang dari masyarakat awam atau pejabat. Sehingga kunci untuk menghilangkan stigma adalah penyuluhan dan edukasi tentang HIV dan AIDS itu sendiri."

Yang terpenting menurut Prof. Samsuridjal, bagi masyarakat yang berisiko terkena HIV, jangan ragu untuk memeriksakan diri. Jika terdiagnosa positif segera lakukan pengobatan, dan cari support system yang dapat mendukung proses pengobatan yang dilakukan. Demikian tutupnya mengakhiri diskusi. 

Jadi yuk bersama-sama bersinergi, agar di tahun 2030 nanti masyarakat semakin sehat dan Indonesia bisa bebas HIV dan AIDS. Semoga artikel ini bermanfaat ya... 

Sapti nurul hidayati
Saya seorang ibu rumah tangga dari Yogya. Blog ini saya buat untuk tempat berbagi cerita dan pengalaman tentang apa saja. Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari tulisan saya. Untuk kerjasama, silakan kontak ke saptinurul (at) gmail.com

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter